oleh Anto Ramadhan (Pengamat Budaya Tinggal di Cicadas Bandung)
Ketika banyak daerah di Indonesia masih bergulat dengan gunungan sampah plastik, lahir sebuah inovasi yang mengubah cara pandang kita terhadap limbah. Namanya Petasol ( Plastik Energi Terobosan Alternatif Setara Solar) , bahan bakar alternatif hasil pengolahan sampah plastik melalui teknologi pirolisis yang dikembangkan oleh para peneliti Indonesia. Kehadirannya bukan sekedar inovasi energi, melainkan tawaran solusi atas persoalan lingkungan yang ini tak kunjung selesai.
Kata Petasol ( Plastik Energi Terobosan Alternatif Setara Solar) pertama kali disebut oleh Peneliti BRIN, Tri Martini Patria, ia menyebut pemanfaatan limbah plastik melalui teknologi pirolisis ini dapat mengurangi emisi hingga 79 persen dibandingkan praktik pembakaran sampah secara terbuka. Ia juga menjelaskan bahwa kualitas Petasol ini telah memenuhi standar bahan bakar diesel sehingga berpotensi digunakan pada sektor perikanan maupun pertanian.
Dari sudut pandang akademik lingkungan, Petasol dapat dipandang sebagai bentuk penerapan circular economy yang selama ini didorong banyak pakar keberlanjutan dunia.
Bandung sedang menghadapi paradoks. Di satu sisi, ia dikenal sebagai kota kreatif, kota pendidikan, dan kota dengan sejarah intelektual yang panjang. Namun di sisi lain, Bandung juga tengah bergulat dengan persoalan yang sangat mendasar, yaitu sampah.
Data Pemerintah Kota Bandung menunjukkan bahwa produksi sampah harian mencapai sekitar 1.500 ton per hari. Sementara kemampuan pengolahan di dalam kota masih jauh dari ideal sehingga sebagian besar sampah masih bergantung pada TPA Sarimukti.
Persoalan ini bukan sekadar angka statistik, tetapi warga Bandung langsung merasakannya . Di berbagai sudut kota, tumpukan sampah masih mudah ditemukan. Bahkan dalam berbagai diskusi warga di media sosial, muncul keluhan bahwa Bandung semakin terlihat kumuh akibat persoalan sampah yang tak kunjung tuntas.
Di tengah situasi tersebut, muncul inovasi bernama Petasol ( Plastik Energi Terobosan Alternatif Setara Solar) , bahan bakar alternatif hasil pengolahan sampah plastik melalui teknologi pirolisis yang dikembangkan BRIN. Kepala BRIN, Arif Satria, menyebut Petasol sebagai solusi yang mampu menjawab dua persoalan sekaligus: pengurangan sampah plastik dan penyediaan energi alternatif. (Warta Pontianak)
Bagi Bandung, Petasol bukan sekadar solusi teknologi. Ia bisa menjadi simbol perubahan cara berpikir. Selama ini sampah plastik dianggap residu yang harus dibuang sejauh mungkin dari kota. Padahal, dengan pendekatan teknologi yang tepat, sampah plastik dapat menjadi sumber energi yang bernilai ekonomi.
Saking menariknya, gagasan ini juga mulai mendapat perhatian kalangan legislatif. DPRD Jawa Barat pada awal 2026, secara terbuka mendorong percepatan implementasi Petasol sebagai salah satu solusi krisis sampah di Bandung Raya. Mereka melihat teknologi pengolahan plastik menjadi bahan bakar sebagai alternatif yang layak dipertimbangkan di tengah keterbatasan kapasitas TPA dan meningkatnya volume sampah perkotaan. (merdeka.com)
Jika kita melihat arah kebijakan Wali Kota Bandung M. Farhan, Kota Bandung saat ini, sebenarnya terdapat titik temu yang menarik. Pemkot Bandung sedang mendorong pengolahan sampah berbasis RW, menyiapkan ribuan petugas pemilah sampah, dan menargetkan peningkatan kapasitas pengolahan sampah di dalam kota.
Bayangkan bila plastik-plastik yang selama ini menumpuk di TPS, pasar tradisional, atau kawasan padat penduduk dapat dipilah lalu diolah menjadi bahan bakar untuk kendaraan operasional kebersihan, alat pertanian perkotaan, atau bahkan mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Nilai ekonomi sampah akan meningkat. Warga tidak lagi melihat plastik sebagai limbah, tetapi sebagai komoditas.
