GARUT, JABARBICARA.COM – Tingginya angka perceraian di Kabupaten Garut tidak hanya menjadi persoalan hukum keluarga, tetapi juga melahirkan tantangan sosial dan ekonomi yang harus dihadapi ribuan perempuan yang kini berstatus single parent atau orang tua tunggal. Menyadari kondisi tersebut, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Garut mengambil langkah konkret dengan menggelar Forum Group Discussion (FGD) guna menyerap aspirasi sekaligus merumuskan solusi pemberdayaan ekonomi bagi para janda dan ibu tunggal.
Kegiatan yang berlangsung penuh kehangatan dan suasana kekeluargaan itu dihadiri Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Garut Ilham Fathurrohman, Sekretaris DPC Dedi Hasa Bahtiar, Wakil Ketua Bidang Kehormatan Asep Setiawan, Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Hj. Lina Rohayati, serta Wakil Ketua Bidang Hukum Supriyadi, SH.
Dalam forum tersebut, para peserta menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi setelah menyandang status sebagai orang tua tunggal. Mulai dari beban ekonomi, tanggung jawab membesarkan anak seorang diri, hingga keterbatasan akses terhadap pekerjaan dan usaha yang mampu menopang kebutuhan keluarga, 16/07/2026.
Secara umum, seorang single parent harus menjalankan peran ganda sekaligus sebagai pencari nafkah, pengasuh, pendidik, sekaligus pengambil keputusan dalam keluarga. Selain menghadapi tekanan finansial, mereka juga dituntut memiliki ketangguhan emosional agar tetap mampu memberikan kasih sayang dan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.
Wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan DPC PDI Perjuangan Garut, Hj. Lina Rohayati, menjelaskan bahwa FGD tersebut digelar bukan sekadar menjadi ruang diskusi, tetapi sebagai langkah awal untuk memetakan persoalan sekaligus potensi yang dimiliki para perempuan kepala keluarga.
“Kami ingin menyerap aspirasi mereka, mengetahui apa yang menjadi penyebab perceraian, bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari, apa saja keluhan yang dirasakan, sekaligus melakukan tracing terhadap keterampilan atau keahlian yang mereka miliki. Dari situ kami akan berupaya mencarikan solusi usaha yang sesuai dengan kemampuan masing-masing,” ujar Hj. Lina kepada wartawan.
Menurutnya, pemberdayaan harus dimulai dari potensi yang dimiliki setiap individu sehingga bantuan yang diberikan tidak bersifat sesaat, melainkan mampu menciptakan kemandirian ekonomi dalam jangka panjang.
Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Garut, Ilham Fathurrohman, menilai persoalan ekonomi menjadi salah satu faktor yang kerap melatarbelakangi terjadinya perceraian. Oleh karena itu, solusi yang disiapkan harus menyentuh akar persoalan,16/07/2026.
Salah satu gagasan yang tengah disiapkan, lanjut Ilham, adalah pembentukan koperasi pemberdayaan yang anggotanya berasal dari kalangan single parent atau janda. Melalui wadah tersebut, para anggota diharapkan dapat mengembangkan usaha produktif, memperoleh akses permodalan, pelatihan keterampilan, serta memperkuat jejaring ekonomi secara gotong royong.
“Kami melihat mereka bukan sebagai kelompok yang harus dikasihani, tetapi sebagai perempuan-perempuan tangguh yang perlu diberikan kesempatan untuk bangkit. Koperasi menjadi salah satu instrumen agar mereka dapat saling menguatkan dan meningkatkan kesejahteraan bersama,” ungkapnya.
Ilham menegaskan, tujuan utama gerakan ini adalah membantu para ibu tunggal agar mampu kembali berdiri di atas kaki sendiri tanpa kehilangan harapan dalam membesarkan anak-anak mereka.
“Intinya mereka membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup. Memberikan pekerjaan, membuka peluang usaha, dan menghadirkan pendampingan menjadi solusi agar para single mom mampu bangkit secara ekonomi serta tetap menjadi tumpuan bagi keberlangsungan hidup keluarganya,” tegasnya.
Melalui FGD tersebut, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Garut berharap lahir berbagai rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti menjadi program pemberdayaan berkelanjutan. Langkah ini menjadi wujud kepedulian partai terhadap persoalan sosial di tengah masyarakat sekaligus komitmen menghadirkan solusi nyata bagi perempuan kepala keluarga agar mampu membangun masa depan yang lebih mandiri, sejahtera, dan penuh harapan.(JB/RF)







