GARUT, JABARBICARA.COM – Di tengah derasnya arus polemik yang menerjang SMPN Satu Atap (Satap) 3 Caringin, Wahyu memilih hadir dengan kepala tertunduk, bukan karena kalah, melainkan untuk menjemput damai melalui sebuah kejujuran. Di ruang sederhana kediaman tokoh masyarakat Solihin Afsor di Desa Pamekarsari Banyuresmi Sabtu (07/03/2026).
Wahyu Kepala Sekolah ini menyampaikan klarifikasi yang bukan sekadar hak jawab, melainkan untaian doa dan harapan agar kegaduhan yang terjadi dapat bermuara pada solusi bagi pendidikan di pelosok Garut.
Didampingi Yuyun Yuningsih, istrinya yang juga seorang guru honorer selama 21 tahun di salah satu sekolah swasta, Wahyu membuka tabir realita di balik bendera yang usang dan tudingan miring yang dialamatkan padanya.
Dengan suara bergetar, ia mengakui kelalaiannya sebagai manusia biasa, sembari menceritakan getirnya perjuangan menembus jalanan rusak hingga harus “nombok” demi menunaikan tugas negara.
Keikhlasan Meminta Maaf atas Kelalaian
Poin utama yang disampaikan Wahyu adalah permohonan maaf yang mendalam terkait bendera Merah Putih yang sempat berkibar dalam kondisi tidak layak. Ia menegaskan bahwa hal tersebut adalah murni kekhilafan dan kelalaian karena keterbatasan pengawasan di lapangan, bukan bentuk kesengajaan apalagi pelecehan terhadap lambang negara.
“Saya secara pribadi memohon maaf. Saat itu juga, kami langsung menggantinya dengan yang baru. Ini menjadi teguran keras bagi saya, bahkan kakak saya selaku Kaban Kesbangpol menegur langsung untuk memastikan hal ini tidak terulang. Saya tidak bermaksud berlindung di balik jabatan kakak saya, saya terima koreksi rekan media sebagai pelajaran berharga,” ungkap Wahyu tulus.
Realita Pengabdian di Medan Terjal
Menjawab keluhan warga mengenai kehadirannya di kantor, Wahyu mengungkap fakta lapangan yang pedih. Medan berat menuju sekolah di pelosok Caringin seringkali menjadi musuh utama. Ia menceritakan bagaimana dirinya pernah terjatuh dari kendaraan roda dua akibat kondisi jalan yang rusak berat—sebuah risiko yang juga dirasakan guru-guru lain di sana.
Di sinilah peran Yuyun Yuningsih yang akrab disapa Yuni menjadi sorotan yang menyentuh hati. Sebagai istri, ia paham betul pahit getirnya pengabdian sang suami tercinta. “Tunjangan Kepala Sekolah tidak seberapa, tidak ada tunjangan perumahan atau daerah terpencil. Terkadang kami harus ‘nombok’ dari penghasilan saya sebagai guru honorer agar bapak bisa tetap berangkat bekerja menunaikan tugas negara. Saya sering was-was melepas bapak berangkat karena medannya yang berbahaya,” tutur Yuni dengan mata berkaca-kaca.
Transparansi PIP dan Keterbatasan Fasilitas
Terkait polemik Program Indonesia Pintar (PIP), Wahyu memastikan bahwa penyaluran telah dilakukan sesuai prosedur. Dari 50 siswa yang tercatat di Dapodik, 43 siswa telah menerima bantuan yang dicairkan langsung oleh orang tua atau wali murid.
“Pihak sekolah hanya membantu aktivasi. Buku rekening dan ATM sepenuhnya dipegang orang tua. Tidak ada penyelewengan. Mengenai selisih data di laman Kemendikdas, kami tidak tahu pasti, namun kami siap mempertanggungjawabkan setiap rupiahnya jika dianggap tidak prosedural,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan kondisi sekolah yang memprihatinkan. Sejak bertugas tahun 2023, Wahyu berjuang mengelola sekolah yang awalnya bahkan tidak memiliki kantor. Keterbatasan lahan memaksa mereka menggunakan bangunan milik SD untuk kegiatan belajar mengajar agar siswa tetap bisa mendapatkan hak pendidikan.
Menutup luka dengan garapan
menanggapi polemik ini, Solihin Afsor selaku Ketua Dewan Pembina IWO Indonesia Kabupaten Garut, mendesak Pemerintah Daerah untuk mengevaluasi penempatan guru yang jauh dari domisili. “Jangan selesaikan masalah dengan masalah baru. Penempatan di pelosok harus dibarengi dengan fasilitas dan kesejahteraan yang menjamin guru bisa fokus mengajar,” kritik Solihin.
Sebagai penutup, Wahyu menitipkan pesan yang menyentuh hati. Ia tidak lagi bicara soal data, melainkan soal hati seorang pendidik.
“Saya hanya ingin melihat anak-anak di Caringin punya masa depan yang lebih baik. Jika kekurangan saya hari ini menjadi pintu bagi pemerintah untuk lebih memperhatikan sekolah kami, maka saya ikhlas menerima segala teguran ini. Biarlah polemik ini gugur, dan yang tumbuh adalah kepedulian,” ucap Wahyu pelan sambil menggenggam tangan istrinya.
Hari itu, sebuah klarifikasi telah tuntas. Namun, perjuangan Yuni yang selalu nombok agar suami dapat menunaikan tugas di pelosok dan Wahyu yang harus menembus jalanan terjal Caringin masih akan terus berlanjut esok pagi—demi tugas, demi pengabdian, dan demi Merah Putih tercinta yang kini telah berkibar baru di upuk terjauh Kabupaten Garut. [JB/RF]







