Site icon JABARBICARA.COM

Panggung dari Meja Kecil, Tikar Jadi Saksi: Haru dan Kebersamaan Warnai Paturay Tineung Angkatan XXII RA Nabila Az-Zahra

GARUT, JABARBICARA.COM – Ada yang berbeda di ruang-ruang kelas RA Nabila Az-Zahra, Kamis (18/6/2026). Suasana belajar yang biasanya dipenuhi aktivitas membaca, menulis, dan bermain, mendadak berubah menjadi ruang perpisahan yang sarat makna dan penuh kehangatan.

Bukan dengan kemewahan dan dekorasi serba mahal. Pelepasan siswa Angkatan XXII RA Nabila Az-Zahra justru menghadirkan potret pendidikan yang begitu membumi: gotong royong, kebersamaan, dan ketulusan.

Sejak pagi, para pengelola RA bersama wali murid bahu-membahu menyulap beberapa ruang belajar menjadi tempat pelepasan siswa. Meja-meja kecil yang sehari-hari digunakan anak-anak untuk belajar ditata sedemikian rupa menjadi panggung sederhana yang mampu menampung puluhan peserta didik saat tampil membawakan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan berbagai lagu anak-anak secara bersama-sama.

Kain-kain panjang atau sinjang dipola menjadi ornamen latar acara. Aneka anyaman dan peralatan dapur tradisional pun tak luput dari sentuhan kreativitas, disulap menjadi hiasan pesta yang unik dan sarat nilai budaya.

Meski seluruh hadirin hanya beralaskan tikar, suasana berlangsung khidmat. Tak sedikit mata yang berkaca-kaca menyaksikan momen pelepasan putra-putri mereka. Kesederhanaan justru menghadirkan kehangatan yang sulit tergantikan.

Acara diawali dengan lantunan doa dan shalawat yang dibawakan oleh anak-anak RA Nabila Az-Zahra. Suara polos mereka mengiringi harapan agar kegiatan Paturay Tineung Angkatan XXII RA Nabila Az-Zahra Tahun Ajaran 2025/2026 dapat berjalan lancar dari awal hingga akhir.

Dalam kesempatan tersebut, Ridwan Firdaus yang mewakili Ketua Yayasan Al-Ma’un Wanaraja menyampaikan salam dan permohonan maaf dari Ketua Yayasan yang berhalangan hadir karena tugas yang tidak dapat ditinggalkan.

Ia menyampaikan pesan penuh makna kepada para siswa yang dilepas.

“Selamat atas pencapaian yang telah diraih. Teruslah belajar dengan penuh semangat, rajin beribadah, hormati orang tua dan guru, serta jadilah generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan membanggakan keluarga, agama, serta bangsa,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada lembaga di bawah naungan Yayasan Al-Ma’un.

“Pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga dan sekolah. Semoga kerja sama yang baik ini terus terjalin demi masa depan putra-putri kita yang lebih baik,” tuturnya.

Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada seluruh kepala sekolah, guru, dan tenaga pendidik atas dedikasi, kesabaran, serta keikhlasan dalam mendidik anak-anak dengan penuh kasih sayang.

Sementara itu, Kepala RA Nabila Az-Zahra, Ade Rohayati, mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan pelepasan siswa angkatan ke-XXII tersebut.

“Tahun ini, RA Nabila Az-Zahra melepas 59 anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Dasar. Adapun jumlah keseluruhan peserta didik sebanyak 84 anak yang terdiri dari Kelas A dan Kelas B,” ujarnya.

Ade Rohayati juga mengaku terharu karena perjalanan panjang lembaga yang dipimpinnya telah melahirkan banyak generasi penerus.

“Bahkan salah satu lulusan angkatan pertama adalah anak saya sendiri. Terima kasih kepada seluruh wali murid yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya di RA ini,” katanya.

Acara semakin bermakna dengan siraman tausiah yang disampaikan Ustadz Toni, salah seorang sesepuh sekaligus tokoh agama yang dikenal masyarakat Wanaraja. Sementara doa penutup dipimpin oleh Ustadz Asep, salah seorang pimpinan dan pengurus Yayasan Al-Ma’un serta pengurus DKM Masjid Al-Ikhlas Pakemitan Wanaraja.

Berlokasi di Kampung Pakemitan RT 02 RW 01, Wanaraja, Kabupaten Garut, RA Nabila Az-Zahra yang berada di bawah koordinasi Yayasan Al-Ma’un telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan anak usia dini di wilayah tersebut selama lebih dari dua dekade.

Di tengah arus zaman yang sering mengukur keberhasilan dari kemegahan panggung dan kemewahan perayaan, RA Nabila Az-Zahra justru mengajarkan bahwa pendidikan sejatinya bertumpu pada cinta, keteladanan, dan kebersamaan.

Dari tikar sederhana, dari panggung kecil yang dirakit bersama, dari tangan-tangan yang bekerja tanpa pamrih, lahir kenangan yang akan terus hidup dalam ingatan anak-anak: bahwa mereka pernah tumbuh di tempat yang mendidik dengan hati.

Sebab sejatinya, pelepasan bukanlah akhir dari perjalanan. Ia adalah doa yang dilepas ke langit, agar langkah-langkah kecil itu kelak tumbuh menjadi pijakan besar bagi masa depan bangsa. (JB/RF)

Exit mobile version