165 KK TERANCAM PERGERAKAN TANAH, WARGA TALAGAWANGI PAKENJENG PANGGIL KDM: “JANGAN JAUH-JAUH, KAMI JUGA WARGA JAWA BARAT!”

Garut, Jabar, Peristiwa73 Dilihat

GARUT, JABARBICARA.COM – Tanah terus bergerak. Dinding rumah retak. Sebagian bangunan bergeser. Bahkan sejumlah rumah telah hancur dan ditinggalkan penghuninya.

Di tengah ancaman yang belum sepenuhnya teratasi itu, 165 Kepala Keluarga (KK) di Desa Talagawangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, masih menunggu kepastian penanganan pemerintah.

Idwan HUTRI

Bencana pergerakan tanah yang terjadi sejak tahun 2024 hingga 2026 itu bukan lagi sekadar persoalan retakan di dinding rumah. Bagi warga Talagawangi, ini adalah persoalan keselamatan, tempat tinggal, dan masa depan keluarga.

Sebanyak 15 KK dilaporkan telah mengalami kerusakan rumah paling parah hingga bangunannya hancur dan tidak lagi layak dihuni. Mereka kini terpaksa meninggalkan rumah dan sementara waktu menumpang tinggal di rumah saudara maupun kerabat.

Sementara itu, sekitar 150 KK lainnya hidup dalam kondisi rumah yang mengalami retakan dan pergeseran akibat pergerakan tanah.

Kepala Desa Talagawangi, Encang Yayat, mengatakan kondisi masyarakat terdampak membutuhkan perhatian serius dan langkah nyata dari pemerintah.

Baca Juga:  GIPS Soroti Temuan Awal Dugaan Persoalan Lingkungan Depo Cat di Garut

“Hari ini ada 15 KK yang rumahnya hancur. Mereka sementara menginap di saudaranya karena kondisi rumah sudah tidak memungkinkan untuk ditempati,” ujar Encang Yayat.

Menurutnya, persoalan yang dihadapi masyarakat Talagawangi tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Sebab, selain rumah warga, dampak pergerakan tanah juga berpotensi mengancam sejumlah fasilitas umum yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Masjid, sekolah dan berbagai fasilitas sosial lainnya membutuhkan perhatian serta kajian menyeluruh agar keselamatan masyarakat dapat benar-benar terjamin.

HARAPAN WARGA UNTUK KDM: DATANG DAN LIHAT LANGSUNG

Di tengah keterbatasan yang mereka hadapi, warga dan Pemerintah Desa Talagawangi menyampaikan harapan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM, agar turun langsung ke lokasi.

Mereka berharap Gubernur tidak hanya menerima laporan dari balik meja, tetapi hadir dan melihat langsung kondisi warga yang hingga kini masih hidup dalam bayang-bayang ancaman pergerakan tanah.

“Kami berharap kepada Bapak Aing, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, agar bisa turun langsung ke Talagawangi meninjau kondisi rumah warga terdampak pergerakan tanah. Bukan hanya rumah warga, fasilitas umum juga perlu diperhatikan, termasuk masjid maupun sekolah,” kata Encang Yayat.

Baca Juga:  Seminar Internasional Dorong Peluang Kerja Migran ke Jepang sebagai Solusi Pengangguran di Garut

Harapan itu juga datang langsung dari warga.

Dengan bahasa sederhana, namun sarat kegelisahan, seorang warga meminta agar perhatian pemerintah tidak melewati masyarakat yang sedang menghadapi bencana di wilayahnya sendiri.

“Kami berharap KDM turun ke sini, ke Desa Talagawangi yang terdampak bencana pergerakan tanah. Jangan hanya ke luar provinsi. Kami di sini juga warga Jawa Barat yang membutuhkan perhatian,” ujar warga.

Kalimat tersebut menjadi gambaran sederhana tentang harapan masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan ancaman bencana.

JANGAN TUNGGU RUMAH BERIKUTNYA HANCUR

Pergerakan tanah bukan persoalan yang bisa ditangani hanya dengan rasa prihatin. Masyarakat membutuhkan langkah nyata.

Bagi 15 keluarga yang rumahnya telah hancur, kebutuhan akan bantuan dan kepastian tempat tinggal menjadi persoalan mendesak.

Sementara bagi sekitar 150 keluarga lainnya, diperlukan kajian teknis secara serius untuk memastikan apakah rumah mereka masih layak dan aman dihuni.

Pertanyaan pentingnya, apakah warga harus terus bertahan di rumah yang retak sambil menunggu tanah kembali bergerak?

Baca Juga:  Lima Kali Dibobol Maling, SDN 3 Wanaraja Tanpa Benteng dan CCTV, Pengamanan Aset Pendidikan Dipertanyakan

Ataukah pemerintah segera melakukan langkah mitigasi dan penanganan sebelum jumlah rumah rusak kembali bertambah?

Pemerintah Desa Talagawangi berharap adanya sinergi nyata antara Pemerintah Kabupaten Garut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pemerintah pusat serta instansi teknis terkait.

Sebab, bencana tidak menunggu rapat selesai.

Tanah tidak berhenti bergerak hanya karena laporan masih dalam proses.

Dan warga yang rumahnya telah hancur tentu tidak bisa terus-menerus tinggal di rumah saudara tanpa kepastian masa depan.

Kini, di Desa Talagawangi, masyarakat tidak sekadar meminta bantuan.

Mereka meminta pemerintah hadir.

Mereka meminta kondisi yang mereka alami dilihat langsung.

Dan yang paling penting, mereka meminta kepastian bahwa keselamatan masyarakat tidak akan menunggu sampai bencana berikutnya terjadi.

“Jangan tunggu lebih banyak rumah hancur. Jangan tunggu lebih banyak keluarga kehilangan tempat tinggal,” menjadi harapan yang kini menggema dari Talagawangi.

Di tengah tanah yang terus bergerak, warga Talagawangi hanya ingin satu kepastian: pemerintah segera bergerak bersama mereka.(JB/RF)

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *