BUKAN SEKADAR MBG! DAPUR GIZI DAN CV INSAN RAHAYU HADIRKAN HARAPAN BARU LEWAT PEMBANGUNAN JALAN DESA NEGLASARI

Garut, Peristiwa85 Dilihat

GARUT, JABARBICARA.COM — Kepedulian terhadap masyarakat kembali diwujudkan melalui kolaborasi antara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Neglasari, CV Insan Rahayu, pemerintah desa, dan masyarakat. Kali ini, sinergi tersebut diwujudkan melalui kegiatan pemeliharaan dan pembangunan jalan berupa pengerasan beton (rabat beton) di ruas Cidarangdan–Kampung Babakan Rahayu, Desa Neglasari, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Sabtu (17/10/2026).

Kegiatan ini menjadi gambaran bahwa kepedulian sosial dapat tumbuh melalui kerja sama berbagai pihak. Di tengah tantangan pembangunan infrastruktur di wilayah pedesaan, gotong royong dinilai mampu menjadi salah satu kekuatan untuk mendorong perbaikan akses jalan yang dibutuhkan masyarakat.

Idwan HUTRI

Namun, kolaborasi tersebut bukan berarti tanggung jawab pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur publik menjadi hilang. Dukungan pihak swasta dan masyarakat tetap perlu berjalan seiring dengan kewajiban pemerintah dalam menyediakan sarana publik yang layak.

Dr. Asep Dadang: Gotong Royong Menjadi Kekuatan Pembangunan

Pengelola SPPG/MBG Neglasari, Dr. Asep Dadang, S.IP., M.Si., yang juga merupakan akademisi, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara dapur MBG, pemerintah desa, dan masyarakat untuk mendukung pembangunan berbasis pedesaan.

Dalam keterangannya melalui video yang dikirimkan kepada redaksi pada Sabtu (17/10/2026), Asep mengatakan, “Alhamdulillah, kerja bareng ini mewujudkan kebersamaan dalam rangka menyukseskan program pemerintah, yaitu pembangunan berbasis pedesaan.”

Baca Juga:  Bupati Garut Lantik Pengurus GOW 2025–2030, Tekankan Peran Perempuan dalam Pembangunan Bangsa

Menurutnya, kebersamaan dan kesadaran masyarakat memiliki peran penting dalam mendorong pembangunan, terutama ketika alokasi anggaran untuk berbagai sektor mengalami tekanan akibat kebijakan efisiensi.

Ia menilai, keterbatasan anggaran dapat berdampak pada kemampuan pembangunan di tingkat desa, termasuk pemeliharaan dan peningkatan kualitas jalan lingkungan yang menjadi akses penting bagi aktivitas warga.

Meski demikian, semangat gotong royong, menurut Asep, dapat menjadi salah satu upaya untuk membantu menjawab kebutuhan tersebut tanpa mengabaikan tanggung jawab pemerintah.

Jalan Desa, Akses Penting bagi Kehidupan Warga

Pembangunan jalan Cidarangdan–Kampung Babakan Rahayu diharapkan dapat membantu memperlancar mobilitas masyarakat, baik untuk kegiatan ekonomi, pendidikan, sosial, maupun aktivitas sehari-hari.

Akses jalan yang memadai bukan sekadar persoalan fisik. Infrastruktur yang baik turut menentukan kelancaran distribusi hasil usaha masyarakat, kemudahan menjangkau layanan publik, serta konektivitas antarkawasan di pedesaan.

Karena itu, keterlibatan masyarakat dalam pembangunan perlu ditempatkan sebagai bentuk partisipasi aktif, bukan sebagai alasan untuk mengurangi kewajiban pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar infrastruktur.

Asep juga menekankan pentingnya pembangunan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Aspirasi warga, menurutnya, perlu dihimpun melalui Musyawarah Dusun (Musdus), kemudian dibahas dan diselaraskan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes).

Dengan mekanisme tersebut, pembangunan diharapkan tidak hanya berdasarkan inisiatif pihak tertentu, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan, prioritas, dan kepentingan masyarakat secara luas.

