Dapur Rakyat Tertekan, Fajar Alamsyah: Kenaikan Harga Pangan, Migor, BBM, dan Kelangkaan LPG Alarm Krisis Ekonomi Nyata

Bandung339 Dilihat

BANDUNG, JABARBICARA.COM – Kenaikan harga bahan pokok komoditas strategis seperti beras, cabai, bawang, daging yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir semakin menekan kondisi ekonomi masyarakat. Situasi ini diperparah oleh minyak goreng, bahan bakar minyak (BBM), serta kelangkaan gas LPG di sejumlah wilayah yang menyebabkan harga semakin tidak terjangkau.

Pengamat pangan, Fajar Alamsyah, menilai bahwa kondisi tersebut merupakan tekanan ekonomi berlapis yang terjadi secara bersamaan dan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Idwan fitri
Dede fitri

“Masyarakat saat ini tidak hanya menghadapi kenaikan harga pangan, tetapi juga kelangkaan LPG yang membuat harga semakin mahal. Ini adalah tekanan nyata yang dirasakan langsung oleh rumah tangga,” ujarnya, Rabu [06/05/2026]

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pada awal tahun 2026 masih didominasi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan komoditas seperti beras, cabai, telur ayam, dan daging sebagai penyumbang utama.

Selain itu, kenaikan harga minyak goreng dan BBM turut memperbesar tekanan ekonomi, karena berdampak pada biaya produksi dan distribusi barang.

Di tengah kondisi tersebut, muncul persoalan tambahan berupa kelangkaan LPG, yang semakin memperburuk situasi di lapangan.

Baca Juga:  RILIS..Harga BBM Terbaru Resmi Di Semua SPBU RI Berlaku Mulai Hari Ini, Minggu 9 Maret 2025

Kelangkaan LPG menyebabkan masyarakat kesulitan memperoleh kebutuhan energi rumah tangga. Di sejumlah wilayah, kondisi ini juga mendorong kenaikan harga di atas harga normal.

Dampak yang dirasakan antara lain:

  1. Kesulitan memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari
  2. Meningkatnya pengeluaran rumah tangga
  3. Beban tambahan bagi pelaku usaha kecil dan UMKM
  4. Peralihan ke sumber energi alternatif yang kurang efisien

“Kelangkaan ini membuat masyarakat harus mencari dengan susah dan membeli dengan harga lebih mahal. Ini jelas memperberat beban ekonomi,” jelas Fajar Alamsyah.

Menurut Fajar Alamsyah, kenaikan harga pangan, minyak goreng, BBM, serta kelangkaan LPG menciptakan efek berantai yang saling berkaitan.

Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya transportasi dan distribusi, sementara mahal dan langkanya LPG meningkatkan biaya rumah tangga serta produksi usaha kecil. Di sisi lain, harga minyak goreng yang tinggi berdampak langsung pada konsumsi harian masyarakat.

“Ketika energi terganggu, maka sistem pangan ikut terdampak. Ini adalah rangkaian masalah yang tidak bisa dipisahkan,” tegasnya.

Dampak terhadap Daya Beli Masyarakat
Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Pengeluaran untuk kebutuhan dasar, baik pangan maupun energi, meningkat secara signifikan, sehingga mengurangi kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

Baca Juga:  Berikut Daftar 5 Masjid Besar di Kota Bandung yang Gelar Salat Idul Fitri 1446 Hijriah

Sebagian masyarakat mulai melakukan penyesuaian, seperti mengurangi konsumsi pangan tertentu dan menghemat penggunaan energi.

“Jika sebagian besar pendapatan hanya digunakan untuk kebutuhan dasar, maka kesejahteraan masyarakat akan semakin tertekan,” ujar Fajar Alamsyah.

Lebih lanjut, kondisi ini dinilai berpotensi menekan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Barat yang mencakup aspek kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.

Pada aspek kesehatan, penurunan konsumsi pangan bergizi dapat memengaruhi kualitas kesehatan masyarakat.

Pada aspek pendidikan, tekanan ekonomi dapat mengurangi kemampuan rumah tangga dalam membiayai pendidikan.

Pada aspek standar hidup, melemahnya daya beli berdampak pada penurunan kesejahteraan.

“Kenaikan harga pangan dan energi secara bersamaan merupakan tekanan serius terhadap kualitas pembangunan manusia,” tegasnya.

Fajar menilai bahwa kondisi ini tidak terlepas dari sejumlah persoalan struktural, antara lain distribusi LPG yang belum merata, lemahnya pengawasan terhadap harga dan pasokan, serta kebijakan yang belum terintegrasi antara sektor pangan dan energi.

Dalam hal ini, pemerintah memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas harga dan menjamin ketersediaan kebutuhan dasar masyarakat.

Baca Juga:  Daddy Rohanady: APBD Bukan ATM untuk BUMD, PT. BIJB Harus Mandiri

Namun, kondisi yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa upaya pengendalian belum sepenuhnya efektif dalam menahan tekanan harga dan kelangkaan di lapangan.

“Pemerintah perlu memperkuat pengawasan dan memastikan distribusi berjalan dengan baik agar masyarakat tidak terus dirugikan,” ujarnya.

Risiko dan Dampak Jangka Panjang
Apabila kondisi ini tidak segera ditangani, dampak yang ditimbulkan dapat meluas, seperti meningkatnya angka kemiskinan, melemahnya daya beli, serta bertambahnya kesenjangan sosial.

Selain itu, tekanan terhadap IPM juga berpotensi menghambat peningkatan kualitas sumber daya manusia di Jawa Barat.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Fajar Alamsyah mendorong:

  1. Menjamin ketersediaan dan kelancaran distribusi LPG
  2. Mengendalikan harga LPG di tingkat masyarakat
  3. Stabilisasi harga bahan pokok dan minyak goreng
  4. Pelaksanaan operasi pasar secara berkelanjutan
  5. Pemberian subsidi yang tepat sasaran
  6. ⁠Peningkatan pengawasan terhadap distribusi dan harga

Kenaikan harga bahan pokok yang disertai mahalnya minyak goreng, BBM, serta kelangkaan LPG merupakan tantangan serius yang harus segera ditangani secara komprehensif.

“Ketersediaan dan keterjangkauan kebutuhan dasar masyarakat harus menjadi prioritas utama. Jika tidak, maka dampaknya akan semakin luas terhadap ekonomi dan kualitas hidup masyarakat,” tutup Fajar Alamsyah. [Red/JB]

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *