KADER PKK CIGEDUG BERGERAK! SAMPAH ORGANIK DIUBAH JADI PELUANG EKONOMI, CAMAT MA’MUN GUNAWAN BUKA LANGSUNG KEGIATAN

GARUT, JABARBICARA.COM — Kepedulian terhadap lingkungan dan semangat pemberdayaan ekonomi masyarakat terus dibangun melalui kolaborasi berbagai unsur di Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut.

Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan “Fasilitasi Pelaksanaan Tugas, Fungsi, dan Kewajiban Lembaga Kemasyarakatan” yang digelar di Ruang Aula Kantor Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, dengan mengusung tema “Produktivitas Ekonomi Kader” dan “Pengelolaan Sampah Organik melalui Budidaya Magot.”

Idwan HUTRI

Kegiatan tersebut dibuka secara langsung oleh Camat Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, Ma’mun Gunawan, S.Ag. Kehadiran pimpinan wilayah dalam pembukaan kegiatan menjadi bentuk dukungan terhadap upaya pemberdayaan kader dan penguatan peran lembaga kemasyarakatan di tingkat desa.

Puluhan peserta tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Peserta didominasi para kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dari setiap desa di Kecamatan Cigedug, serta diikuti unsur pemerintah desa, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), para UPT, mahasiswa dan tamu undangan lainnya.

Baca Juga:  Kolaborasi BINUS dan GNFI: Peran Keluarga dalam Membangun Bangsa Melalui Peluncuran Buku Kawan GNFI

Suasana kegiatan berlangsung dinamis. Peserta tidak hanya mendapatkan pemaparan materi, tetapi juga terlibat dalam diskusi dan kegiatan praktik yang disampaikan secara interaktif oleh sejumlah narasumber.

Salah satu materi yang menjadi perhatian adalah pengelolaan sampah organik melalui budidaya magot. Materi ini memberikan perspektif baru bahwa sampah organik tidak selalu harus berakhir sebagai limbah yang dibuang, tetapi dapat dikelola dan dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai.

DARI SAMPAH MENJADI PELUANG

Budidaya magot diperkenalkan sebagai salah satu alternatif dalam pengelolaan sampah organik sekaligus peluang produktivitas ekonomi masyarakat.

Peserta diberikan pemahaman mengenai proses pengelolaan, disertai contoh praktik secara langsung. Dengan demikian, pengetahuan yang diterima tidak berhenti pada teori, tetapi dapat menjadi bekal untuk dikembangkan di lingkungan masing-masing.

Bagi para kader PKK, pengetahuan tersebut memiliki nilai strategis. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi mampu meneruskan edukasi kepada keluarga dan masyarakat di desa masing-masing.

Baca Juga:  PT Jasamarga Tollroad Maintenance Salurkan Bantuan untuk Pondok Baca Puspita Wonosobo

Persoalan sampah memang tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan pemerintah. Dibutuhkan perubahan pola pikir dan keterlibatan masyarakat sejak dari tingkat rumah tangga.

Karena itu, edukasi mengenai pemanfaatan sampah organik menjadi penting. Ketika masyarakat memahami cara memilah, mengolah dan memanfaatkannya, sampah yang sebelumnya dianggap sebagai persoalan dapat bertransformasi menjadi potensi.

KADER PKK JADI MOTOR PEMBERDAYAAN

Kekompakan para kader PKK dari berbagai desa menjadi salah satu energi positif dalam kegiatan tersebut.

Kader memiliki posisi yang dekat dengan masyarakat sehingga dapat menjadi penggerak berbagai program pemberdayaan. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat dibawa pulang dan diterapkan sesuai dengan potensi masing-masing desa.

Lebih dari sekadar kegiatan pelatihan, agenda tersebut menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi antara kader, pemerintah desa, SPPG, UPT, mahasiswa serta unsur masyarakat lainnya.

Semangat kolaborasi tersebut penting agar pemberdayaan masyarakat tidak berjalan sendiri-sendiri.

Baca Juga:  MERANGKAK NAIK, Harga Emas Hari Ini Jumat 4 Maret 2025: Naik hingga Rp17.000 Menjadi Rp1.882.000

Lingkungan yang bersih, keluarga yang berdaya dan ekonomi masyarakat yang produktif membutuhkan kerja bersama.

JANGAN BERHENTI DI AULA

Kegiatan fasilitasi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Tantangan berikutnya adalah bagaimana materi dan praktik yang telah diberikan dapat ditindaklanjuti di tingkat desa dan masyarakat.

Dari aula Kecamatan Cigedug, semangat pengelolaan sampah organik diharapkan bergerak ke lingkungan keluarga, kelompok kader hingga masyarakat luas.

Sebab, perubahan besar sering kali dimulai dari langkah sederhana: peduli terhadap lingkungan, mau belajar, berani mencoba dan kompak bergerak bersama.

Melalui kegiatan ini, Kecamatan Cigedug menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya berbicara tentang program, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat diberi pengetahuan, kesempatan dan ruang untuk menjadi bagian dari solusi.

Dari kader untuk keluarga, dari keluarga untuk masyarakat. Dari sampah organik, lahir kepedulian lingkungan dan peluang produktivitas ekonomi. (JB/RF)

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *