GARUT, JABARBICARA.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Namun, di balik dukungan tersebut, muncul harapan besar agar program bernilai anggaran sangat besar itu tidak hanya berhasil mengenyangkan anak-anak sekolah, tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian rakyat.
Hal itu disampaikan tokoh masyarakat Garut sekaligus Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), Holil Aksan Umarzen. Menurutnya, MBG merupakan gagasan yang sangat baik karena menyentuh kebutuhan dasar generasi penerus bangsa.
“Anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang lebih baik, stunting dapat ditekan, dan masa depan generasi bangsa dipersiapkan lebih matang. Karena itu saya mendukung penuh program MBG,” ujar Holil, Rabu (10/6/2026).
Meski demikian, Holil mengingatkan bahwa keberhasilan program tersebut tidak boleh hanya diukur dari jumlah makanan yang dibagikan setiap hari. Lebih dari itu, MBG harus mampu menghadirkan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat luas.
Menurutnya, petani, peternak, nelayan, koperasi, pedagang kecil, hingga pelaku UMKM lokal harus menjadi bagian utama dalam rantai pasok kebutuhan program tersebut. Dengan demikian, anggaran negara yang digelontorkan dapat berputar di daerah dan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Petani, peternak, nelayan, koperasi, warung dan UMKM lokal seharusnya ikut tumbuh dan menikmati perputaran ekonomi dari program MBG,” tegasnya.
Holil menilai, semangat pemberdayaan ekonomi lokal harus menjadi ruh utama dalam pelaksanaan program. Sebab jika pengelolaan dilakukan secara tertutup dan hanya melibatkan kelompok tertentu, maka manfaat ekonomi yang diharapkan akan sulit dirasakan masyarakat.
Ia mengaku memahami antusiasme masyarakat terhadap program MBG. Namun, keterbukaan informasi dan transparansi pengelolaan tetap menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.
“Saat ini publik mulai bertanya, siapa yang sebenarnya paling diuntungkan dari program strategis ini. Anak-anak memang harus kenyang, tetapi tata kelola juga harus bersih dan terbuka,” katanya.
Menurut Holil, program yang lahir dari niat baik harus dijaga agar tidak tercoreng oleh praktik-praktik yang berpotensi menimbulkan ketidakpercayaan publik. Karena itu, pengawasan yang kuat dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting untuk memastikan tujuan program benar-benar tercapai.
“Jangan sampai program yang mulia ini justru dicederai oleh praktik yang tidak transparan dan hanya menguntungkan segelintir pihak,” tambahnya.
Holil menegaskan, MBG seharusnya menjadi instrumen pemberdayaan rakyat, bukan sekadar proyek penyaluran anggaran. Jika dijalankan secara terbuka dan berpihak kepada ekonomi lokal, program ini tidak hanya akan melahirkan generasi yang sehat dan kuat, tetapi juga menciptakan pertumbuhan ekonomi dari tingkat desa hingga perkotaan.
“Yang kita harapkan bukan hanya anak-anak kenyang. Kita juga ingin petani terserap hasil panennya, peternak berkembang usahanya, nelayan memperoleh pasar yang jelas, dan UMKM mendapatkan peluang usaha yang lebih besar,” ujarnya.
Baginya, ukuran keberhasilan MBG bukan hanya jumlah piring yang terisi setiap hari, melainkan seberapa besar program tersebut mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat yang menjadi tulang punggung ekonomi bangsa.
Anak-anak kenyang, ekonomi rakyat bergerak, dan ruang bagi praktik mafia anggaran tertutup rapat. Itulah cita-cita besar yang diharapkan lahir dari Program Makan Bergizi Gratis bagi Indonesia.(JB/RF)