Tentu Petasol bukan obat mujarab. Ia tidak akan menyelesaikan seluruh masalah sampah Bandung. Sampah organik tetap harus dikelola dengan kompos atau biodigester. Program pengurangan plastik tetap harus berjalan. Edukasi masyarakat tetap menjadi kunci utama.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hadayat dalam lawatannya di Bandung (Mei 2026) mengatakan, persoalan sampah di Bandung Raya sudah berada pada tahap krusial dan tidak bisa lagi ditangani secara parsial oleh masing-masing daerah. Ia meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi untuk “guyub” atau kompak dalam menyelesaikan persoalan sampah yang mencapai ribuan ton per hari. (Galamedia News)
“Kalau semua serius dan bekerja sama, pelan-pelan persoalan sampah ini pasti bisa diselesaikan.” tegas Jumhur.
Di kutip dari Harian Umum Pikiran Rakyat ,
Jumhur juga menegaskan bahwa birokrasi tidak boleh menjadi penghambat penyelesaian masalah sampah. Ia bahkan mengkritik pejabat yang tidak mampu memberikan pelayanan publik secara efektif.
Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, tampaknya memahami bahwa masalah sampah Bandung tidak cukup diselesaikan dengan menambah armada angkut atau memperluas TPA tetapi ia justru lebih mengapresiasi model pengelolaan sampah yang mampu menciptakan nilai ekonomi. Ia menambahkan bahwa masa depan Bandung bukan pada seberapa jauh sampah dibuang, melainkan seberapa banyak sampah yang dapat diolah menjadi energi, bahan baku, dan berbagai produk turunan lainnya sekaligus menambah lapangan kerja baru. Dalam konteks itulah Petasol menemukan relevansinya. Plastik yang selama ini menjadi simbol kegagalan lingkungan, dapat diubah menjadi simbol inovasi dan kemandirian energi.
Contoh yang lebih relevan dengan gagasan Petasol, yaitu saat Jumhur meninjau Pasar Induk Caringin Bandung . Ia justru memberikan apresiasi terhadap model pengelolaan sampah yang menghasilkan nilai ekonomi. Ia memuji pengolahan sampah yang menghasilkan bioetanol, pakan ternak, dan berbagai produk turunan lainnya.
“Sampah tidak boleh hanya dimusnahkan, tetapi harus diubah menjadi sumber nilai tambah dan lapangan kerja hijau (green jobs).” kata mantan aktivis ini.
Jika pandangan Jumhur tersebut ditarik ke konteks Petasol, maka ada benang merah yang kuat. Filosofi yang ia dorong bukan sekadar “membuang sampah”, melainkan “mengubah sampah menjadi sumber daya”. Karena itu, teknologi seperti Petasol—yang mengubah plastik menjadi bahan bakar—sejalan dengan pendekatan ekonomi sirkular yang sedang didorong pemerintah.
Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2026, ada beberapa komentar, komitmen, dan kebijakan utama yang disampaikan oleh Mentri Lingkungan Hidup /Kepala BPKH Mohamad Jumhur Hidayat yaitu :
Gerakan Pilah Sampah Serentak
Jumhur mengapresiasi langkah inovatif daerah dalam pengelolaan sampah dan mengajak seluruh pemerintah daerah untuk menyinkronkan gerakan memilah sampah dari sumbernya demi menekan krisis darurat sampah nasional.
Inisiasi Aturan Water Farming
Jumhur mengumumkan kementeriannya tengah menyiapkan regulasi ketat terkait water farming (penanaman air). Aturan ini mewajibkan industri atau pengguna air tanah mengembalikan air yang disedot ke dalam bumi guna mencegah bencana ekologis seperti tanah ambles di kota-kota besar.
Aksi Nyata Berkelanjutan
Ia menegaskan pentingnya meluncurkan inisiatif seperti Green Indonesia Future Initiative (GIFT) sebagai katalis untuk mengubah komitmen ekonomi hijau di atas kertas menjadi implementasi aksi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat. (AR, Berbagai Sumber/ AI)







