GARUT, JABARBICARA.COM – Tidak semua persoalan harus berakhir dengan saling menyalahkan. Ada kalanya, secangkir kopi, ketulusan meminta maaf, dan kebesaran hati untuk memaafkan justru menjadi jalan terbaik untuk menyudahi kesalahpahaman.
Sore itu, di sebuah kafe sederhana di kawasan Jalan Pahlawan, Garut, tiga orang duduk mengelilingi meja kecil. Tak ada mikrofon, tak ada podium, tak pula sorotan lampu konferensi pers. Yang hadir hanyalah keinginan untuk saling mendengar dan meluruskan apa yang sempat membuat banyak hati terusik.
Di hadapan Sekretaris DPD Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia Kabupaten Garut, Hj Eneng Kustini menyampaikan sesuatu yang mungkin sederhana, tetapi tidak mudah dilakukan oleh setiap orang: mengakui kekeliruan dan meminta maaf.
Anggota DPRD Garut dari Komisi IV itu menegaskan bahwa dirinya tidak pernah berniat sedikitpun merendahkan profesi wartawan melalui pernyataan yang sempat menjadi sorotan publik terkait ucapan “PLT kepala sekolah menjadi makanan wartawan”.
“Saya tidak bermaksud melecehkan tugas jurnalis atau wartawan. Jika ucapan saya menimbulkan ketidaknyamanan, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya,” ujar Hj Eneng dengan nada tenang.
Kalimat itu mungkin singkat. Namun, bagi sebagian orang, permintaan maaf adalah bentuk keberanian. Keberanian untuk mengakui bahwa manusia tak luput dari salah memilih kata.
Wajah Hj Eneng yang telah lama mengabdikan hidupnya di dunia pendidikan tampak teduh. Sebelum menjadi wakil rakyat, perempuan asal Kecamatan Cilawu itu pernah menjadi guru, kepala sekolah, hingga pengawas sekolah. Usianya tak lagi muda, tetapi semangatnya mengawal pendidikan di Garut masih menyala.
Di sisi lain, insan pers yang hadir dalam pertemuan tersebut juga memilih untuk tidak memperpanjang luka. Sebab kritik boleh tajam, tetapi kemanusiaan tidak boleh hilang.
Sekretaris DPD IWO Indonesia Kabupaten Garut, Ridwan Firdaus, mengapresiasi ketulusan Hj Eneng yang memilih bertemu secara langsung untuk meluruskan persoalan.
“Kalau kemudian terjadi keseleo lidah, tentu sebagai sesama umat muslim kita harus bijak dan saling memaafkan. Mudah-mudahan dengan pertemuan ini polemik yang terjadi bisa segera selesai,” katanya.
Menariknya, di balik pertemuan itu ada orang-orang yang tidak mencari tepuk tangan. Mereka bekerja dalam senyap demi menjaga persaudaraan.
Ridwan Juga mengapresiasi langkah anggota Badan Kehormatan DPRD Garut yang telah menegur salah satu Anggota DPRD Komisi IV. Barusan Bu Hj Eneng juga menyampaikan telah di tegur oleh Badan Kehormatan DPRD Garut, ujar Ridwan Firdaus
Pertemuan tersebut diinisiasi oleh Irwan Wijaya dari Media Mata Peristiwa, serta mendapat dorongan dari seorang aktivis sekaligus mantan anggota DPRD Garut periode 2019–2024 dari Fraksi PKS. Mereka menjadi jembatan yang menghubungkan dua pihak yang sempat dipisahkan oleh kesalahpahaman.
Sebelumnya Ridwan Firdaus mengkritik tajam penyataan salah satu Anggota Komisi IV DPRD Garut, kritikan tersebut kemudian mematik sorotan luas dari Media massa lokal di Garut, di ikuti berbagai pemberitaan di sejumlah media massa yang menyoroti etika komunikasi pejabat publik di forum resmi .
Dalam pertemuan permohonan maaf dan klarifikasi, tidak ada pemenang dan tidak ada pihak yang dipermalukan dalam pertemuan itu. Yang ada hanyalah pelajaran bahwa setiap kata memiliki dampak, setiap kritik membutuhkan kebijaksanaan, dan setiap kekeliruan masih memiliki ruang untuk diperbaiki.
Di tengah zaman ketika potongan video dapat memantik amarah dan media sosial sering kali menjadi ruang penghakiman, pertemuan sederhana itu mengajarkan bahwa duduk bersama tetap lebih mulia daripada saling menyerang.
Karena pada akhirnya, pers dan wakil rakyat bukanlah dua kubu yang saling berhadapan. Keduanya adalah mitra dalam mengawal kepentingan masyarakat.
Dan mungkin, yang paling berharga dari pertemuan di meja kopi itu bukan sekadar klarifikasi atau permintaan maaf.
Melainkan kesadaran bahwa menjaga persaudaraan jauh lebih penting daripada memenangkan ego.
Sebab Garut tidak dibangun oleh mereka yang merasa paling benar, tetapi oleh mereka yang bersedia saling memahami, saling mengingatkan, dan saling memaafkan demi kebaikan bersama. [Red/JB]







