DULU RAWAN PUTUS SEKOLAH, KINI HAMPIR NOL! Yayasan As-Saefulloh Garut Jadi Harapan Baru Anak-Anak Desa Situsari

Garut, Pendidikan131 Dilihat

GARUT, JABARBICARA.COM – Komitmen nyata dalam memperluas akses pendidikan kembali ditunjukkan Yayasan As-Saefulloh Garut melalui SMP As-Saefulloh. Berbekal semangat menghadirkan pendidikan yang inklusif, yayasan tersebut terus bergerak membantu anak-anak yang terancam putus sekolah, khususnya di Desa Situsari, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut.

Langkah yang dilakukan bukan sekadar membuka akses pendidikan, tetapi juga membangun harapan baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu agar tetap dapat mengenyam bangku sekolah dan meraih masa depan yang lebih baik.

Jbr3
Jbr4
Jbr1
Jbr yudi

Berdasarkan data tahun 2021, Desa Situsari sempat menghadapi persoalan serius tingginya angka anak yang tidak melanjutkan pendidikan setelah lulus Sekolah Dasar (SD). Kondisi tersebut menjadi perhatian berbagai pihak karena berpotensi menghambat peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah tersebut.

Baca Juga:  Diskominfo dan BPS Garut Perkuat Sinergi Pengelolaan Data Statistik Sektoral

Namun, situasi itu perlahan berubah sejak hadirnya Yayasan As-Saefulloh beserta SMP As-Saefulloh. Kehadiran lembaga pendidikan tersebut dinilai berhasil menjadi solusi nyata dalam menekan angka putus sekolah.

Kepala Desa Situsari, Asep Ridwan, S.H., mengakui dampak positif yang dirasakan masyarakat sejak berdirinya yayasan tersebut.

“Sebelumnya, angka anak yang berhenti di tingkat SD cukup tinggi. Namun alhamdulillah, sejak adanya Yayasan dan SMP As-Saefulloh, saat ini hampir tidak ada anak di desa kami yang putus sekolah. Kalaupun ada satu atau dua orang per angkatan yang terkendala, pihak yayasan dan desa terus melakukan pendekatan serta edukasi agar mereka mau kembali belajar,” ungkapnya.

Tak hanya memberikan motivasi, Yayasan As-Saefulloh juga menghadirkan berbagai bentuk bantuan nyata. Di bawah kepemimpinan Jajang Saepuloh, S.IP., M.Si., yayasan menyediakan seragam sekolah gratis bagi siswa dari keluarga kurang mampu maupun anak-anak yang berisiko putus sekolah.

Menurut Jajang Saepuloh, pendidikan merupakan hak dasar setiap anak yang tidak boleh terhenti hanya karena keterbatasan ekonomi.

“Pendidikan adalah hak setiap anak. Kami di Yayasan As-Saefulloh berkomitmen merangkul anak-anak yang memiliki berbagai kendala agar tetap bisa menuntaskan sekolahnya. Bantuan seragam gratis dan pendampingan ini merupakan ikhtiar kami agar tidak ada lagi alasan anak berhenti belajar hanya karena keterbatasan biaya,” tegasnya.

Kolaborasi antara Yayasan As-Saefulloh dan Pemerintah Desa Situsari pun menjadi contoh sinergi yang patut diapresiasi. Melalui kepedulian, pendampingan, serta dukungan nyata terhadap masyarakat, upaya tersebut berhasil membangun optimisme baru bahwa setiap anak berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan.

Lebih dari sekadar menekan angka putus sekolah, langkah ini menjadi investasi jangka panjang dalam menciptakan generasi yang lebih cerdas, mandiri, dan berdaya saing. Keberhasilan tersebut sekaligus mendukung program Pemerintah Kabupaten Garut melalui Dinas Pendidikan dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya pada sektor pendidikan.

Di tengah masih adanya tantangan pendidikan di sejumlah daerah, kisah Desa Situsari menjadi bukti bahwa kepedulian, kolaborasi, dan aksi nyata mampu mengubah masa depan. Ketika sekolah hadir untuk merangkul, tidak ada lagi anak yang harus mengubur cita-citanya hanya karena keterbatasan ekonomi. (JB/RF)

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *