Site icon JABARBICARA.COM

Rakyat Bergerak, Pemerintah Belum Tampak: Jalan Penghubung Dua Desa Dibangun dari Uang Patungan Warga

GARUT, JABARBICARA.COM – Di tengah berbagai program pembangunan yang terus digaungkan pemerintah, semangat gotong royong justru menjadi penyelamat bagi masyarakat di pelosok Kabupaten Garut. Warga Kampung Cikadu RT 01/RW 01, Desa Margamulya, Kecamatan Cisompet, memilih tidak berpangku tangan menunggu bantuan. Dengan uang patungan dan tenaga sendiri, mereka membangun jalan lingkungan yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas masyarakat.

Pembangunan jalan yang dimulai pada Minggu (5/7/2026) tersebut sepenuhnya dibiayai melalui swadaya masyarakat. Tidak ada anggaran pemerintah yang digunakan. Setiap meter jalan lahir dari kepedulian warga yang menyumbangkan uang, material bangunan, hingga tenaga secara sukarela.

Semangat kebersamaan itu kini semakin menguat. Daftar donatur swadaya terus bertambah dari hari ke hari. Bantuan datang dari berbagai kalangan, mulai dari warga Kampung Cikadu, para perantau, tokoh masyarakat, tenaga kesehatan, hingga para dermawan yang tergerak melihat perjuangan masyarakat membangun akses jalan yang layak.

Pembangunan akan kembali dilanjutkan pada pekan depan sembari panitia swadaya terus mengumpulkan dana dan material bangunan. Jalan yang sedang dibangun bukan sekadar akses lingkungan biasa, melainkan jalur strategis yang menghubungkan Desa Margamulya dengan Desa Panyindangan.

Setiap hari, jalan tersebut menjadi lintasan masyarakat dari kedua desa untuk menjalankan aktivitas pertanian, perdagangan, pendidikan, maupun kegiatan sosial. Kondisi jalan yang selama ini rusak dinilai menghambat mobilitas warga sekaligus berdampak terhadap roda perekonomian masyarakat.

Salah seorang tokoh masyarakat mengatakan, tingginya kepedulian warga menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup dan mengakar di tengah masyarakat.

“Alhamdulillah masyarakat sangat peduli. Ada yang menyumbang Rp25 ribu, Rp50 ribu, Rp100 ribu, bahkan sampai ratusan ribu rupiah. Ada juga yang menyumbangkan semen. Semua ikhlas demi jalan kampung kami,” ujarnya.»

Berdasarkan data panitia swadaya, hingga saat ini sedikitnya 57 donatur telah tercatat memberikan bantuan. Nilai donasi bervariasi mulai dari Rp25 ribu hingga Rp900 ribu, ditambah bantuan material berupa puluhan sak semen yang langsung dimanfaatkan dalam proses pembangunan.

Namun, di balik kisah inspiratif tersebut, tersimpan harapan yang belum terjawab. Sejumlah warga mengaku belum melihat adanya bantuan ataupun donasi yang tercatat berasal dari Pemerintah Desa Margamulya maupun perangkat desa.

“Belum ada yang masuk atas nama desa ataupun perangkat desa,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat kepada Jabarbicara.com.

Warga mengaku sebelumnya telah beberapa kali berupaya menyampaikan harapan agar pembangunan jalan tersebut mendapat perhatian pemerintah desa. Namun hingga berita ini ditayangkan, mereka menyatakan belum menerima bantuan maupun respons sebagaimana yang diharapkan.

Meski demikian, masyarakat memilih tidak larut dalam kekecewaan. Mereka tetap melanjutkan pembangunan sesuai kemampuan sambil berharap pemerintah desa, pemerintah kabupaten, maupun pemerintah provinsi dapat melihat langsung perjuangan masyarakat yang dilakukan secara mandiri.

“Kami tidak ingin hanya menunggu. Selama masih ada kebersamaan, pembangunan akan terus kami lanjutkan sedikit demi sedikit. Semoga pemerintah bisa melihat perjuangan masyarakat ini dan ikut membantu menyelesaikan jalan yang menjadi akses penting warga,” tutur salah seorang warga.»

Warga juga menegaskan bahwa jalan tersebut memiliki fungsi strategis karena menjadi akses penghubung dua desa yang dimanfaatkan setiap hari oleh masyarakat dari berbagai kalangan.

“Jalan ini menghubungkan Desa Margamulya dan Desa Panyindangan. Banyak warga dari kedua desa yang melintas setiap hari. Harapan kami, pemerintah dapat melihat manfaat besar jalan ini dan ikut membantu penyelesaiannya,” pungkasnya.»

Perjuangan warga Kampung Cikadu menjadi potret nyata bahwa semangat gotong royong masih menjadi kekuatan utama masyarakat pedesaan. Di saat bantuan belum kunjung hadir, mereka memilih bergerak. Di saat harapan belum sepenuhnya terjawab, mereka tetap bergandengan tangan membangun jalan dari hasil recehan yang dikumpulkan dengan penuh keikhlasan.

Kini, perjuangan itu bukan sekadar membangun jalan, melainkan menyampaikan pesan bahwa kebersamaan mampu melahirkan perubahan. Di sisi lain, kisah ini juga menjadi pengingat bahwa akses infrastruktur yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat semestinya memperoleh perhatian dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan agar semangat gotong royong warga tidak berjalan sendiri (JB/RF)

Exit mobile version