“DI BALIK HARI LIBUR, ADA MEREKA YANG TAK PERNAH LIBUR MENGABDI”

Garut, Pendidikan236 Dilihat

GARUT, JABARBICARA.COM – Ketika sebagian besar orang menikmati hari libur bersama keluarga pada Minggu pagi (14/6/2026), pemandangan berbeda justru terlihat di halaman SDN 1 Sukalaksana, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut.

Media yang melintas di lokasi mendapati sejumlah warga tengah bergotong royong membersihkan saluran pembuangan air dan selokan di lingkungan sekolah. Di antara mereka, tampak sosok yang tak asing bagi keluarga besar SDN 1 Sukalaksana: Opik Lesmana, tenaga pendidik yang selama ini dikenal sebagai operator sekolah.

Jbr3
Jbr4
Jbr1
Jbr yudi

Dengan peralatan seadanya, tanpa sorotan dan tanpa seremoni, Opik bersama warga sekitar terlihat sibuk mengangkat endapan lumpur, membersihkan sampah, serta memastikan saluran air di lingkungan sekolah kembali berfungsi dengan baik.

Aktivitas sederhana itu mungkin luput dari perhatian banyak orang. Namun, di balik peluh yang mengalir pada hari libur, tersimpan makna besar tentang pengabdian yang tak mengenal waktu.

Baca Juga:  Ateng Sujana Tiup Peluit Bahaya: Tantang KDM Tertibkan Sampah, Peringatkan DLH Jangan Membangkang Perpres

Media hanya memantau dari kejauhan. Tak ada aba-aba. Tak ada pencitraan. Yang terlihat hanyalah kerja nyata.

Terpisah Saat dikonfirmasi, Guru Kelas SDN 1 Sukalaksana, Jajang Saripudin, mengungkapkan bahwa apa yang dilakukan Opik bukanlah hal baru.

“Kang Opik memang sangat rajin. Beliau bukan hanya pandai mengoperasikan komputer dan ahli di bidang IT, tetapi juga sudah lama mengabdi dengan penuh tanggung jawab. Kebetulan rumahnya juga tidak jauh dari lingkungan sekolah,” ujar Jajang.

Menurutnya, kepedulian terhadap sekolah sudah menjadi bagian dari keseharian Opik. Bahkan pada hari libur sekalipun, ia kerap terlihat ikut menjaga dan merawat lingkungan sekolah bersama warga sekitar.

“Hari libur seperti ini, Kang Opik bersama Aa Ajay yang sehari-hari bekerja sebagai buruh harian lepas, serta warga lainnya, selalu aktif memelihara lingkungan SDN 1 Sukalaksana. Mereka bekerja tanpa banyak bicara, tetapi hasilnya bisa dirasakan semua orang,” katanya.

Jajang juga mengungkap sisi lain dari perjuangan Opik Lesmana. Setelah menuntaskan tugasnya sebagai operator sekolah, Opik masih harus berjuang memenuhi kebutuhan keluarga dengan menjadi pengemudi transportasi online roda empat.

“Makanya jangan heran kalau ada mobil merah yang sering terlihat di jam-jam sekolah. Itu kendaraan yang digunakan untuk aktivitas usahanya sebagai driver online. Sudah lama dijalani. Kerja keras dan dedikasinya cukup membanggakan dan bisa menjadi inspirasi bagi tenaga pendidik lainnya,” tutur Jajang.

Bagi sebagian orang, profesi operator sekolah mungkin hanya identik dengan urusan data, komputer, dan administrasi. Namun kisah Opik Lesmana menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu lahir dari jabatan tinggi atau panggung penghargaan. Ia hadir dalam tindakan kecil yang dilakukan dengan ketulusan.

Membersihkan selokan sekolah pada hari libur mungkin tampak sederhana. Namun, dari tindakan sederhana itulah anak-anak belajar tentang arti kepedulian, gotong royong, tanggung jawab, dan cinta terhadap lingkungan tempat mereka menimba ilmu.

Menariknya, sosok Jajang Saripudin sendiri juga dikenal aktif mengabdi di lingkungan masyarakat. Selain mengajar di SDN 1 Sukalaksana, ia dipercaya sebagai Ketua RW di kampungnya yang berada di Desa Linggamukti, Kecamatan Sucinaraja. Jajang juga mengelola madrasah yang telah melahirkan santri-santri berprestasi.

Salah satunya adalah Safitri, santri yang berhasil mengharumkan nama daerah setelah meraih prestasi sebagai juara cabang lari pada ajang Talenta O2SN.

Di tengah berbagai tantangan dunia pendidikan, kisah-kisah seperti inilah yang sesungguhnya menjadi denyut nadi sekolah-sekolah negeri di pelosok. Tentang guru, operator sekolah, buruh harian, dan warga biasa yang memilih hadir, bekerja keras, bekerja cerdas, dan tetap mengabdi meski tak selalu terlihat.

Sebab pendidikan tidak hanya dibangun oleh ruang kelas dan kurikulum. Pendidikan juga dibangun oleh tangan-tangan sederhana yang rela mengotori dirinya demi menjaga tempat anak-anak menumbuhkan mimpi.(JB/RF)

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *