GARUT, JABARBICARA.COM – Di sebuah sudut kelas SDN 5 Tegalpanjang, suara Ai Supeni (42) masih terdengar lantang mengajar siswa kelas 4. Siapa sangka, sosok guru yang tampak bersahaja ini adalah seorang srikandi bisnis yang jaringannya telah merambah seantero nusantara. Kisahnya bukan tentang keberuntungan instan, melainkan tentang napas panjang perjuangan selama 17 tahun.
Darah Pejuang dari Sang Ayah
lahir sebagai anak tunggal dari pasangan bapak Idris Sugito dan ibu Dasikah, Ai tumbuh di lingkungan yang menempa mentalnya. Sang ayah, yang dikenal sebagai tokoh politik PDI era Orde Baru di Wanaraja, mewariskan bakat komunikasi dan strategi yang tajam.
Meski besar dalam ekonomi yang biasa saja, Ai tidak pernah membatasi mimpinya. Sejak usia 22 tahun, ia sudah mencicipi getirnya dunia usaha, mulai dari konter HP, usaha keridit barang rumah tangha, hingga butik pakaian.
Sabar Menanti Takdir di Garis Bakti
Dunia pendidikan adalah cinta pertamanya. Lulusan D2 PGSD STAIDA dan S1 Biologi STKIP Garut ini memulai pengabdian sebagai guru sukarelawan pada 2003. Selama 17 tahun, ia menyandang status honorer dengan upah yang tak seberapa. Namun, dedikasinya tak luntur. Kesabaran itu berbuah manis saat ia diangkat menjadi ASN/P3K pada 2019 dan resmi menerima SK pada 2021. Tak berhenti di situ, di tahun 2024 ia membuktikan kualitasnya sebagai salah satu Guru Penggerak terbaik di Sucinaraja.
Transformasi Ekonomi Lewat Milagros
Titik balik finansialnya dimulai pada September 2015. Sambil tetap mengajar, Ai bergabung dengan bisnis air minum kesehatan Milagros. Dengan ketekunan yang luar biasa, ia kini membawahi 276 member di seluruh Indonesia. Penghasilannya? “Alhamdulillah, lebih dari cukup,” ujarnya merendah.
Kesuksesan ini membawanya terbang melihat dunia; China, Thailand, Malaysia, hingga menjalankan ibadah ke Tanah Suci bersama ibunda tercinta.
Meski kini memiliki kantor pemasaran Air Minum MILAGROS di Perum Green Mutiara Residen Karangpawitan dan deretan mobil mewah, Ai tetaplah sosok yang membumi. Ia tak canggung naik angkot atau ojek untuk mobilitas harian, sebuah potret nyata bahwa harta tidak mengubah karakter aslinya.
Cinta Keluarga dan Pesan untuk Generasi Muda
Di balik kesuksesan karir dan bisnis, Ai adalah ibu yang penuh kasih bagi Muhammad Bilal Nugraha (16) dan Ferdinan Aditya (12). Baginya, keluarga adalah pelabuhan terakhir dari segala lelah.
Kepada sesama pejuang hidup, Ai menitipkan pesan yang menggetarkan: “Selama ada kesempatan usaha, tidak mengganggu tugas pokok sebagai guru, dan tidak melanggar aturan, ambillah kesempatan itu. Jangan pernah ragu untuk mandiri.”
Kini, di usia 42 tahun, Ai Supeni bukan sekadar guru yang mengajar di depan kelas, ia adalah guru kehidupan yang mengajarkan bahwa kemiskinan bisa dikalahkan dengan kegigihan, dan kesuksesan paling indah adalah saat kita tetap bisa berpijak rendah di bumi. [JB/RF]

