Site icon JABARBICARA.COM

“Panik di Pangandaran? Polemik Wisata Kepsek Garut Memanas, Nama Rekan Seprofesi Disebut Usai Berita Mencuat”

GARUT,JABARBICARA.COM — Polemik wisata rombongan kepala sekolah (kepsek) dan operator sekolah di salah satu kecamatan di Kabupaten Garut tampaknya terus bergulir dan memasuki babak baru. Setelah sebelumnya disorot publik karena dikaitkan dengan dugaan praktik “komitmen fee” pengadaan buku sekolah, kini muncul dinamika internal yang memantik tanda tanya besar: benarkah ada saling tuding di antara sesama rekan profesi?

Situasi memanas setelah salah seorang kepala sekolah yang disebut ikut dalam rombongan wisata, Muchin S.Pd, menyampaikan pesan melalui aplikasi WhatsApp kepada media terkait suasana di tengah rombongan saat pemberitaan mulai mencuat, Sabtu (09/05/2026).

Menurut pengakuannya, sesaat setelah rombongan tiba di Pangandaran dan berita mulai beredar, perhatian sejumlah peserta disebut langsung tertuju kepada seseorang yang tidak ikut dalam perjalanan.
“Pas dugi Pangandaran, pas berita muncul, semua tertuju ka Ade Awan anu ngalaporkeunana, margi Ade teu ngiring,” tulis Muchin kepada media, Sabtu (9/5/2026).

Pernyataan tersebut sontak memunculkan tanda tanya baru. Di tengah sorotan dugaan keterkaitan wisata dengan dugaan praktik “komitmen fee” pengadaan buku, perhatian sebagian rombongan justru disebut mengarah kepada sosok yang diduga menjadi pihak pelapor informasi ke media. Namun hingga kini, belum ada bukti ataupun klarifikasi yang dapat menguatkan asumsi tersebut.

Merespons pesan itu, wartawan memberikan jawaban singkat namun sarat makna.
“Ngirangan dosa atuh yang tertuduh…”
Kalimat pendek tersebut menjadi pengingat bahwa dalam situasi yang masih dipenuhi dugaan, menyematkan tuduhan kepada seseorang tanpa dasar yang jelas justru dapat memperkeruh persoalan dan melahirkan stigma baru di lingkungan profesi pendidikan.

Babak baru ini dinilai memperlihatkan bagaimana sebuah polemik bisa bergeser dari substansi utama menuju persoalan internal yang lebih emosional. Alih-alih fokus menjawab pertanyaan publik mengenai dugaan sumber pembiayaan wisata, perhatian justru berpotensi terseret pada siapa yang dianggap membocorkan informasi ke media.

Padahal, publik hingga kini masih menunggu jawaban atas substansi yang lebih penting: apakah perjalanan wisata selama tiga hari dua malam tersebut benar-benar murni agenda pribadi, atau ada sumber pembiayaan lain yang perlu dijelaskan secara terbuka?

Sebelumnya, publik menyoroti kegiatan wisata rombongan kepala sekolah dan operator sekolah dari salah satu kecamatan di Garut ke objek wisata ternama di Jawa Barat. Perjalanan yang disebut berlangsung selama tiga hari dua malam itu dikaitkan dengan dugaan praktik komitmen fee pengadaan buku di sejumlah sekolah.

Meski dugaan tersebut belum terbukti dan masih memerlukan pendalaman, isu itu memantik perhatian karena menyangkut tata kelola pengadaan barang dan jasa di lingkungan pendidikan.

Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Ai Sadidah, bahkan mengaku baru mengetahui polemik tersebut setelah membaca pemberitaan media.
“Waalaikum salam, Alhamdulillah. Terkait yang dipertanyakan, saya baru tahu infonya dari media. Di kecamatan mana itu kang?” ujar Ai Sadidah saat dikonfirmasi.

Meski menyebut kegiatan wisata di luar jam kerja secara prinsip tidak menjadi persoalan, pihaknya menyatakan akan melakukan follow up dan penelusuran lebih lanjut terhadap informasi yang berkembang, termasuk dugaan keterkaitan dengan komitmen fee pengadaan buku.

Di tengah situasi yang berkembang, sejumlah pemerhati kebijakan publik mengingatkan agar fokus persoalan tidak bergeser menjadi sekadar mencari siapa yang berbicara kepada media. Menurut mereka, yang jauh lebih penting adalah membuka fakta secara terang dan memastikan tidak ada praktik yang bertentangan dengan prinsip transparansi serta akuntabilitas dalam dunia pendidikan.

Sampai berita ini diterbitkan, sosok Ade Awan yang disebut dalam percakapan WhatsApp tersebut belum dapat dimintai tanggapan terkait tudingan yang berkembang. Sementara pihak rombongan kepala sekolah maupun operator sekolah juga belum memberikan klarifikasi resmi secara terbuka mengenai polemik yang terus menjadi sorotan publik. (JB/RF)

Exit mobile version