Site icon JABARBICARA.COM

Mahasiswa Kepung DPRD Garut: Negara Dinilai Gagal, Tuntut Bubarkan DPR RI dan Reformasi Polri

oppo_0

GARUT, JABARBICARA.COM – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Garut turun ke jalan dan mengepung Gedung DPRD Kabupaten Garut, Jumat (29/08/2025). Mereka datang dengan suara lantang, menuding pemerintah, kepolisian, hingga lembaga legislatif baik pusat maupun daerah telah gagal menjalankan amanat konstitusi dan lebih tunduk pada kepentingan elit ketimbang jeritan rakyat kecil.

Dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa menyebut aksi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk perlawanan atas kegagalan negara. “Aksi ini bukan sekadar rutinitas turun ke jalan, tapi refleksi nyata dari kegagalan kebijakan negara yang makin jauh dari denyut nadi masyarakat,” tegas Korlap Azhar Gifari di hadapan massa aksi.

Tuntutan Mengguncang: Bubarkan DPR RI, Reformasi Polri

Gerakan ini tidak main-main. Mahasiswa melayangkan sederet tuntutan keras, di antaranya:

1. Mendesak DPRD Garut menyuarakan pembubaran DPR RI.

2. Menuntut pembubaran Polri dan Polda Metro Jaya yang dianggap sarat praktik represif.

3. Menuntut reformasi menyeluruh kepolisian, termasuk penindakan tegas terhadap aparat pelanggar hukum.

4. Menolak segala bentuk tindakan represif terhadap rakyat.

5. Mendesak transparansi penanganan kasus tewasnya pengemudi ojek online di Jakarta.

6. Meminta DPRD membuat nota komisi untuk disampaikan langsung ke pimpinan.

7. Mengawasi ketat implementasi Perda RTRW dan LP2B yang rawan diselewengkan.

8. Mendesak DPRD Garut menggelar Mimbar Bebas bersama mahasiswa, pemuda, dan masyarakat pada 5 September 2025.

9. Menuntut setiap fraksi DPRD menyatakan sikap tegas soal pembubaran DPR RI.

Mahasiswa: Kami Bukan Musuh Negara

Dalam orasinya, mahasiswa menegaskan gerakan mereka bukanlah bentuk permusuhan terhadap negara. Sebaliknya, mereka hadir sebagai kekuatan moral yang mengingatkan pemerintah agar tidak salah arah.

“Mahasiswa bukan musuh negara. Kami adalah kekuatan moral dan intelektual yang sejak dulu selalu berdiri di garda terdepan menjaga nurani rakyat,” ujar Azhar.

Ia menegaskan, sejarah telah membuktikan mahasiswa selalu hadir ketika negara abai terhadap rakyat—mulai dari perlawanan terhadap kolonialisme, reformasi 1998, hingga aksi-aksi kritis hari ini.

Ancaman Gelombang Aksi Lebih Besar

Mahasiswa memastikan bahwa aksi ini bukan akhir. Jika tuntutan mereka diabaikan, gelombang demonstrasi berikutnya akan datang dengan massa lebih besar dan suara lebih lantang.

“Suara kami mungkin dianggap bising, tapi kebisingan ini lahir dari diamnya para pemimpin yang tak lagi peka terhadap rakyat. Jika tuntutan diabaikan, kami pastikan gerakan mahasiswa akan semakin masif,” tegas Azhar.

Aksi ditutup dengan pekikan lantang yang mengguncang halaman DPRD:
“Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!” [JB]

Exit mobile version