GARUT, JABARBICARA.COM – Ajakan yang belum lama ini digaungkan Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, agar Aparatur Sipil Negara (ASN), dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga seluruh elemen masyarakat menjadi orang tua asuh bagi Anak Tidak Sekolah (ATS) mendapat apresiasi dari Direktur Eksekutif Sekolah Sungai Cimanuk (SSC), Mulyono Khadafi. Namun, menurutnya, persoalan pendidikan di Kabupaten Garut tidak cukup diselesaikan melalui ajakan moral semata, melainkan harus diwujudkan melalui aksi nyata, kolaborasi, dan pendampingan yang berkelanjutan.
Mulyono menilai persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Garut masih menjadi pekerjaan rumah besar. Berdasarkan hasil rekonsiliasi data Pemerintah Kabupaten Garut, jumlah ATS saat ini masih berkisar 19 ribu anak, meski sebelumnya data Kementerian Pendidikan mencatat sekitar 49 ribu anak sebelum dilakukan proses verifikasi.
“Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan ribuan anak yang hak pendidikannya harus segera dipulihkan. Kami mengapresiasi ajakan yang disampaikan Bupati Garut, Bapak Abdusy Syakur Amin. Namun, gerakan itu harus diikuti langkah konkret sehingga benar-benar mampu mengembalikan anak-anak ke bangku sekolah,” ujar Direktur Eksekutif Sekolah Sungai Cimanuk (SSC), Mulyono Khadafi, saat di hubungi wartawan di Garut, Jumat (26/6/2026).
Ia menjelaskan, Sekolah Sungai Cimanuk (SSC) selama ini telah membuktikan komitmennya melalui berbagai aksi nyata. Tidak hanya menyampaikan gagasan dan masukan kepada pemerintah, SSC juga turun langsung melakukan pendataan anak tidak sekolah, memberikan pendampingan kepada keluarga, membantu melengkapi persyaratan administrasi, hingga memfasilitasi proses pendaftaran anak-anak agar dapat kembali mengenyam pendidikan formal.
“Selama ini kami hadir di tengah masyarakat. Kami mencari akar persoalan mengapa anak berhenti sekolah, melakukan pendekatan kepada orang tua, menjembatani komunikasi dengan sekolah, bahkan ikut mendampingi proses pendaftaran. Yang kami lakukan bukan sekadar wacana, tetapi aksi nyata,” tegasnya.
Selain berkontribusi dalam penanganan Anak Tidak Sekolah, SSC juga konsisten mengembangkan pendidikan karakter berbasis kepedulian lingkungan. Melalui program Jumat Bersih, Jumat Menanam, edukasi pelestarian Sungai Cimanuk, hingga sosialisasi Masyarakat Peduli Api (MPA), SSC berupaya menanamkan kesadaran kepada masyarakat bahwa menjaga alam merupakan bagian dari membangun masa depan generasi.
Menurut Mulyono, pendidikan dan pelestarian lingkungan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.
Dalam menjalankan berbagai programnya, SSC terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak. Sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Garut, aparat penegak hukum (APH), TNI, Polri, akademisi, pegiat lingkungan, serta berbagai organisasi kemasyarakatan secara aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan SSC.
Tak hanya itu, Dewan Pendidikan Kabupaten Garut juga menjadi salah satu mitra strategis SSC. Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Garut, Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Garut, beserta jajaran pengurusnya kerap hadir dalam berbagai kegiatan SSC, mulai dari edukasi lingkungan, sosialisasi pendidikan, gerakan penghijauan, hingga program pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi bukti bahwa membangun pendidikan dan karakter generasi muda membutuhkan sinergi semua pihak.
Menutup keterangannya, Mulyono menegaskan bahwa menyelamatkan sekitar 19 ribu anak yang masih belum bersekolah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“SSC akan terus bekerja, bukan hanya berbicara. Kami siap menjadi mitra strategis Pemerintah Kabupaten Garut dalam menghadirkan solusi nyata di bidang pendidikan, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat demi mewujudkan Garut yang lebih maju, berkarakter, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (JB/RF)

