Site icon JABARBICARA.COM

“Refleksi Kemenangan di Sucinaraja: Mengukir Senyum KPM di Hari yang Fitri”

GARUT, JABARBICARA.COM – Di balik deretan angka statistik kemiskinan dan tumpukan berkas administrasi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut, terdapat narasi perjuangan yang jarang tersorot. Mereka adalah para Pendamping Sosial—petugas yang berdiri tegak sebagai jembatan harapan bagi warga di pelosok desa desa di Sucinaraja Garut.

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar benderang, para pejuang sosial ini telah memacu kendaraan melintasi medan yang seringkali tak bersahabat. Dari jalanan berdebu hingga perbukitan licin akibat guyuran hujan khas perdesaan Garut, langkah mereka tak pernah surut. Misi mereka tunggal dan presisi: memastikan program Kementerian Sosial (Kemensos) bukan sekadar wacana di atas kertas, melainkan bantuan nyata yang mendarat tepat di tangan yang paling membutuhkan.

Mereka adalah mata bagi pemerintah dan suara bagi rakyat kecil. Dengan ketelitian tinggi, mereka memvalidasi data dan mengedukasi masyarakat agar bantuan tersebut tidak sekadar menjadi konsumsi jangka pendek, melainkan batu loncatan menuju kemandirian ekonomi. Meski harus berhadapan dengan kerumitan birokrasi hingga penolakan di lapangan, semangat “melayani dengan hati” tetap menjadi perisai yang tak tertembus.

Momentum Idulfitri 1447 H: Kebangkitan dan Solidaritas

Menjelang momentum Idulfitri 1447 H/2026 M, Tim Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Sucinaraja memaknai hari kemenangan ini sebagai titik balik untuk memperkuat solidaritas sosial. Idulfitri kali ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan energi baru untuk membangun kepedulian kolektif.

Ketua Tim PKH Sucinaraja, M. Rahmat, S.Pd.I., M.Si, menegaskan bahwa Idulfitri harus menjadi momentum refleksi sekaligus aksi nyata, khususnya bagi para KPM.
“Idulfitri bukan sekadar tradisi seremonial saling memaafkan, tetapi momentum untuk bangkit. Kami mengajak seluruh warga Sucinaraja agar menjadikan semangat Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah sebagai kekuatan untuk saling menguatkan, meningkatkan kepedulian, dan terus berikhtiar menuju kemandirian,” ujar Rahmat dalam keterangannya, Jumat (20/3/2026).

Rahmat menambahkan, peran PKH tidak terbatas pada penyaluran bantuan finansial, melainkan sebagai motor penggerak perubahan sosial yang berkelanjutan. Sinergi antara pendamping, pemerintah, lembaga terkait, hingga peran strategis media massa melalui edukasi menjadi kunci utama dalam menciptakan kesejahteraan yang merata.

“Kami ingin memastikan bahwa kehadiran PKH benar-benar dirasakan manfaatnya, baik secara ekonomi maupun dalam membangun mentalitas mandiri serta semangat gotong royong,” lanjutnya dengan nada optimis.

Di tengah tantangan ekonomi yang ada, Tim PKH Sucinaraja mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghapus sekat sosial dan membangun optimisme. Semangat “Minal ‘Aidzin wal Faizin” diharapkan tidak berhenti pada ucapan lisan, melainkan terwujud dalam tindakan nyata yang membawa perubahan positif bagi tatanan masyarakat di setiap desa di Sucinaraja.

Bagi para pendamping ini, kemenangan sejati adalah saat beban hidup warga prasejahtera sedikit terangkat dan roda keadilan sosial terus berputar hingga ke pintu-pintu rumah mereka. Demi Indonesia yang lebih berdaya, mereka tetap setia di garis depan. (Rilis/Tim PKH Sucinaraja)

Exit mobile version