GARUT, JABARBICARA.COM – Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi budaya modern yang semakin memengaruhi kehidupan generasi muda, secercah harapan untuk menjaga warisan budaya bangsa terus tumbuh dari sebuah sekolah dasar di Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut. Harapan itu lahir dari SD Negeri 1 Wanamekar yang menjadikan seni tari tradisional Sunda sebagai bagian penting dalam proses pendidikan karakter peserta didik.
Sekolah yang berlokasi di Kampung Bebedahan, Desa Wanamekar, Kecamatan Wanaraja ini memiliki perjalanan yang cukup unik. Sejak Pemerintah Kabupaten Garut menerapkan kebijakan penggabungan (merger) sekolah dasar negeri pada akhir tahun 2025, SDN 1 Wanamekar resmi bergabung dengan SDN 4 Wanamekar dalam satu kompleks pendidikan. Meski mengalami perubahan kelembagaan, semangat untuk melestarikan budaya daerah justru semakin menguat,07/08/2026.
Di bawah kepemimpinan Kepala SDN 1 Wanamekar, Yeti Herliananingsih, sekolah terus berinovasi dengan menjadikan seni budaya tradisional sebagai salah satu identitas dan kebanggaan sekolah. Melalui pembinaan sanggar seni tari, para siswa tidak hanya belajar menari, tetapi juga diajak memahami nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, serta kecintaan terhadap budaya leluhur.
Di tengah keterbatasan fasilitas, semangat anak-anak untuk terus belajar tidak pernah surut. Setiap pekan mereka mengikuti latihan tari tradisional dengan penuh antusias, mengembangkan kemampuan sesuai minat dan bakat yang dimiliki.
Kerja keras tersebut membuahkan hasil yang membanggakan. Sejumlah siswa mampu tampil dalam berbagai pentas seni, kegiatan seremonial, hingga perlombaan di tingkat daerah. Penampilan mereka menjadi bukti bahwa bakat dapat berkembang melalui pembinaan yang konsisten, meski dilakukan dengan sarana yang sederhana.
Kendati demikian, sekolah masih menghadapi sejumlah tantangan. Hingga saat ini, SDN 1 Wanamekar belum memiliki pembimbing khusus di bidang seni tari maupun seni musik. Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung kesenian juga masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dihadapi.
Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para pendidik. Dengan mengandalkan kreativitas dan dedikasi para guru yang memiliki minat di bidang seni, proses pembinaan tetap berjalan. Berbagai media digital, video pembelajaran, serta latihan rutin dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengenalkan gerakan dasar tari tradisional Sunda kepada peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler.
Upaya tersebut menjadi bagian dari implementasi penguatan Profil Pelajar Pancasila, khususnya dalam menanamkan nilai berkebinekaan global melalui kecintaan terhadap budaya daerah sebagai identitas bangsa.
Hasil pembinaan seni tari itu salah satunya ditampilkan pada pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Penampilan tari penyambutan yang dibawakan para siswa berhasil menciptakan suasana hangat sekaligus memperkenalkan budaya Sunda kepada peserta didik baru sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di lingkungan sekolah.
Bagi SDN 1 Wanamekar, seni tari bukan sekadar pertunjukan. Setiap gerakan yang dipelajari anak-anak merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur yang harus terus dijaga. Di tengah derasnya pengaruh budaya asing, langkah sederhana yang dilakukan sekolah menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari ruang-ruang kelas.
Ke depan, sekolah berkomitmen memperkuat pembinaan seni dengan membuka peluang kolaborasi bersama Sanggar Tari Puspa Kharisma Garut yang berada di Desa Wanamekar. Sinergi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas teknik tari para siswa, memperluas pengalaman tampil di berbagai panggung, sekaligus mencetak generasi penerus yang mampu menjaga kelestarian seni budaya Sunda.
Sanggar Tari Puspa Kharisma Garut yang beralamat di Jalan Bebedahan RT 001/RW 010, Desa Wanamekar, selama ini dikenal aktif membina anak-anak dan remaja dalam seni tari tradisional Jawa Barat, termasuk Jaipongan dan berbagai tari kreasi daerah. Kehadirannya menjadi potensi besar dalam membangun kolaborasi antara sekolah dan masyarakat demi menjaga eksistensi budaya lokal.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, SDN 1 Wanamekar membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab membangun karakter dan jati diri bangsa. Dari sebuah sekolah sederhana di Kecamatan Wanaraja, lahir harapan bahwa budaya Sunda akan terus hidup, tumbuh, dan diwariskan kepada generasi penerus melalui ketekunan, dedikasi, serta kecintaan terhadap warisan leluhur.
Sebab sejatinya, pelestarian budaya bukan sekadar menjaga masa lalu, melainkan menyiapkan masa depan. Selama anak-anak masih bangga mengenakan busana adat, menarikan tari tradisional, dan mencintai budayanya sendiri, selama itu pula denyut kebudayaan Indonesia akan tetap hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. (JB/RF)







