Lima Kali Dibobol Maling, SDN 3 Wanaraja Tanpa Benteng dan CCTV, Pengamanan Aset Pendidikan Dipertanyakan

Garut, Pendidikan260 Dilihat

GARUT,JABARBICARA.COM – Relokasi SDN 3 Wanaraja ke bangunan baru yang semula diharapkan menghadirkan lingkungan belajar yang lebih aman dan representatif justru menyisakan persoalan yang hingga kini belum terselesaikan. Sekolah yang berada di Kampung Bojong Nangka, berdampingan dengan Perumahan Aulia, Kecamatan Wanaraja, masih beroperasi tanpa benteng pengaman, gerbang yang memadai, maupun kamera pengawas (CCTV).

SDN 3 Wanaraja merupakan salah satu sekolah yang direlokasi pada akhir masa pemerintahan Bupati Garut saat itu, Rudy Gunawan. Pembangunannya sempat mengalami kendala selama hampir satu tahun sehingga baru dapat ditempati pada tahun ajaran 2024–2025. Sebelumnya, sekolah tersebut berada satu kompleks dengan SDN 2 Wanaraja di kawasan Alun-alun Wanaraja.

Jbr3
Jbr4
Jbr1
Jbr yudi

Lokasi baru yang berada di sekitar areal persawahan produktif ternyata memunculkan tantangan baru. Selain kerap dimasuki hewan berbahaya seperti ular kobra dan lintah, sekolah juga berulang kali menjadi sasaran aksi pencurian.

Warga sekitar mengaku prihatin. Mereka menilai kondisi sekolah yang terbuka tanpa benteng dan CCTV membuat siapa pun leluasa keluar masuk lingkungan sekolah, terutama pada sore hingga malam hari.

“Sekolah terbuka karena tidak ada benteng. CCTV juga tidak ada. Yang menjadi pertanyaan masyarakat, kenapa sudah berkali-kali terjadi pencurian tetapi tidak pernah dilaporkan ke polisi. Padahal sekarang melapor bisa dilakukan dengan mudah melalui layanan kepolisian,” ujar beberapa warga kepada wartawan.

Saat dikonfirmasi melalui aplikasi WhatsApp, seorang sumber internal SDN 3 Wanaraja yang meminta identitasnya dirahasiakan membenarkan bahwa kondisi keamanan sekolah hingga kini masih menjadi persoalan serius.

“Memang benar, sekolah ini belum memiliki benteng sehingga kondisinya sangat terbuka. Saat itu Plt. Kepala Sekolah disibukkan dengan penyusunan proposal revitalisasi. Sekarang, setahu saya, yang bersangkutan juga sedang fokus pada pelaksanaan revitalisasi di SDN 2 Sindangprabu, tempat beliau menjabat sebagai kepala sekolah definitif. Sementara di SDN 3 Wanaraja, hingga kini belum ada yang secara serius mengurus atau mengusulkan pembangunan benteng maupun perbaikan sarana dan prasarana lainnya,” ujar sumber tersebut.

Menurut sumber itu, perhatian terhadap kebutuhan pengamanan SDN 3 Wanaraja dinilai belum optimal, padahal sekolah berada di lokasi yang relatif terbuka dan memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi.

Dalam percakapan tersebut, sumber itu juga menyinggung proyek revitalisasi SDN 2 Sindangprabu yang menurutnya sedang menjadi perhatian publik.

“Bukankah pelaksanaan revitalisasi di sana juga sedang menjadi sorotan berbagai media terkait persoalan administrasi?” ujar sumber tersebut balik bertanya kepada wartawan.

Wartawan tidak menanggapi pertanyaan tersebut dan tetap berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait agar informasi yang disampaikan tetap memenuhi prinsip keberimbangan.

Sumber tersebut juga mengungkapkan bahwa selain rawan pencurian, lingkungan sekolah masih kerap dimasuki hewan berbahaya.

“Ular kobra masih sering muncul di sekitar sekolah.”

Ia menyebut aksi pencurian sedikitnya telah terjadi lima kali.

“Sekitar lima kali. Yang paling sering menjadi sasaran adalah kantin sekolah. Kalau barang inventaris sekolah sebagian besar disimpan di ruang kantor yang sudah dipasangi teralis.”

Tak hanya kehilangan barang, pelaku juga diduga merusak sejumlah fasilitas sekolah.

“Tiang bendera sampai bengkok, tembok dicoret-coret. Kalau ditotal, nilai kerugiannya diperkirakan lebih dari Rp10 juta. Untuk kerugian kantin, pengelolanya yang lebih mengetahui.”

Informasi yang dihimpun wartawan menyebutkan kantin sekolah dikelola oleh kerabat Acep Dani Hamdani, yang juga menjabat sebagai Komite SDN 3 Wanaraja.

Saat dikonfirmasi, Acep Dani Hamdani tidak membantah bahwa aksi pencurian telah berulang kali terjadi. Menurutnya, pihak komite telah beberapa kali menyampaikan aspirasi kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Garut maupun Pemerintah Kabupaten Garut agar segera membangun benteng pengaman sekolah.

“Kami berharap pemerintah daerah segera membangun benteng sekolah. Jangan sampai aset negara terus hilang hanya karena sekolah terbuka dan siapa saja bisa masuk,” ujarnya.

Namun ketika ditanya mengapa sedikitnya lima kejadian pencurian tersebut tidak pernah dilaporkan kepada pihak kepolisian, Acep memilih tidak memberikan penjelasan lebih jauh.

“Itu kewenangan kepala sekolah,” katanya singkat.

Saat ini, jabatan Kepala SDN 3 Wanaraja masih dijabat oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Nani Maryani, yang juga menjabat sebagai Kepala SDN 2 Sindangprabu secara definitif.

Berulangnya aksi pencurian tanpa adanya benteng pengaman, gerbang, CCTV, maupun laporan kepada aparat penegak hukum memunculkan pertanyaan yang layak dijawab oleh para pemangku kebijakan. Sebab, selain menyangkut keamanan lingkungan belajar, persoalan tersebut juga berkaitan dengan perlindungan aset negara yang dibiayai dari uang rakyat.

Masyarakat kini menunggu langkah konkret Pemerintah Kabupaten Garut dan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut untuk segera menyediakan infrastruktur pengamanan yang memadai di SDN 3 Wanaraja. Di sisi lain, penjelasan resmi dari pihak sekolah mengenai alasan tidak ditempuhnya jalur pelaporan kepada kepolisian juga dinilai penting sebagai bentuk akuntabilitas kepada publik.

Sampai berita ini diturunkan, Plt. Kepala SDN 3 Wanaraja, Nani Maryani, belum memberikan keterangan resmi terkait berulangnya aksi pencurian di lingkungan sekolah, kondisi sarana pengamanan sekolah, maupun alasan tidak dilaporkannya sejumlah peristiwa tersebut kepada pihak kepolisian. Redaksi membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. (JB/RF)

Baca Juga:  DPC GMNI dan PC PMII Garut Desak DPRD Segera Bentuk Pansus BUMD

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *