GARUT, JABARBICARA.COM – Harapan baru menyelimuti keluarga besar SDN 4 Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut. Setelah berbulan-bulan menunggu kepastian perbaikan bangunan sekolah yang mengalami kerusakan, Koordinator Pengawas Sekolah, Teti Pebriani, S.Pd., M.Pd., yang sebelumnya menjabat sebagai Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan Kecamatan Wanaraja dan sempat dibebastugaskan, memastikan usulan perbaikan sekolah tersebut telah disampaikan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Garut.
Menurut Teti Pebriani, pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan agar kondisi SDN 4 Cinunuk segera mendapat perhatian pemerintah.
“Sudah diajukan ke Disdik, Kang. Insya Allah, mudah-mudahan sesuai informasi dari Pak Kasi Sarana, perbaikan SDN 4 Cinunuk bisa masuk ke anggaran perubahan,” ujar Teti saat memberikan keterangan klarifikasi melalui WA ke media, Selasa (21/7/2026).
Pernyataan tersebut menjadi angin segar bagi para guru, tenaga kependidikan, siswa, serta masyarakat sekitar yang selama ini menantikan kepastian perbaikan ruang kelas yang mengalami kerusakan.
Sebelumnya, salah satu ruang kelas SDN 4 Cinunuk mengalami ambruknya plafon pada Desember 2025. Beruntung, peristiwa tersebut terjadi saat kegiatan belajar mengajar sedang libur sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Namun hingga kini, ruang kelas tersebut masih belum mendapatkan perbaikan.
Pelaksana Tugas (PLT) Kepala SDN 4 Cinunuk, Dindin Saripudin, S.Pd., mengatakan pihak sekolah telah melaporkan kerusakan tersebut kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Garut sejak kejadian berlangsung.
“Kami berharap perbaikan dapat segera direalisasikan agar siswa dapat belajar dengan aman dan nyaman,” ujarnya.
Pantauan JABARBICARA.COM di lokasi menunjukkan salah satu ruang kelas masih tanpa plafon. Rangka atap baja ringan terlihat jelas, sementara proses belajar mengajar tetap berlangsung dengan penuh kehati-hatian.
Tenaga pendidik SDN 4 Cinunuk, Asep, mengungkapkan bahwa warga sekolah khawatir kerusakan serupa dapat terjadi pada ruang kelas lainnya.
“Kami khawatir plafon di bangunan lain juga bisa ambruk sewaktu-waktu. Keselamatan siswa menjadi prioritas kami,” katanya.
Menurut Asep, plafon yang ambruk merupakan bagian dari bangunan yang dibangun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2018 dengan konstruksi atap baja ringan. Sementara tiga bangunan lainnya mulai mengalami pelapukan pada bagian atap karena faktor usia dan sudah cukup lama belum mendapatkan rehabilitasi.
Ia juga menyampaikan bahwa Pemerintah Desa Cinunuk telah ikut melaporkan kondisi tersebut kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Garut. Namun hingga kini sekolah masih menunggu realisasi perbaikan.
Di balik keterbatasan sarana dan prasarana, SDN 4 Cinunuk justru menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Pada tahun ajaran 2024/2025 sekolah hanya menerima lima siswa baru. Namun pada tahun ajaran 2026/2027 jumlah peserta didik baru meningkat menjadi 13 siswa, sehingga kini total siswa SDN 4 Cinunuk mencapai 62 orang.
Peningkatan tersebut menjadi bukti bahwa dedikasi para guru dan tenaga kependidikan berhasil menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap sekolah yang berada di Kampung Tunggilis, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, di wilayah perbatasan dengan Desa Sadang, Kecamatan Sucinaraja.
Meski demikian, sekolah dengan jumlah peserta didik yang relatif sedikit masih menghadapi tantangan keterbatasan anggaran. Formula Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) yang dihitung berdasarkan jumlah siswa menyebabkan sebagian besar dana habis untuk kebutuhan operasional rutin, sehingga alokasi pemeliharaan bangunan menjadi sangat terbatas.
Dengan adanya kepastian dari Koordinator Pengawas Sekolah, Teti Pebriani, S.Pd., M.Pd., bahwa usulan perbaikan telah disampaikan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Garut dan diharapkan dapat masuk dalam anggaran perubahan, warga sekolah kini menaruh harapan besar agar proses tersebut segera terealisasi.
Bagi para guru, tenaga kependidikan, dan puluhan siswa SDN 4 Cinunuk, perbaikan bangunan bukan sekadar renovasi fisik. Lebih dari itu, perbaikan merupakan kebutuhan mendesak untuk menjamin keselamatan, kenyamanan, dan keberlangsungan proses belajar mengajar, sehingga semangat para pendidik yang telah berhasil meningkatkan kepercayaan masyarakat dapat terus tumbuh seiring hadirnya perhatian nyata dari pemerintah. (JB/RF)

