Site icon JABARBICARA.COM

SSC Bergerak, Cimanuk Terjaga! Edukasi Lingkungan, Mitigasi Bencana, dan Kepedulian Sosial Menjadi Satu Gerakan

GARUT, JABARBICARA.COM – Di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim dan ancaman kerusakan lingkungan, Sekolah Sungai Cimanuk (SSC) terus menunjukkan komitmennya melalui aksi nyata. Berbasis di Kampung Narontong, Desa Mulyasari, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, komunitas pendidikan lingkungan ini konsisten menggabungkan edukasi, pelestarian alam, mitigasi bencana, dan kepedulian sosial dalam satu gerakan yang melibatkan masyarakat.

Komitmen tersebut mendapat dukungan moral ketika Kepala Desa Mulyasari, Ahmad Yusuf, berkunjung ke Sekolah Sungai Cimanuk pada 25 Juni 2026. Kehadirannya disambut hangat oleh Kepala SSC, Yanto Rangkuti, bersama para relawan.

Bagi SSC, kunjungan tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan berbagai program edukasi lingkungan yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kehadiran Bapak Kepala Desa merupakan sebuah kehormatan dan menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berinovasi, memberikan edukasi, serta berkarya demi menjaga kelestarian Sungai Cimanuk dan lingkungan,” ujar Yanto.

Dalam kesempatan itu, Ahmad Yusuf menyampaikan apresiasinya terhadap keberadaan Sekolah Sungai Cimanuk yang dinilai menjadi ruang belajar masyarakat mengenai pentingnya menjaga sungai, melestarikan alam, serta membangun budaya peduli lingkungan sejak dini.

“Keberadaan Sekolah Sungai Cimanuk merupakan hal yang sangat positif. Tempat ini menjadi pusat edukasi bagi masyarakat, khususnya tentang pentingnya menjaga Sungai Cimanuk, menjaga lingkungan, dan melestarikan alam,” katanya.

Komitmen SSC kembali diwujudkan melalui kegiatan bertajuk “Jumat Bersih, Jumat Menanam, dan Sosialisasi Masyarakat Peduli Api” yang digelar di Sekolah Sungai Cimanuk, Jumat (26/6/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan berkelanjutan SSC dalam menjaga kelestarian daerah aliran Sungai Cimanuk sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mitigasi bencana menghadapi musim kemarau dan meningkatnya risiko kebakaran hutan maupun lahan.

Kepala SSC Wilayah Bayongbong, Yanto Rangkuti, menjelaskan bahwa perubahan iklim dan cuaca ekstrem merupakan tantangan nyata yang harus dihadapi bersama melalui edukasi dan aksi nyata.

“Cuaca ekstrem itu nyata. Karena itu kita harus peduli terhadap masyarakat, saling mengingatkan, dan bersama-sama menjaga lingkungan agar risiko bencana dapat dicegah sejak dini,” tegasnya.

Yanto menambahkan, kegiatan yang dilaksanakan SSC bukanlah kegiatan sesaat. Selama ini SSC telah beberapa kali menggelar edukasi lingkungan, aksi bersih sungai, penghijauan, dan kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat. Tingginya partisipasi warga menjadi dorongan bagi SSC untuk terus mengembangkan gerakan tersebut sebagai agenda rutin yang mampu membangun budaya cinta lingkungan secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, SSC mengajak seluruh masyarakat Garut untuk tidak membuang sampah ke sungai, memperbanyak penanaman pohon, menjaga kebersihan daerah aliran sungai, serta meningkatkan kewaspadaan melalui Gerakan Masyarakat Peduli Api (MPA) guna mencegah kebakaran hutan dan lahan di tengah musim kemarau.

Tak hanya peduli terhadap lingkungan, SSC juga menunjukkan kepedulian sosial dengan memberikan santunan kepada anak-anak kurang mampu. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan gotong royong membersihkan saluran air dan penanaman bibit pohon sebagai simbol harapan bagi lingkungan yang lebih hijau dan lestari.

Gerakan yang dibangun Sekolah Sungai Cimanuk membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari komunitas yang memiliki kepedulian dan konsistensi. Di saat berbagai persoalan lingkungan masih menjadi tantangan, SSC memilih bergerak dengan aksi nyata, mengedukasi masyarakat, memperkuat mitigasi bencana, serta menumbuhkan semangat gotong royong.

SSC berharap gerakan ini terus mendapat dukungan dari pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, dan masyarakat luas sehingga kepedulian terhadap Sungai Cimanuk tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi budaya bersama demi mewujudkan Garut yang lebih hijau, tangguh, dan berkelanjutan.(JB/RF)

Exit mobile version