Bukan Sekadar Perpisahan: Pelepasan Santri Al Hidayah Menjadi Ruang Syukur, Silaturahmi, dan Cinta Guru

Garut, Keagamaan370 Dilihat

GARUT, JABARBICARA.COM – Pelepasan santri tidak selalu harus dibalut kemewahan. Tidak perlu panggung megah, dekorasi berlebihan, ataupun gemerlap lampu yang menyita perhatian. Terkadang, justru dalam kesederhanaan tersimpan makna yang paling dalam.

Itulah yang tergambar dalam acara pelepasan santri dan santriwati kelas VI Madrasah Al Hidayah Kampung Pangdaharan, Desa Wanaraja, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Minggu (14/6/2026). Bertempat di kawasan Salegar Resto Sawah Lega, kegiatan berlangsung hangat di tengah panorama pesawahan hijau yang membentang indah.

Jbr3
Jbr4
Jbr1
Jbr yudi

Momentum tersebut bukan sekadar seremoni perpisahan atau pembagian ijazah madrasah. Lebih dari itu, ia menjelma menjadi ruang syukur, silaturahmi, dan ungkapan cinta antara guru, santri, serta para wali santri yang selama ini berjalan bersama dalam ikhtiar pendidikan.

Kegiatan yang diinisiasi secara gotong royong oleh para wali santri itu diawali dengan doa bersama dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Noval. Lantunan kalam Ilahi mengawali rangkaian acara dengan suasana khidmat, mengingatkan bahwa setiap langkah pendidikan harus senantiasa berlandaskan nilai-nilai keimanan.

Satu demi satu penampilan kreasi seni budaya Islami dipersembahkan oleh para santri. Pantun berisi nasihat, puisi yang menyentuh hati, sajak sederhana, hingga musik Islami menjadi ekspresi kebahagiaan sekaligus perpisahan dari anak-anak yang selama ini tumbuh bersama dalam lingkungan madrasah.

Baca Juga:  Kabupaten Garut Optimistis Tingkatkan Level Sistem Pengendalian Internal Pemerintah Terintegrasi

Di balik tawa dan tepuk tangan, tersimpan kisah perjuangan yang tak sederhana. Anak-anak yang dahulu belajar mengeja huruf hijaiyah, menghafal doa-doa harian, menyetorkan hafalan, belajar tajwid, mempelajari adab kepada orang tua dan guru, kini berdiri dengan penuh percaya diri untuk menerima ijazah sebagai tanda telah menuntaskan satu tahapan pendidikan mereka.

Prosesi pembagian ijazah dan medali berlangsung tertib dan penuh haru. Wajah-wajah bahagia para santri berpadu dengan tatapan bangga para orang tua yang menyaksikan buah dari proses panjang pendidikan anak-anak mereka di madrasah.

Suasana semakin menggetarkan saat prosesi sungkeman dimulai. Para santri bersimpuh di hadapan ayah dan ibu mereka. Dengan tangan gemetar, mereka memohon maaf dan meminta doa restu. Isak tangis tak dapat dibendung. Para ustaz dan ustazah yang selama ini mendampingi perjalanan mereka pun tampak larut dalam suasana haru.

Momen itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang anak tidak pernah berdiri sendiri. Ada pengorbanan orang tua yang tak terlihat, ada doa-doa yang dipanjatkan dalam setiap sujud, serta ada ketulusan guru yang mendidik dengan kesabaran dan kasih sayang.

Baca Juga:  Bupati Garut Lantik 88 Pejabat Struktural dan Fungsional, Berikut Daftarnya!!!

Dalam sambutannya, Kepala Madrasah Al Hidayah, Ustazah Yeti, menyampaikan pesan sederhana namun sarat makna kepada para santri yang dilepas.

“Jangan berhenti belajar hanya karena telah menerima ijazah. Teruslah menuntut ilmu agama dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah pribadi yang baik, saleh dan salehah, berbakti kepada orang tua, menghormati guru, serta menjadi manusia yang bermanfaat bagi agama, masyarakat, dan lingkungan,” pesannya.

Menurutnya, madrasah bukan sekadar tempat belajar membaca Al-Qur’an. Madrasah adalah tempat menempa akhlak, menanamkan adab, membiasakan ibadah, serta menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu agama sebagai bekal menjalani kehidupan.

Ucapan terima kasih juga disampaikan oleh perwakilan wali santri, Imas Siti Hamidah. Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan rasa syukur dan penghargaan kepada seluruh ustaz dan ustazah Madrasah Al Hidayah.

“Kami para orang tua mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya atas kesabaran dan keikhlasan para ustaz dan ustazah dalam mendidik anak-anak kami. Kami menitipkan mereka dalam keadaan belum tahu apa-apa, lalu hari ini kami menyaksikan mereka tumbuh dengan adab dan bekal ilmu agama. Semoga segala ilmu yang diberikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya,” ujarnya.

Usai seluruh rangkaian acara selesai, suasana berubah menjadi penuh sukacita. Para santri menikmati kebersamaan di kawasan Salegar Resto Sawah Lega. Dengan latar hamparan padi yang menghijau, mereka bercengkerama, mengabadikan momen bersama guru dan sahabat, menikmati keindahan alam pedesaan yang asri dan menenangkan.

Baca Juga:  GMBI Distrik Garut Pertanyakan Logika Peningkatan Kekayaan Mantan Bupati Pasca Menjabat

Tak ada kemewahan yang dipamerkan. Namun justru kesederhanaan itulah yang menghadirkan kehangatan. Gotong royong para wali santri, ketulusan para guru, serta kebahagiaan anak-anak menjadi kemewahan sesungguhnya yang tak ternilai.

Pelepasan santri Madrasah Al Hidayah tahun ini mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya soal angka kelulusan dan selembar ijazah. Pendidikan adalah tentang membentuk manusia yang beradab, mencintai ilmu, menghargai perjuangan orang tua, serta tumbuh menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi sesama.

Dari sebuah madrasah sederhana di Kampung Pangdaharan, harapan itu terus dititipkan. Dari ruang-ruang mengaji yang apa adanya, dari lantunan ayat suci setiap sore, dan dari ketulusan para ustaz serta ustazah, lahir doa-doa agar para santri Al Hidayah kelak menjadi generasi yang saleh dan salehah, berilmu, berakhlak mulia, mencintai agamanya, serta mampu menerangi lingkungan sekitarnya dengan kebaikan.

Sebab pada akhirnya, yang paling dikenang dari sebuah pelepasan bukanlah kemeriahannya, melainkan cinta, doa, dan keberkahan yang mengiringi setiap langkah anak-anak menuju masa depan. (JB/RF)

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *