Site icon JABARBICARA.COM

Indonesia Sedang Menguji Teori Baru Koperasi Dunia

BANDUNG,JABARBICARA.COM
Indonesia tengah memasuki babak baru dalam sejarah pembangunan ekonomi kerakyatan. Pembentukan lebih dari 83 ribu Koperasi Desa Merah Putih di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)  bukan sekadar program administratif atau agenda pembangunan Desa biasa. Ini adalah sebuah eksperimen kelembagaan berskala Nasional yang berpotensi mengubah wajah gerakan koperasi, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah koperasi modern, negara hadir dalam skala yang begitu besar sebagai penggerak utama pembentukan koperasi. Pemerintah tidak hanya berperan sebagai regulator atau fasilitator, melainkan ikut membangun fondasi kelembagaan melalui regulasi, pembiayaan, infrastruktur, hingga dukungan distribusi ekonomi desa. Jika berhasil, Indonesia bukan hanya sedang membangun koperasi, tetapi juga sedang menciptakan paradigma baru dalam teori koperasi dunia.

Selama ini, teori koperasi klasik selalu menempatkan koperasi sebagai gerakan ekonomi yang harus tumbuh dari bawah (bottom-up), lahir dari kebutuhan anggota, bersifat otonom sejak awal, dan minim campur tangan negara. Dalam banyak pengalaman internasional, intervensi negara yang terlalu dominan bahkan dianggap berisiko memunculkan ketergantungan, birokratisasi, serta melemahkan demokrasi internal koperasi. Namun, Koperasi Desa Merah Putih justru hadir dengan pendekatan berbeda.
Indonesia sedang menguji sebuah model

baru yang dapat disebut sebagai top-down initiation and bottom-up maturation. Dalam model ini, negara membangun pondasi awal kelembagaan koperasi, sementara masyarakat desa dan anggota koperasi diharapkan secara bertahap memperkuat partisipasi, rasa memiliki, serta demokrasi ekonomi dari dalam.
Artinya, kemandirian koperasi tidak lagi diposisikan sebagai syarat awal, melainkan sebagai tujuan akhir yang ingin dicapai melalui proses penguatan bertahap.

Jika pendekatan ini berhasil, dunia mungkin perlu melihat ulang teori koperasi yang selama ini dianggap mapan. Indonesia dapat membuktikan bahwa negara tidak selalu menjadi ancaman bagi koperasi, tetapi justru bisa menjadi arsitek awal pembangunan ekonomi rakyat selama koperasi tetap diarahkan menuju kemandirian yang sehat dan demokratis.

Gagasan tersebut sejatinya memiliki akar kuat dalam sejarah pemikiran bangsa. Soekarno sejak awal memandang koperasi sebagai alat perjuangan ekonomi rakyat dan perlawanan terhadap kapitalisme yang menindas. Sementara Mohammad Hatta menempatkan koperasi sebagai sekolah demokrasi ekonomi yang bertumpu pada kesadaran, partisipasi, dan solidaritas anggota.

Koperasi Desa Merah Putih kini berdiri di persimpangan dua gagasan besar tersebut: negara sebagai penggerak dan rakyat sebagai pemilik utama kekuatan ekonomi.
Namun, jalan menuju keberhasilan tentu tidak mudah.
Sejarah menunjukkan banyak koperasi gagal berkembang karena terlalu bergantung pada negara, dikuasai elite tertentu, kehilangan partisipasi anggota, atau hanya hidup sebagai proyek administratif tanpa aktivitas ekonomi yang nyata. Risiko yang sama tetap mengintai Koperasi Desa Merah Putih.
Tanpa pendidikan anggota yang kuat, tata kelola yang sehat, transparansi keuangan, serta demokrasi internal yang berjalan baik, koperasi dapat kehilangan ruhnya sebagai gerakan ekonomi rakyat. Koperasi hanya akan menjadi papan nama tanpa kekuatan ekonomi yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.

Karena itu, ukuran keberhasilan program ini bukan terletak pada banyaknya koperasi yang dibentuk, melainkan sejauh mana masyarakat desa benar-benar merasa memiliki, terlibat aktif, dan memperoleh manfaat nyata dari keberadaan koperasi tersebut.
Jika Indonesia mampu melewati tantangan itu, dampaknya bisa sangat besar. Desa dapat tumbuh menjadi pusat ekonomi baru, distribusi kesejahteraan menjadi lebih adil, UMKM dan petani memperoleh kekuatan kolektif, serta ketergantungan terhadap tengkulak dan kapital besar dapat dikurangi secara bertahap.

Lebih dari itu, Indonesia berpotensi menjadi laboratorium koperasi terbesar di dunia. Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pengguna teori koperasi internasional, tetapi mampu melahirkan model baru yang lahir dari pengalaman pembangunan desa, transformasi ekonomi rakyat, dan pengorganisasian koperasi dalam skala nasional.

Pada akhirnya, pertaruhannya bukan hanya soal keberhasilan program pemerintah. Ini adalah pertanyaan besar tentang masa depan ekonomi Indonesia: apakah Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi revolusi ekonomi kerakyatan yang menginspirasi dunia, atau sekadar proyek besar negara yang kehilangan ruh koperasi?
Jika berhasil, dunia mungkin benar-benar harus menulis ulang teori koperasi.


Penulis:
Yakimsya Ahmad
Majelis Pakar DEKOPINWIL Jabar, Ketua FORGAKI Jabar, Dewan Pengawas KKB IU COOP IKOPIN University.

Exit mobile version