Site icon JABARBICARA.COM

JANGAN BIARKAN KEMISKINAN MEMUTUS MIMPI ANAK: TRANSFORMASI PENDIDIKAN HARUS BENAR-BENAR MENYENTUH RAKYAT

Jajang Saepulloh: Sekolah Harus Menjadi Jalan Keluar dari Kemiskinan, Bukan Ikut Menjadi Korban Kemiskinan

GARUT, JABARBICARA.COM – Kemiskinan tidak boleh menjadi alasan bagi seorang anak kehilangan haknya untuk belajar, tumbuh, dan meraih masa depan. Ketika kondisi ekonomi memaksa seorang anak meninggalkan bangku sekolah, maka persoalan tersebut bukan semata masalah keluarga, melainkan menjadi alarm serius bagi negara, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat.

Ketua Yayasan As-Saefulloh Garut, Jajang Saepulloh, S.IP., M.Si., menegaskan bahwa transformasi pendidikan tidak boleh berhenti pada pembangunan gedung sekolah, pergantian kurikulum, pengadaan sarana prasarana, maupun pencapaian angka-angka administratif.

Menurutnya, ukuran keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya adalah sejauh mana pendidikan mampu hadir, menjangkau, dan memberikan harapan nyata bagi masyarakat, terutama keluarga yang berada dalam kondisi rentan secara ekonomi.

“Jangan sampai kemiskinan menjadi alasan seorang anak kehilangan masa depannya. Pendidikan harus menjadi jalan keluar dari kemiskinan, bukan justru menjadi sesuatu yang tidak mampu dijangkau oleh keluarga yang sedang mengalami kesulitan,” tegas Jajang.

Ia menilai, setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan dan kesempatan membangun masa depan. Karena itu, negara dan pemerintah harus memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak berubah menjadi tembok yang menghalangi anak-anak Indonesia untuk tetap berada di jalur pendidikan.

PUTUS SEKOLAH BUKAN SEKADAR MASALAH KEMAUAN BELAJAR

Jajang mengingatkan, persoalan anak putus sekolah tidak boleh dipandang secara sederhana dan tidak boleh langsung dikaitkan dengan rendahnya kemauan seorang anak untuk belajar.

Di balik seorang anak yang berhenti sekolah, kata dia, sering kali terdapat persoalan yang jauh lebih kompleks. Kondisi ekonomi keluarga, keterbatasan akses pendidikan, lingkungan sosial, kurangnya pendampingan, hingga minimnya informasi mengenai bantuan pendidikan dan jalur alternatif, dapat menjadi faktor yang memengaruhi keberlanjutan pendidikan seorang anak.

Karena itu, penyelesaian persoalan putus sekolah membutuhkan pendekatan yang lebih manusiawi, persuasif, preventif, dan solutif.

“Jangan menunggu anak benar-benar putus sekolah baru pemerintah bergerak. Anak-anak yang mulai berisiko meninggalkan sekolah harus bisa terdeteksi sejak awal dan segera mendapatkan perhatian serta pendampingan,” ujarnya.

Menurut Jajang, pencegahan harus menjadi langkah utama. Pendidikan tidak boleh hanya bekerja setelah persoalan terjadi, tetapi harus memiliki sistem yang mampu membaca tanda-tanda kerentanan sebelum seorang anak benar-benar meninggalkan sekolah.

 HARUS TURUN KE MASYARAKAT DAN JEMPUT BOLA

Lebih lanjut, Jajang mendorong pemerintah daerah untuk membangun gerakan bersama dalam menangani persoalan anak putus sekolah dan anak yang berisiko putus sekolah.

Gerakan tersebut, menurutnya, tidak mungkin hanya dibebankan kepada sekolah atau pemerintah semata. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, satuan pendidikan, pemerintah desa, yayasan pendidikan, organisasi masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dunia usaha, hingga keluarga.

Pendataan anak harus benar-benar menjangkau lapisan masyarakat paling bawah.

Setiap anak yang berhenti sekolah harus diketahui penyebabnya. Jika persoalannya adalah ekonomi, maka harus dicarikan solusi melalui program dan bantuan yang tersedia sesuai ketentuan. Jika persoalannya berkaitan dengan lingkungan dan keluarga, maka diperlukan pendampingan yang tepat. Sementara bagi anak yang mengalami hambatan untuk kembali ke pendidikan formal, jalur pendidikan alternatif harus diperkuat.

Dengan demikian, masyarakat tidak cukup hanya diberikan slogan atau imbauan “jangan putus sekolah”, tetapi harus benar-benar diberikan jalan keluar.

“Pendidikan harus mampu menjemput mereka yang tertinggal. Jangan hanya menunggu masyarakat datang ke kantor atau sekolah untuk meminta bantuan. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan harus hadir dan mencari solusi bersama,” tegasnya.

TUJUH AGENDA TRANSFORMASI PENDIDIKAN

Dalam pandangannya, transformasi pendidikan yang benar-benar berpihak kepada masyarakat harus diwujudkan melalui langkah konkret dan terukur. Jajang Saepulloh menyampaikan tujuh agenda penting yang perlu menjadi perhatian bersama.

1. Satu Data Pendidikan Berbasis Masyarakat

Data mengenai anak putus sekolah dan anak berisiko putus sekolah harus benar-benar akurat, diperbarui secara berkala, dan dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan.

Tanpa data yang valid, program pendidikan berpotensi hanya berjalan di atas kertas tanpa menyentuh persoalan nyata yang terjadi di masyarakat.

2. Gerakan Jemput Bola Anak Putus Sekolah

Pemerintah dan sekolah harus lebih aktif mendatangi masyarakat dan keluarga yang mengalami persoalan pendidikan.

Pendekatan tidak boleh hanya mengandalkan laporan atau menunggu keluarga datang meminta bantuan. Negara harus hadir lebih awal sebelum masa depan anak benar-benar terputus.

3. Pendidikan yang Inklusif dan Terjangkau

Tidak boleh ada anak kehilangan kesempatan belajar hanya karena kondisi ekonomi keluarga atau hambatan sosial tertentu.

Pendidikan harus menjadi ruang yang terbuka dan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi.

4. Penguatan Pendidikan Nonformal

Jalur pendidikan kesetaraan dan berbagai bentuk pendidikan alternatif perlu diperkuat sebagai solusi bagi anak-anak yang menghadapi hambatan untuk kembali ke pendidikan formal.

Setiap anak harus tetap memiliki jalan untuk melanjutkan pendidikan, meskipun kondisi kehidupannya tidak selalu memungkinkan mengikuti pola pendidikan formal secara normal.

5. Pendampingan Keluarga

Keluarga merupakan bagian penting dalam menyelesaikan persoalan pendidikan.

Masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan secara administratif, tetapi juga informasi, pendampingan, motivasi, dan akses yang jelas terhadap berbagai program pendidikan.

6. Pendidikan Berbasis Keterampilan dan Teknologi

Transformasi pendidikan juga harus mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan zaman.

Sekolah harus menjadi ruang untuk membangun literasi, karakter, kreativitas, kemampuan teknologi, keterampilan hidup, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan dunia.

Pendidikan tidak cukup hanya membuat anak mampu menjawab soal, tetapi harus mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan.

7. Evaluasi Berbasis Dampak

Keberhasilan pendidikan tidak boleh hanya diukur dari banyaknya program, besarnya anggaran, atau jumlah kegiatan yang telah dilaksanakan.

Yang lebih penting adalah dampak nyata yang dirasakan masyarakat.

Berapa banyak anak yang kembali bersekolah? Berapa banyak anak yang berhasil bertahan dalam pendidikan? Berapa banyak keluarga yang terbantu keluar dari persoalan yang menghambat pendidikan anaknya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurut Jajang, harus menjadi ukuran keberhasilan yang sesungguhnya.

MASYARAKAT JANGAN MENJADI PENONTON

Jajang juga mengajak masyarakat untuk tidak tinggal diam ketika menemukan anak-anak di lingkungan sekitarnya berhenti sekolah atau mulai menunjukkan tanda-tanda berisiko meninggalkan pendidikan.

Lingkungan terdekat, menurutnya, memiliki peran besar dalam menjaga masa depan seorang anak.

“Kalau kita mengetahui ada anak yang berhenti sekolah, jangan langsung menghakimi. Tanyakan apa masalahnya, dampingi keluarganya, dan bantu mencari jalan keluarnya. Menyelamatkan satu anak dari putus sekolah berarti kita ikut menyelamatkan masa depan masyarakat,” kata Jajang.

Baginya, persoalan pendidikan bukan hanya urusan guru dan sekolah. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.

Ketika satu anak kehilangan kesempatan belajar karena kemiskinan, akses yang terbatas, atau ketidakpedulian lingkungan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan seorang anak, melainkan masa depan daerah dan bangsa.

Transformasi pendidikan yang sejati bukan sekadar membangun sekolah yang lebih megah, melainkan memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena lahir dari keluarga yang kurang beruntung.

Sebab pada akhirnya, pendidikan harus menjadi tangga bagi rakyat untuk keluar dari kemiskinan, memperbaiki kehidupan, dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih bermartabat.

Jangan biarkan kemiskinan memutus mimpi anak-anak kita. Karena ketika satu anak kehilangan kesempatan untuk belajar, sesungguhnya kita sedang mempertaruhkan masa depan bersama.(JB/RF)

Exit mobile version