GARUT, JABARBICARA.COM — Pengabdian seorang guru tidak pernah benar-benar berakhir ketika masa tugas resmi usai. Ilmu yang ditanamkan, karakter yang dibentuk, dan nilai kehidupan yang diwariskan akan terus tumbuh dalam perjalanan generasi penerus bangsa.
Semangat itulah yang mewarnai kegiatan Pelepasan Purna Bhakti Guru Tahun 2026 di lingkungan Dinas Pendidikan Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, yang digelar di Gedung Olahraga PGRI Wanaraja, Jalan Kudang II Nomor 566, Desa Wanajaya, Kecamatan Wanaraja, Kamis (15/10/2026).
Mengusung tema “Masa Purna Tugas Bukan Akhir Aktivitas dan Kreativitas”, kegiatan ini menjadi momentum penghormatan, ungkapan rasa syukur, sekaligus apresiasi atas dedikasi para guru yang telah menuntaskan perjalanan pengabdiannya dalam dunia pendidikan.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh PGRI Cabang Wanaraja dengan Ketua Ido Hartono, S.Pd., Sekretaris Dindin Saripudin, S.Pd., serta diketahui oleh Koordinator Pengawas (Korwas) Dinas Pendidikan Kecamatan Wanaraja, Teti Febriani, S.Pd., M.Pd.
Suasana kebersamaan dan kebanggaan semakin terasa melalui penampilan kreasi seni dan budaya dari sejumlah siswa berprestasi berbagai satuan pendidikan. Persembahan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan simbol bahwa perjuangan para guru telah melahirkan generasi yang memiliki bakat, kreativitas, keberanian, dan kecintaan terhadap budaya bangsa.
Seni dan Budaya, Persembahan Istimewa bagi Para Pendidik
Sejumlah penampilan siswa mewarnai rangkaian acara. Tim marawis dari SDN 1 Wanaraja menghadirkan nuansa religius, sementara pembacaan sajak dari SD IT Uwais Wanaraja menyampaikan pesan melalui kekuatan kata dan penghayatan.
Penampilan ngadongeng dari SDN 3 Wanajaya turut menjadi perhatian. Siswa sekolah tersebut menorehkan prestasi dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), baik tingkat Kecamatan Wanaraja maupun Kabupaten Garut. Capaian ini menunjukkan pentingnya pelestarian bahasa dan tradisi lokal melalui pendidikan.
Kemeriahan berlanjut dengan pertunjukan perkusi dari SDN 2 Wanamekar yang memperlihatkan kekompakan dan kreativitas siswa.
Sementara itu, penampilan borangan dari SDN 1 Sindangprabu turut memperkaya ragam seni budaya yang disuguhkan. Sekolah tersebut juga mencatatkan prestasi dengan meraih juara harapan III FTBI tingkat Kabupaten Garut.
Tak ketinggalan, seni tari kreasi dari SDN 1 Wanamekar menambah warna dalam kegiatan tersebut. Berbagai penampilan itu memperlihatkan bahwa sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang tumbuhnya karakter, bakat, dan kecintaan terhadap warisan budaya.
Di balik setiap penampilan, tersimpan kerja keras siswa dan bimbingan para pendidik. Ada latihan yang berulang, kesabaran dalam membina, serta ketulusan guru dalam mengarahkan anak didiknya agar berani tampil dan mampu meraih prestasi.
Sembilan Guru Purna Bhakti, Jejak Pengabdian Tak Terhapus Waktu
Berdasarkan daftar guru purna bhakti Tahun 2026 yang tercantum dalam undangan PGRI Cabang Wanaraja, terdapat sembilan pendidik dari sejumlah sekolah dasar di wilayah Kecamatan Wanaraja yang memasuki masa purna bhakti.
Mereka adalah:
- Opin, S.Pd.SD. — SDN 1 Cinunuk.
- Asep Sopiyan, S.Pd. — SDN 2 Sindangratu.
- Nani Sumarni, S.Pd.SD. — SDN 1 Wanaraja.
- Imas Didah — SDN 3 Wanajaya.
- Asep Juanda, S.Pd.SD. — SDN 1 Sukamenak.
