Site icon JABARBICARA.COM

Pentas Kreatif Memukau! SMAN 18 Garut Hadirkan Kolaborasi Seni Sarat Edukasi

GARUT, JABARBICARA.COM– Kreativitas dan inovasi siswa tampak begitu hidup dalam Pagelaran Drama Tari dan Pameran Karya Seni SMAN 18 Garut. Kegiatan yang dikemas atraktif ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa, melainkan bagian dari proses pembelajaran kolaboratif yang menggabungkan unsur pendidikan, budaya, sejarah, dan penguatan karakter peserta didik.

Wakil Kepala Sekolah SMAN 18 Garut, Ojat Rojat, mengatakan kegiatan tersebut merupakan implementasi evaluasi program pembelajaran kolaboratif terintegrasi yang telah menjadi bagian dari Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) Tahun Pelajaran 2025/2026.

Menurutnya, pagelaran itu mengintegrasikan empat mata pelajaran, yakni Seni Budaya, Sejarah, Sosiologi, dan Bahasa Sunda dalam satu ruang kreativitas yang memberi pengalaman belajar berbeda bagi siswa.

“Pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Kami ingin siswa mampu mengimplementasikan hasil belajar melalui kreativitas, kolaborasi, dan karya nyata yang dapat ditampilkan kepada publik,” ujar Ojat.

Kegiatan yang digelar selama 3 hari [Selasa, 19 – 21 Mei 2026], mengusung tema “Menebar Sejarah, Menjaga Tradisi” dalam pagelaran bertajuk Dwa Askara Adiguna, kegiatan ini menghadirkan pesan kuat tentang pentingnya menjaga warisan budaya sekaligus memahami sejarah tatar Sunda yang kaya akan nilai dan filosofi kehidupan.
Bagi pihak sekolah, pendidikan bukan hanya tentang capaian akademik, tetapi juga tentang membentuk karakter siswa agar memiliki kebanggaan terhadap identitas budaya daerahnya. Nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui pendekatan kreatif berbasis seni dan budaya.

Tak kurang dari 926 siswa terlibat dalam kegiatan ini, terdiri dari 491 siswa kelas X dan 435 siswa kelas XI. Seluruh rangkaian kegiatan digelar secara internal sebagai bentuk evaluasi pembelajaran yang telah berjalan selama satu semester.

Ojat menegaskan, kegiatan seperti ini menjadi sarana penting dalam mengukur kompetensi siswa secara menyeluruh, mulai dari aspek pengetahuan, keterampilan, hingga sikap dan kemampuan berkolaborasi.

“Di sini bakat dan minat siswa bisa terlihat. Ada yang unggul di seni pertunjukan, teater, tari, hingga kemampuan berpikir kreatif dan kerja sama tim. Ini bagian dari pendidikan yang memanusiakan potensi peserta didik,” tegasnya.

Lebih jauh, SMAN 18 Garut juga mengangkat unsur budaya lokal dalam pengembangan kreativitas siswa, salah satunya dengan melestarikan Seni Babad Rempug, kesenian khas Desa Mulakeude, Kecamatan Sucinaraja, sebagai bentuk penguatan kearifan lokal Garut.

Melalui pagelaran ini, sekolah ingin menyampaikan pesan bahwa setiap mata pelajaran memiliki keterkaitan dan dapat dikemas secara inovatif agar lebih mudah dipahami siswa. Pendekatan kolaboratif dinilai mampu menumbuhkan pola pikir kreatif sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap pendidikan.

“Kami berharap siswa memiliki rasa bangga terhadap sejarah, budaya, dan seni Sunda. Kreativitas yang tumbuh di sekolah diharapkan menjadi pondasi karakter mereka untuk masa depan,” pungkas Ojat. (JB/RF)

Exit mobile version