Site icon JABARBICARA.COM

STAINUS GARUT BAKAR SEMANGAT GENERASI MUDA: “JANGAN JADI MAHASISWA PINTAR TANPA KETELADANAN!”

GARUT, JABARBICARA.COM — Suasana haru, semangat dan optimisme mewarnai Auditorium STAINUS Garut, Jumat (25/9/2026). Puluhan mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 mengikuti Orientasi dan Bimbingan Terpadu (ORBIT) dengan penuh antusias.

Namun, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni penyambutan mahasiswa baru. Di hadapan generasi yang diproyeksikan menjadi bagian dari masa depan bangsa, Ketua STAINUS Garut, Risan Sugiayasin, S.Pd., MM., menyampaikan pesan tentang pentingnya ilmu, karakter, karya dan kebermanfaatan.

Para mahasiswa baru itu akan menempuh pendidikan pada dua Program Studi Strata Satu (S1), yakni Hukum Keluarga Islam (HKI/Ahwal Al-Syakhsiyah) dan Ekonomi Syariah.

Mengusung tema “Transformasi Mahasiswa Berkarakter, Berkarya dan Berdampak di Kampus yang Profesional, Futuristik dan Religius untuk Indonesia Emas 2045”, Risan membuka orasinya dengan sapaan yang menggugah semangat.

Ia menyebut mahasiswa baru sebagai pemilik masa depan dan penjaga peradaban.

“Hari ini kalian telah membuat keputusan paling berani dalam hidup: memutuskan untuk tidak menjadi biasa-biasa saja. Selamat datang di Kawah Candradimuka. Selamat datang di STAINUS Garut,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi penanda bahwa perjalanan mahasiswa di STAINUS Garut diharapkan bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan proses pembentukan pola pikir, karakter dan keberanian menghadapi perubahan zaman.

“KITA TIDAK KRISIS KECERDASAN, KITA KRISIS KETELADANAN”

Salah satu bagian paling kuat dalam orasi Risan adalah ketika ia mengajak mahasiswa melihat tantangan bangsa tidak hanya dari sisi kecerdasan intelektual.

Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan beriringan dengan akhlak serta keteladanan.

“Kita tidak krisis kecerdasan, kita krisis keteladanan. Kita bisa mengirim satelit ke langit, tapi kita lupa cara menunduk untuk menyapa tetangga,” tandasnya.

Pernyataan itu menegaskan pesan bahwa pendidikan tidak semestinya berhenti pada nilai, gelar atau kemampuan akademik.

Lebih dari itu, ilmu harus membentuk manusia yang memiliki tanggung jawab, integritas dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.

SEGITIGA EMAS STAINUS GARUT

Dalam orasinya, Risan juga memperkenalkan konsep Segitiga Emas STAINUS Garut, yang terdiri atas profesional, futuristik dan religius.

Profesional — Jasad.

Mahasiswa didorong memiliki etos kerja, kedisiplinan dan kesungguhan dalam menjalankan setiap tanggung jawab. Prinsip on time, on target, on quality menjadi bagian dari budaya profesional yang dibangun dengan semangat itqan atau kesungguhan dalam bekerja.

Futuristik — Akal.

Mahasiswa ditantang untuk berpikir melampaui zamannya, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta berani menciptakan peluang baru.

Bukan hanya menjadi pencari pekerjaan, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

“Jadilah majikan teknologi, bukan budaknya,” pesannya.

Religius — Jiwa.

Nilai religius menjadi kompas dan akar dalam perjalanan intelektual mahasiswa. Kemajuan ilmu dan teknologi harus tetap memiliki landasan moral agar tidak kehilangan arah.

Risan mengibaratkannya seperti pohon yang dapat tumbuh tinggi karena memiliki akar yang kuat.

TRILOGI TRANSFORMASI: CERDAS, BERKARYA DAN BERDAMPAK

Tidak berhenti pada konsep, Risan juga menitipkan Trilogi Transformasi kepada mahasiswa baru.

Pertama, dari cerdas menjadi berkarakter.

Mahasiswa tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik. Karakter dan adab harus menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan.

“Jadilah seperti garam. Kecil, tidak terlihat, tetapi membuat lingkungan menjadi bermakna. Jangan menjadi mahasiswa IPK 4.0 tetapi adab 0.0,” ujarnya.

Kedua, dari konsumen menjadi berkarya.

Mahasiswa diajak keluar dari budaya sekadar menjadi penonton dan konsumen di ruang digital.

Perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk melahirkan gagasan, inovasi dan karya yang memiliki nilai.

Melalui filosofi lebah dan lalat, Risan menggambarkan bahwa apa yang dicari seseorang akan menentukan apa yang ditemukan dan dihasilkannya.

Ketiga, dari ada menjadi berdampak.

Keberadaan mahasiswa di kampus tidak boleh berhenti pada aktivitas perkuliahan.

Ilmu yang diperoleh harus memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat dan lingkungan.

“Jadilah seperti parfum. Sekalipun botolnya sudah pergi, wanginya masih tinggal di ruangan,” ungkap Risan.

Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya dilihat dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari manfaat yang mampu ditinggalkan untuk orang lain.

TIGA PESAN UNTUK GENERASI MUDA

Menutup orasinya, Risan menyampaikan tiga pesan yang menjadi bekal moral bagi mahasiswa baru:

Jagalah sholatmu.
Muliakan orang tuamu.
Jangan pernah berhenti belajar.

Tiga pesan itu diharapkan menjadi fondasi agar perjalanan akademik mahasiswa tidak membuat mereka kehilangan nilai, jati diri dan arah kehidupan.

“Hari ini pintu ORBIT saya buka. Berjanjilah, saya akan menjadi mahasiswa berkarakter, berkarya dan berdampak. Jika kalian berjanji, maka saya juga berjanji, kami akan mendidik kalian bukan hanya dengan kurikulum, tetapi dengan cinta,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut disambut pekik “Hidup Mahasiswa! Hidup STAINUS Garut! Allahu Akbar!” yang menggema di Auditorium STAINUS Garut.

Pembukaan ORBIT Tahun Akademik 2026/2027 pun menjadi momentum awal bagi puluhan mahasiswa untuk memulai perjalanan akademik dengan membawa mimpi dan harapan masing-masing.

Di STAINUS Garut, mereka tidak hanya didorong untuk menjadi sarjana yang menguasai bidang keilmuan.

Mereka juga ditantang menjadi generasi yang berkarakter, berani berkarya, mampu beradaptasi dengan perubahan zaman dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sebab, kecerdasan tanpa karakter berisiko kehilangan arah, sementara ilmu tanpa kebermanfaatan akan kehilangan makna.

Dari Auditorium STAINUS Garut, sebuah pesan penting ditanamkan kepada generasi baru:

“Jangan hanya mengejar masa depan. Persiapkan diri untuk menjadi bagian dari orang-orang yang membentuknya.”

(JB/RF)

Exit mobile version