GARUT, JABARBICARA.COM – Tahun berganti. Angka pada kalender Hijriah bertambah satu. Namun sesungguhnya, pergantian tahun bukan sekadar perpindahan waktu. Ia adalah cermin yang mengajak manusia menatap dirinya sendiri dengan jujur: sudah sejauh mana hidup ini memberi arti bagi sesama?
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah hadir di tengah zaman yang bergerak sangat cepat. Dunia dipenuhi banjir informasi, tetapi sering kekurangan kebijaksanaan. Kebohongan menyebar hanya dalam hitungan detik. Kebencian diperdagangkan demi kepentingan. Ukuran keberhasilan kerap direduksi sebatas materi, popularitas, dan pencitraan.
Di tengah kondisi seperti itu, hijrah menemukan maknanya yang paling relevan.
Hijrah bukan sekadar berpindah tempat. Hijrah adalah keberanian berpindah dari kesombongan menuju kerendahan hati; dari amarah menuju kebijaksanaan; dari ketidakpedulian menuju kepedulian; dari menjadi penonton menjadi pelaku kebaikan.
Hijrah adalah revolusi sunyi yang dimulai dari dalam diri.
Kita boleh hidup di era digital, tetapi jangan kehilangan nurani. Kita boleh menguasai teknologi, tetapi jangan gagap menjaga etika. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan kehilangan adab sebagai sesama anak bangsa.
Filsuf besar Islam, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (1058–1111 M) dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulumuddin mengingatkan bahwa hakikat ilmu bukanlah banyaknya pengetahuan yang dihafal, melainkan ilmu yang melahirkan perubahan akhlak dan mendekatkan manusia kepada Allah. Menurut Al-Ghazali, manusia yang berhasil bukanlah mereka yang sekadar mengetahui kebenaran, melainkan mereka yang mampu mengamalkan kebenaran itu dalam kehidupan sehari-hari.
Pandangan tersebut terasa begitu aktual hari ini. Jangan sampai kita hidup di zaman yang serba canggih, tetapi miskin kejujuran. Jangan sampai pendidikan melahirkan orang-orang cerdas, namun kehilangan empati. Jangan sampai ibadah ramai dipertontonkan, sementara amanah dan integritas justru ditinggalkan.
Sementara itu, filsuf dan negarawan Muslim Abu Nasr Muhammad Al-Farabi (872–950 M) melalui gagasannya tentang Al-Madinah Al-Fadhilah atau “Negara Utama” menegaskan bahwa masyarakat yang baik dibangun oleh manusia-manusia utama yang menjadikan kebajikan sebagai tujuan hidup bersama. Kemajuan tidak hanya diukur dari kekuatan ekonomi dan teknologi, tetapi dari kualitas moral warga dan pemimpinnya.
Pesan Al-Farabi menjadi kritik tajam bagi kehidupan kekinian. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering merindukan hadirnya pribadi-pribadi yang jujur, amanah, sederhana, serta berani membela kebenaran.
Karena itu, Tahun Baru Islam 1448 Hijriah hendaknya menjadi momentum muhasabah kolektif. Sudahkah kita menjadi orang tua yang memberi teladan? Sudahkah kita menjadi pemimpin yang melayani? Sudahkah kita menjadi jurnalis yang menjaga nurani? Sudahkah kita menjadi warga yang peduli terhadap persoalan di sekitarnya?
Jangan sampai usia bertambah, tetapi kepekaan berkurang. Jangan sampai jabatan meningkat, tetapi tanggung jawab menghilang. Jangan sampai agama hanya berhenti pada simbol, sementara nilai-nilai keadilan, kasih sayang, dan kejujuran ditinggalkan.
Dari ruang redaksi JabarBicara.com, kami meyakini bahwa kata-kata memiliki tanggung jawab moral. Pers bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga akal sehat, merawat harapan, dan menghadirkan kritik yang lahir dari cinta kepada masyarakat.
Kritik bukan kebencian. Teguran bukan permusuhan. Sebab diam terhadap ketidakadilan sering kali menjadi bentuk pengkhianatan terhadap nurani.
Menyambut 1 Muharram 1448 Hijriah, marilah kita memulai hijrah kecil yang nyata: memperbaiki niat, memperhalus ucapan, menepati janji, menghargai perbedaan, membantu yang lemah, serta menebarkan manfaat di mana pun berada.
Semoga tahun baru ini menghadirkan keberkahan bagi keluarga, kesehatan bagi yang sedang berjuang, kemudahan rezeki bagi yang bekerja keras, keteguhan hati bagi para pemimpin, serta masa depan yang lebih baik bagi generasi penerus bangsa.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
1 Muharram 1448 H / 16 Juni 2026
“Hijrah Menuju Pribadi yang Lebih Baik, Menebar Manfaat untuk Umat.”
Mari menjadikan tahun ini bukan sekadar tahun yang baru, tetapi juga jiwa yang baru: lebih jujur dalam berpikir, lebih lembut dalam bersikap, lebih berani membela kebenaran, dan lebih tulus dalam mengabdi.
Redaksi JabarBicara.com
Drs. Idwan Kartiwan J., M.Pd.
CEO JabarBicara.com