- Rohayat, A.Ma. — SDN 3 Sukamenak.
- Yanti Yuliasih, S.Pd.SD. — SDN 2 Cinunuk.
- Enok Sri Wahyuni, S.Pd.I. — SDN 3 Sindangratu.
- Dewi Asmara, S.Pd. — SDN 2 Wanasari.
Setiap nama menyimpan perjalanan panjang pengabdian, pengalaman mendidik, serta kenangan yang tidak terpisahkan dari kehidupan sekolah dan masyarakat.
Purna bhakti bukan sekadar pergantian status kepegawaian. Bagi seorang guru, momen ini merupakan penanda berakhirnya satu babak pengabdian formal sekaligus terbukanya ruang baru untuk tetap berkarya, berbagi pengalaman, dan memberikan inspirasi kepada lingkungan sekitar.
Sebab, keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari lamanya masa kerja, tetapi juga dari nilai-nilai yang tertanam dalam diri murid-muridnya.
Ketua PGRI dan Korwas: Penghormatan atas Dedikasi Pendidik
Kehadiran kegiatan pelepasan purna bhakti menjadi pengingat pentingnya menghargai perjalanan para pendidik yang telah memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan ketulusan untuk mencerdaskan generasi bangsa.
Ketua PGRI Cabang Wanaraja, Ido Hartono, S.Pd., bersama Sekretaris PGRI Cabang Wanaraja, Dindin Saripudin, S.Pd., tercantum dalam undangan resmi kegiatan yang ditandatangani pada 7 Oktober 2026. Sementara itu, Koordinator Pengawas Dinas Pendidikan Kecamatan Wanaraja, Teti Febriani, S.Pd., M.Pd., turut tercantum sebagai pihak yang mengetahui penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Momentum ini sekaligus menegaskan bahwa penghormatan terhadap guru tidak semestinya berhenti pada seremoni pelepasan. Pengalaman dan keteladanan para guru senior merupakan warisan berharga yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi pendidik yang masih aktif menjalankan tugas.
Guru bukan hanya mengajarkan cara membaca, menulis, dan berhitung. Mereka turut membentuk keberanian, kejujuran, kedisiplinan, dan harapan yang kelak menjadi bekal anak-anak dalam menjalani kehidupan.
Guru Boleh Purna Tugas, Pengabdiannya Tetap Hidup
“Guru boleh menanggalkan seragam tugas, tetapi tak pernah menanggalkan jejak kebaikan yang ditanamkannya.”
Ungkapan itu menjadi pengingat bahwa pengabdian seorang pendidik tidak berhenti ketika masa kerja berakhir. Ilmu yang diwariskan akan terus hidup melalui langkah para murid, sementara keteladanan akan menemukan jalannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Melalui kegiatan pelepasan purna bhakti ini, PGRI Cabang Wanaraja memberikan ruang penghormatan bagi para pendidik yang telah menyelesaikan perjalanan panjang pengabdian formalnya.
Pada saat yang sama, kegiatan tersebut menjadi pengingat bagi generasi pendidik yang masih aktif bahwa setiap hari di ruang kelas merupakan kesempatan untuk membentuk masa depan. Di balik pelajaran sederhana, mungkin ada seorang anak yang menemukan keberanian, cita-cita, dan harapan baru.
Pada akhirnya, masa purna tugas bukanlah garis akhir dari seluruh makna pengabdian. Ia merupakan jeda setelah perjalanan panjang, saat seorang guru dapat menengok kembali jejak yang telah ditinggalkan dengan rasa syukur dan kebanggaan.
Terima kasih, para guru purna bhakti. Dedikasi yang telah diberikan mungkin tidak seluruhnya tercatat dalam dokumen kepegawaian, tetapi jejaknya akan terus hidup dalam ingatan murid, kemajuan sekolah, dan masa depan bangsa.
Sebab, pendidikan tidak hanya berbicara tentang siapa yang mengajar hari ini, tetapi juga tentang siapa yang tumbuh menjadi manusia bermakna berkat ketulusan guru di masa lalu.
(JB/RF)

