CIANJUR, JABARBICARA.COM — Kebahagiaan sederhana namun begitu bermakna terpancar dari wajah Rusdiana Rosita, atau yang akrab disapa Ochie. Di tengah suasana kenaikan kelas dan pesta prestasi siswa SDN Mekarsari, hati seorang ibu itu dipenuhi rasa syukur ketika putra tercintanya, Muhammad Siraz Al Munir, berhasil membawa pulang penghargaan Harapan II pada ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 tingkat Kecamatan Gekbrong.
Muhammad Siraz Al Munir, siswa kelas III A SDN Mekarsari yang kini naik ke kelas IV, merupakan anak kedua dari pasangan Rusdiana Rosita dan almarhum Asep Rosmanto. Sang ayah telah berpulang beberapa tahun lalu, meninggalkan kenangan, doa, dan harapan agar anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat serta berprestasi.
Di tengah keterbatasan dan kehilangan sosok kepala keluarga, Siraz justru menunjukkan semangat belajar yang patut diapresiasi. Ia berhasil meraih Harapan II dalam Lomba Borangan (Ngabodor Sorangan) pada ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) jenjang Pendidikan Dasar (SD) se-Kecamatan Gekbrong yang digelar pada 29 April 2026.
Penghargaan tersebut tertuang dalam Sertifikat Penghargaan yang ditandatangani Kepala Sekolah, Rohidin, S.Pd., M.M.Pd.
Bagi sebagian orang, predikat Harapan II mungkin dianggap belum menjadi puncak kemenangan. Namun bagi keluarga kecil Siraz, prestasi itu adalah buah dari kerja keras, keberanian, dan ketekunan seorang anak yang terus belajar menggapai mimpi.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur. Walaupun baru meraih Harapan II, ini menjadi kebanggaan bagi keluarga. Mudah-mudahan ke depannya Siraz bisa lebih giat belajar dan meningkatkan prestasinya,” ungkap Ochie dengan mata berbinar.
Ia mengaku, penghargaan tersebut bukan sekadar selembar sertifikat dan sebuah trofi. Di baliknya terdapat perjuangan seorang anak yang berlatih dengan sungguh-sungguh, serta doa seorang ibu yang setiap hari berharap anaknya mampu meraih masa depan yang lebih baik.
Prestasi Siraz menjadi pelengkap kebahagiaan dalam kegiatan kenaikan kelas dan pelepasan siswa SDN Mekarsari yang sebelumnya berlangsung penuh haru dan kegembiraan. Dalam acara bertajuk pelepasan siswa dan kenaikan kelas itu, halaman sekolah di Kampung Awilarangan, Desa Cikahuripan, Kecamatan Gekbrong, menjadi saksi tumbuhnya harapan-harapan baru dari anak-anak bangsa.
Sorot mata bangga para orang tua berpadu dengan senyum para guru yang selama ini menjadi saksi perjalanan tumbuh kembang anak didiknya. Mereka memahami bahwa setiap capaian anak, sekecil apa pun, lahir dari proses panjang yang tidak selalu mudah.
Kisah Muhammad Siraz Al Munir menjadi pengingat bahwa prestasi bukan hanya milik mereka yang berdiri dengan segala kelengkapan hidup. Terkadang, anak-anak yang tumbuh bersama kehilangan justru memiliki tekad lebih kuat untuk membuktikan bahwa keadaan bukanlah alasan untuk menyerah.
Barangkali, jika almarhum Asep Rosmanto masih berada di sisi putranya hari ini, ia akan tersenyum bangga melihat trofi kecil itu berdiri tegak di atas meja rumah. Sebab sesungguhnya, kemenangan terbesar bukanlah tentang menjadi juara pertama, melainkan keberanian untuk terus melangkah, bangkit, dan berusaha menjadi lebih baik dari hari kemarin.
Dari sudut sederhana sebuah rumah di Cianjur, trofi Harapan II itu kini menjelma menjadi simbol cinta, perjuangan, dan harapan. Sebuah bukti bahwa doa seorang ibu tak pernah mengenal batas, dan kerja keras seorang anak selalu menemukan jalannya menuju kebanggaan.
Semoga langkah kecil Muhammad Siraz Al Munir hari ini menjadi awal dari prestasi-prestasi besar di masa depan. Karena setiap mimpi yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, kelak akan menemukan waktunya untuk bersinar.(JB/RF)