Baca Juga:  Dinas Pendidikan Garut Gelar Bimtek Penguatan PAUD Holistik Integratif, Cetak Generasi Emas 2045

CV Insan Rahayu dan Masyarakat Dukung Pembangunan Jalan 1,85 Kilometer

Dalam video lainnya, seorang warga bernama Halim menyampaikan bahwa pembiayaan kegiatan pembangunan jalan tersebut bukan berasal dari APBD Kabupaten Garut, melainkan mendapat dukungan CV Insan Rahayu dan MBG Neglasari melalui kolaborasi bersama pemerintah desa.

Halim menyebutkan, panjang ruas jalan yang direncanakan untuk ditangani mencapai 1 kilometer 850 meter atau 1,85 kilometer. Pengerjaannya direncanakan berlangsung secara bertahap.

Panjang tersebut merupakan target ruas yang direncanakan, bukan berarti seluruhnya telah selesai dikerjakan. Adapun nilai dukungan anggaran, volume pekerjaan yang telah rampung, serta target waktu penyelesaian masih memerlukan informasi lebih lanjut agar dapat disampaikan secara akurat kepada publik.

Sinergi antara pelaku usaha, pengelola dapur MBG, pemerintah desa, dan warga diharapkan dapat memperkuat semangat kebersamaan dalam memenuhi kebutuhan lingkungan.

Di sisi lain, keterbukaan mengenai sumber pendanaan, penggunaan anggaran, spesifikasi pekerjaan, serta kualitas hasil pembangunan tetap penting agar pelaksanaan kegiatan dapat dipertanggungjawabkan dan manfaatnya dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

MBG Neglasari Siapkan Sejumlah Program Sosial

Tak hanya mendukung kegiatan pembangunan jalan, Asep juga menyampaikan rencana program sosial yang ingin dikembangkan oleh MBG Neglasari.

Program yang direncanakan antara lain khitanan massal, pengobatan gratis, serta bantuan bagi masyarakat kurang mampu dan anak yatim.

Rencana tersebut diharapkan dapat memperluas manfaat kegiatan sosial bagi masyarakat. Meski demikian, pelaksanaannya tetap perlu disesuaikan dengan kesiapan program, sumber daya, dan ketentuan yang berlaku.

Baca Juga:  Telkom University dan Desa Cimaragas, Jalin Kerja Sama, Bersinergi dalam Implementasi Teknologi Digital

Perlu dipahami pula bahwa tugas utama program MBG adalah mendukung pemenuhan gizi penerima manfaat. Karena itu, kegiatan sosial dan dukungan pembangunan harus dikelola secara proporsional, tanpa mengganggu kualitas pelayanan maupun tujuan utama program tersebut.

Gotong Royong Harus Berjalan Bersama Akuntabilitas

Kolaborasi di Desa Neglasari menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu berawal dari proyek besar. Kepedulian, komunikasi, dan kemauan untuk bekerja bersama dapat menjadi langkah nyata dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Namun, semangat gotong royong juga harus disertai keterbukaan dan tanggung jawab. Setiap pekerjaan infrastruktur perlu memperhatikan kualitas konstruksi, keselamatan, ketahanan bangunan, serta manfaat jangka panjang bagi warga.

Pemerintah desa dan pihak-pihak yang terlibat diharapkan memastikan bahwa pelaksanaan pembangunan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, jalan yang baik bukan hanya menghubungkan satu kampung dengan kampung lainnya, tetapi juga membuka akses terhadap kesempatan ekonomi dan kehidupan yang lebih layak.

Jalan boleh dibangun dengan semen dan beton, tetapi harapan tumbuh dari kepedulian, kebersamaan, dan gotong royong. Kolaborasi seperti ini patut diapresiasi, sembari tetap menegaskan bahwa partisipasi swasta dan masyarakat merupakan pelengkap, bukan pengganti tanggung jawab pemerintah dalam membangun infrastruktur publik.

(JB/RF)

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *