Polemik Wisata Belum Usai, Sucinaraja Kembali Disorot: Kini Menu MBG Dikeluhkan Siswa SD

Garut, Pendidikan247 Dilihat

GARUT, JABARBICARA.COM — Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut, kembali menjadi sorotan publik. Setelah sebelumnya ramai diberitakan Media terkait polemik wisata kepala sekolah, operator sekolah, pengawas, hingga penilik pendidikan ke Pangandaran di tengah jam kerja dan konflik yang melebar saling tuding antar Kepala Sekolah, kini perhatian masyarakat beralih pada pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Sucinaraja Garut .

Sorotan itu mencuat setelah redaksi menerima sebuah video pendek berdurasi sekitar 35 detik yang memperlihatkan sejumlah siswa sekolah dasar negeri di Kecamatan Sucinaraja tengah menunjukkan menu MBG yang diterima pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Idwan fitri
Dede fitri

Dalam video singkat tersebut, para siswa tampak memegang paket makanan sambil menyampaikan keluhan terkait salah satu menu yang diterima, yakni buah apel berukuran kecil.

Saat ditanya dalam rekaman video, beberapa siswa secara spontan mengutarakan keluhan menggunakan bahasa Sunda.
“Teu niat merena ge,” ujar salah seorang siswa dalam bahasa Sunda.

Baca Juga:  Yayasan Amanah Aminah Maemunah, Gelar Kegiatan Bersama Kader Posyandu di Pangatikan

Siswa lainnya juga mengeluhkan rasa “Apel Mungil” yang menurut mereka masih mentah dan terasa “sepet pait” saat dikonsumsi.
“Apelna kecil-kecil, masih mentah lagi, sepet pait,” ucap siswa lainnya dalam video tersebut.

Ungkapan polos dari para siswa itu sontak memantik perhatian dan menimbulkan tanda tanya baru mengenai kualitas paket MBG yang diterima peserta didik di wilayah tersebut.

Berdasarkan pantauan dari video yang diterima redaksi, menu MBG yang dibagikan tampak berisi satu kotak susu merk Ultra, makanan ringan berupa kue kecil, serta satu buah apel berukuran kecil.

Namun hingga kini, belum diketahui secara pasti dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mana yang mendistribusikan paket MBG tersebut ke sejumlah sekolah dasar di Kecamatan Sucinaraja yang membagikan Apel kecil mentah. Meski demikian, informasi awal menyebut lokasi dapur MBG berada di wilayah Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut.

Baca Juga:  Wamendagri Bima Arya, Dorong Penataan Humanis PKL dan Pengembangan Kreativitas di Garut

Polemik ini pun memunculkan pertanyaan publik mengenai standar kualitas bahan pangan yang disalurkan dalam program nasional tersebut.
Pasalnya, program MBG yang digagas pemerintah bertujuan meningkatkan kualitas gizi peserta didik, sehingga mutu makanan yang diterima siswa menjadi perhatian penting termasuk buah buahan , termasuk dari sisi kelayakan konsumsi, kesegaran bahan pangan, serta nilai gizinya.

Sejumlah pihak mulai mendorong agar ada evaluasi terhadap kualitas distribusi makanan di lapangan, terutama apabila ditemukan bahan pangan yang dinilai kurang layak atau tidak sesuai harapan peserta didik.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak terkait, baik dari pengelola dapur MBG/SPPG yang mendistribusikan paket makanan tersebut maupun instansi terkait lainnya.

Redaksi masih terus melakukan penelusuran guna memastikan asal distribusi paket MBG yang diterima siswa sekolah dasar di wilayah Sucinaraja, termasuk menggali keterangan dari pihak sekolah dan pelaksana program.

Sorotan terhadap Sucinaraja sendiri sebelumnya telah menguat setelah sejumlah kepala sekolah, operator sekolah, Stap Korwil Pendidikan, pengawas sekolah, hingga penilik pendidikan menjadi perhatian media terkait kegiatan wisata ke Pangandaran yang berlangsung di tengah jam kerja.

Baca Juga:  Merajut Silaturahmi di Pendopo Garut: Saat Bupati Syakur Amin Membuka Pintu Hati untuk Rakyat

Kala itu, Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Ai Sadidah, sempat menyatakan akan melakukan follow up terhadap polemik yang berkembang.
Namun hingga Minggu, 17 Mei 2026, belum terdapat penjelasan resmi mengenai hasil tindak lanjut tersebut. Sejumlah pesan konfirmasi yang dikirimkan media melalui aplikasi WhatsApp juga dilaporkan belum mendapat respons.

Kini, ketika persoalan baru kembali muncul di wilayah yang sama di Sejumlah Sekolah di Kecamatan Sucinaraja , publik mulai mempertanyakan sejauh mana pengawasan terhadap kualitas layanan pendidikan, termasuk implementasi program MBG di tingkat sekolah dasar.
Sebab di balik tujuan besar meningkatkan gizi anak sekolah, satu hal yang paling mendasar tetap menjadi perhatian: makanan bergizi tidak hanya harus tersedia, tetapi juga layak, berkualitas, dan diterima dengan baik oleh anak-anak sebagai penerima manfaat utama.  (JB/RF)

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *