DI TENGAH POLEMIK YANG BELUM USAI, KREATIVITAS SISWA SDN 1 SUKALAKSANA JUSTRU MENCURI PERHATIAN PUBLIK

Garut, Pendidikan120 Dilihat

GARUT,JABARBICARA.COM – Di tengah sorotan publik terhadap polemik yang melibatkan oknum guru berinisial TH di SDN 1 Sukalaksana, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut, dengan wartawan Ridwan Firdaus yang hingga kini belum menemukan titik temu penyelesaian secara komprehensif, karena Oknum Guru Berinisial TH belum Memberikan Klarifikasi Secara langsung terbuka ke wartawan tersebut , muncul sisi lain yang justru menuai apresiasi masyarakat.

Sebagaimana diketahui, polemik tersebut masih bergulir dan bahkan pada 2 Juni 2026 Ridwan Firdaus secara resmi melayangkan surat pengaduan terkait dugaan pelanggaran etika dan disiplin kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, surat di layangkan karena sampai saat ini belum ada klarifikasi dari TH secara langsung ke wartawan tersebut.04/06/2026.

Idwan fitri
Dede fitri

Namun di luar persoalan yang masih menjadi perhatian publik tersebut, perhatian masyarakat kini tertuju pada kreativitas para siswa serta kuatnya dukungan orang tua murid terhadap kegiatan pendidikan di lingkungan sekolah.

Baca Juga:  Tim Gabungan Mulai Tertibkan APK di Garut, Jelang Masa Tenang Pilkada 2024

Tanpa panggung megah, tanpa tenda mewah, bahkan tanpa catwalk berbiaya besar, halaman SDN 1 Sukalaksana justru menjadi pusat perhatian warga dan pengguna jalan yang melintas. Sebuah kegiatan sederhana yang dikemas menarik berhasil menghadirkan suasana meriah sekaligus sarat nilai edukasi.

Kegiatan bertajuk “Keberagaman Indonesia, Bazar Makanan Tradisional dan Parade Busana Adat” yang diselenggarakan oleh siswa kelas V dengan tema “Kami Bangga dan Akan Menjaga Kebudayaan Indonesia” mendapat apresiasi dari masyarakat sekitar.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa menampilkan berbagai pakaian adat dari sejumlah daerah di Indonesia serta memperkenalkan aneka makanan tradisional sebagai bagian dari praktik pembelajaran yang mengangkat nilai-nilai keberagaman budaya bangsa.

Salah seorang orang tua siswa yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, terlepas dari polemik yang tengah terjadi, kegiatan pendidikan yang melibatkan kreativitas anak-anak patut mendapat dukungan semua pihak termasuk wartawan untuk mempublikasikan kegiatan positiv.

Baca Juga:  Eratkan Ukhuwah, KNPI dan Forkopimcam Sukawening Gelar Buka Puasa Bersama di Desa Maripari

“Kami tahu ada persoalan antara salah satu guru dengan wartawan yang sedang menjadi perhatian. Namun kegiatan hari ini sangat positif semoga bisa di publikasikan juga. Kegiatan anak anak kami Ini , bagian dari proses pembelajaran siswa kelas V untuk mengenal berbagai pakaian adat dari setiap daerah. Guru kelasnya, Bu Aneu Hidayat, S.Pd., dikenal dekat dengan para wali murid dan aktif membimbing anak-anak,” ujarnya saat dihubungi melalui WhatsApp.

Senada dengan itu, salah seorang tenaga pengajar di SDN 1 Sukalaksana yang juga enggan disebutkan namanya menyampaikan rasa syukur atas suksesnya kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah kegiatan berjalan baik dan lancar. Dukungan dari para orang tua siswa serta masyarakat sekitar sangat luar biasa. Sebagai tenaga pendidik, kami mengucapkan terima kasih atas seluruh dukungan yang diberikan. Hal ini menjadi motivasi bagi anak-anak untuk lebih aktif, kreatif, dan berprestasi,” katanya.

Ia juga berharap persoalan yang saat ini menjadi sorotan publik dapat diselesaikan dengan baik melalui komunikasi yang konstruktif.

Baca Juga:  Menanti Itikad Baik Oknum Guru SDN 1 Sukalaksana Sucinaraja, Kuasa Hukum Kedua Pihak Bergerak, Publik Desak Disdik Garut Tidak Tinggal Diam

“Kami semua berharap kesalahpahaman yang terjadi antara salah satu pengajar dengan wartawan dapat segera menemukan jalan terbaik, sehingga situasi kembali kondusif dan fokus pendidikan anak-anak tetap menjadi prioritas utama,” pungkasnya.

Di tengah polemik yang masih berlangsung, kegiatan tersebut menjadi gambaran bahwa semangat belajar, kreativitas siswa, serta kolaborasi antara sekolah dan orang tua tetap berjalan. Sorak gembira anak-anak yang mengenakan busana adat dan memamerkan hasil karya mereka seolah menjadi pesan sederhana bahwa dunia pendidikan tidak hanya tentang persoalan yang sedang diperdebatkan, tetapi juga tentang upaya bersama membangun generasi yang mencintai budaya, percaya diri, dan siap berprestasi.(JB)

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *