GARUT,JABARBICARA.COM– Denyut aktivitas Pasar Rakyat Wanaraja kini dibayangi persoalan klasik yang tak kunjung tuntas: sampah menggunung. Selama hampir sepekan, tumpukan limbah terlihat menguasai area Tempat Pembuangan Sementara (TPS), memicu keluhan pedagang dan pengunjung yang harus berhadapan dengan bau menyengat , bisa jadi sumber penyakit dan lingkungan yang kian tak layak.
Namun di balik kondisi tersebut, muncul fakta yang menampar. Ketua Ikatan Warga dan Pedagang Pasar (IWAPA) Wanaraja, H. Ali Nurdin atau yang akrab disapa H. Ceceng, menegaskan bahwa sumber masalah bukan sepenuhnya berasal dari aktivitas pasar.
“Kalau dari pasar sendiri, sehari hanya sekitar 3 sampai 4 gerobak. Sampah sayuran sudah banyak diambil untuk pakan ternak, plastik juga dipungut pemulung. Artinya, volume sampah pasar itu sebenarnya kecil,”ungkapnya, Senin (04/05/2026).
Lonjakan sampah, menurutnya, dipicu oleh kebiasaan sebagian warga luar pasar yang menjadikan TPS pasar sebagai tempat pembuangan alternatif. Minimnya fasilitas TPS di lingkungan permukiman diduga menjadi penyebab utama.
“Kita juga tidak bisa menyalahkan warga. Kalau di lingkungan mereka tidak ada TPS atau pengolahan sampah, ya akhirnya dibuang ke sini,” katanya.
Situasi ini menempatkan pasar rakyat pada posisi yang tidak adil—menanggung beban sampah dari luar, sementara kewajiban internal justru dijalankan dengan disiplin. IWAPA, kata H. Ceceng, tidak pernah lalai dalam membayar retribusi sampah.
Setiap bulan, sekitar Rp6,7 juta digelontorkan untuk pengelolaan.
Sebesar Rp5,5 juta disetor ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) melalui Dinas Lingkungan Hidup (LH), ditambah Rp1,2 juta untuk membantu kebutuhan solar operasional di tingkat kecamatan.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tajam: ke mana arah kebijakan pengelolaan sampah daerah jika pihak yang patuh justru tetap terjebak dalam persoalan yang sama?
IWAPA pun mendesak pemerintah daerah untuk tidak lagi mengandalkan solusi jangka pendek. Penanganan harus menyentuh akar masalah.
“Kami butuh solusi permanen. Penyediaan TPS di lingkungan warga itu penting. Kalau tidak, pasar akan terus jadi tempat pelarian sampah,” tegasnya.
Lebih dari sekadar persoalan kebersihan, tumpukan sampah di pasar rakyat menyimpan ancaman serius. Aktivitas jual beli terganggu, kenyamanan pengunjung menurun, hingga risiko kesehatan masyarakat meningkat. Dalam jangka panjang, hal ini bisa merusak kepercayaan publik terhadap pengelolaan fasilitas umum.
Pasar Wanaraja hari ini bukan hanya berbicara tentang sampah, tapi tentang ketimpangan tanggung jawab. Ketika pedagang sudah menjalankan kewajibannya, maka sudah seharusnya pemerintah hadir dengan sistem yang adil, terencana, dan berkelanjutan.
Tanpa itu, pasar rakyat akan terus menjadi korban dari masalah yang seharusnya bisa diselesaikan di hulu.(JB/RF)








