GARUT, JABARBICARA.COM – Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kabupaten Garut periode 2026–2031, dinamika perebutan kepemimpinan mulai mengemuka. Aspirasi dari unsur organisasi pendiri maupun yang didirikan Partai Golkar turut mewarnai pembahasan mengenai figur yang dinilai layak memimpin partai ke depan.
Ketua DEPICAB SOKSI Kabupaten Garut, Tandang Santanu, menyampaikan pesan tegas kepada seluruh kader dan keluarga besar Golkar agar tidak melupakan proses panjang kaderisasi dalam menentukan kepemimpinan partai.
Tandang secara terbuka mendorong Aris Munandar, yang disebutnya sebagai kader sejati yang telah lama tumbuh dan berproses bersama Partai Golkar, untuk diperjuangkan menjadi Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Garut.
“Saya mengingatkan seluruh keluarga besar Golkar, Aris Munandar adalah kader sejati kita. Tumbuh, berjuang, dan mengabdi di dalam tubuh partai selama bertahun-tahun, merasakan suka maupun duka bersama kita semua. Di Musda nanti, beliau wajib kita perjuangkan untuk memimpin Golkar Garut,” tegas Tandang.
Menurutnya, kepemimpinan partai tidak semestinya hanya dilihat dari popularitas ataupun momentum politik sesaat. Lebih dari itu, seorang pemimpin harus memahami perjalanan organisasi, kultur kader, serta perjuangan politik Golkar dari tingkat bawah.
Tandang mengingatkan agar jangan sampai kepemimpinan Golkar Garut diberikan kepada figur yang baru mengenal atau baru bergabung dengan partai, sementara proses panjang kaderisasi dan pengabdian para kader lama justru terabaikan.
“Jangan sampai Golkar Garut dipimpin oleh orang yang baru saja mengenal partai, yang belum pernah merasakan getirnya perjuangan membangun organisasi dari bawah,” ujarnya.
Ia menegaskan, para sesepuh Golkar serta pengurus PK dan PD telah menjadi bagian penting dalam menjaga eksistensi partai di berbagai wilayah Garut.
Mereka, kata Tandang, telah mencurahkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan pengorbanan materi demi mempertahankan dan membesarkan Partai Golkar.
Karena itu, perjuangan tersebut menurutnya harus mendapatkan penghormatan dalam proses regenerasi kepemimpinan.
“Kita wajib menghormati dan tidak melupakan perjuangan para sesepuh partai serta para pengurus PK dan PD yang selama ini telah berjuang berdarah-darah. Pengorbanan dan kesetiaan mereka tidak boleh disia-siakan begitu saja,” katanya.
JANGAN PERTARUHKAN GOLKAR MENUJU PEMILU 2029
Lebih jauh, Tandang mengingatkan bahwa keputusan Musda tidak hanya menentukan sosok Ketua DPD Golkar Garut untuk periode 2026–2031, tetapi juga akan berpengaruh terhadap kesiapan organisasi menghadapi Pemilu 2029.
Menurutnya, figur yang lahir dari proses kaderisasi memiliki pemahaman lebih kuat terhadap karakter organisasi, struktur partai, basis kader, serta dinamika politik di tingkat akar rumput.
“Jika kepemimpinan jatuh ke tangan yang belum tumbuh dan belum berjuang bersama partai, tentu ada risiko besar terhadap kesatuan, semangat, dan kesiapan kita menghadapi Pemilu 2029,” tegasnya.
Tandang menilai Golkar membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya memiliki kapasitas politik, tetapi juga memahami sejarah perjuangan partai dan mampu merawat soliditas seluruh struktur.
Dalam konteks tersebut, ia menyebut Aris Munandar sebagai salah satu kader yang dinilai memiliki modal pengalaman dan kedekatan dengan perjalanan organisasi.
“Kita butuh pemimpin yang sudah terbukti, yang memahami nilai-nilai perjuangan, harapan rakyat, semangat kader, serta cara berjuang yang telah ditanamkan para sesepuh selama puluhan tahun. Semangat itu ada pada diri Aris Munandar,” katanya.
KEPEMIMPINAN ADALAH KEPERCAYAAN
Tandang menegaskan bahwa sikap SOKSI bukan berarti menutup pintu bagi siapa pun yang ingin bergabung dan mengabdi di Partai Golkar.
Namun, menurutnya, menjadi bagian dari partai dan mendapatkan kepercayaan untuk memimpin organisasi merupakan dua hal yang berbeda.
“Kita tidak menutup pintu bagi siapa saja untuk bergabung. Namun kepemimpinan adalah kepercayaan yang pantas diberikan kepada mereka yang sudah berjuang membangunnya bersama-sama,” ujarnya.
Ia berharap Musda Golkar Garut dapat menjadi momentum untuk memperkuat persatuan kader, menghargai proses kaderisasi, serta menjaga kesinambungan perjuangan partai.
Bagi SOKSI Garut, figur kader sejati seperti Aris Munandar dinilai memiliki posisi penting dalam menjaga kekompakan internal sekaligus mempersiapkan Golkar menghadapi pertarungan politik 2029.
“Kita ingin Golkar tetap solid. Kader harus merasa dihargai, perjuangan para sesepuh tidak dilupakan, dan organisasi semakin kuat. Jangan sampai keputusan hari ini justru menjadi persoalan bagi kemenangan kita di Pemilu 2029,” pungkas Tandang.
Musda nantinya menjadi forum resmi untuk menentukan kepemimpinan DPD Partai Golkar Kabupaten Garut periode 2026–2031. Aspirasi dari kader dan unsur organisasi partai akan menjadi bagian dari dinamika demokrasi internal menjelang penentuan kepemimpinan Golkar Garut.(JB/RF)

