SDN 3 Tenjonagara Buktikan Sekolah Pelosok Bisa Bersinar, Satukan Pendidikan, Seni, dan UMKM dalam Satu Panggung Rakyat

Garut, Pendidikan318 Dilihat

GARUT, JABARBICARA.COM – Di tengah kesejukan alam kaki Gunung Sagara, sebuah sekolah dasar negeri di pelosok Garut Timur membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk melahirkan kreativitas, kebersamaan, dan kemajuan masyarakat.

Hal itu tampak dalam kemeriahan Bazar Rakyat dan Kreasi Seni Masyarakat Kampung Sagara yang digelar di halaman SDN 3 Tenjonagara, Kampung Sagara, Desa Tenjonagara, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut. Kegiatan yang dipadukan dengan syukuran kenaikan kelas dan pelepasan siswa kelas VI tersebut berhasil menyedot perhatian ratusan warga dari Kampung Sagara dan wilayah sekitarnya.

Jbr3
Jbr4
Jbr1
Jbr yudi

Beragam produk UMKM menghiasi area bazar, mulai dari makanan tradisional, kuliner kekinian, produk pertanian, stan edukasi SDN 3 Tenjonagara, hingga produk minuman kesehatan Milagros. Sementara di panggung utama, siswa-siswi SDN 3 Tenjonagara menampilkan berbagai kreasi seni yang menghibur dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pihak sekolah, komite sekolah, wali murid, tokoh masyarakat, Pemerintah Desa Tenjonagara, pelaku UMKM, pengelola wisata Puncak Sagara, para bandar sayuran, serta pengusaha lokal yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan pendidikan dan ekonomi masyarakat.

Sekolah Kecil, Semangat Besar

Kepala SDN 3 Tenjonagara, Ade Awan Krisnawan, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda masyarakat Kampung Sagara yang untuk kedua kalinya digelar dengan dukungan berbagai elemen masyarakat.

“SDN 3 Tenjonagara saat ini memiliki 97 siswa yang terbagi dalam enam rombongan belajar. Tahun ini kami melepas 20 siswa kelas VI yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Alhamdulillah, dibanding tahun sebelumnya, jumlah pengunjung dan aktivitas UMKM pada kegiatan kali ini jauh lebih meningkat,” ujarnya.

Menurut Ade Awan, keberhasilan kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga dapat menjadi pusat penggerak kebersamaan dan pemberdayaan masyarakat.

Baca Juga:  PPDI Garut Tetapkan Lima Agenda Strategis Desa, Siap Ajukan Audiensi ke DPRD dan Bupati

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga Kampung Sagara, para wali murid, pelaku UMKM, bandar sayuran, tokoh masyarakat, dan Pemerintah Desa Tenjonagara yang telah mendukung kegiatan ini sehingga berjalan sukses dan meriah,” katanya.

Menggerakkan Ekonomi dari Halaman Sekolah

Kepala Desa Tenjonagara, Pelani, mengapresiasi kekompakan masyarakat Kampung Sagara yang mampu menghadirkan kegiatan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Kegiatan ini bukan sekadar hiburan. Secara tidak langsung mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat melalui keterlibatan para pelaku UMKM. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk menampilkan kreativitas siswa dan masyarakat,” ungkapnya.

Ia menilai sinergitas antara sekolah, komite, tokoh masyarakat, wali murid, dan para pelaku usaha menjadi modal sosial yang sangat berharga bagi pembangunan desa.

“Kekompakan seperti ini harus terus dijaga. Selain meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, kegiatan ini juga dapat memperkenalkan potensi wisata Kampung Sagara yang kini semakin diminati wisatawan melalui destinasi alam Puncak Sagara,” tambahnya.

Menyimpan Jejak Sejarah Perjuangan

Di balik kemeriahan bazar dan pentas seni, terdapat jejak sejarah yang menarik perhatian pengunjung. Pada salah satu dinding sekolah masih terpampang tulisan bertuliskan:

Baca Juga:  “Gaspol Tata Kelola Desa! Bupati Garut Kumpulkan APDESI, Dorong Transparansi dan Soliditas 442 Desa”

“Sumbangan Pembaca Harian Kompas dengan Hasil Kerjasama Masyarakat dan CARE, 17 Januari 1985.”

Tulisan tersebut menjadi saksi perjalanan panjang SDN 3 Tenjonagara yang pernah mengalami masa sulit akibat dampak letusan Gunung Galunggung.

Guru senior SDN 3 Tenjonagara, Uus, S.Pd., menjelaskan bahwa bantuan tersebut diberikan untuk membantu pemulihan sarana pendidikan yang rusak akibat bencana.

“Dulu sekolah mengalami kerusakan akibat letusan Gunung Galunggung. Bantuan dari Harian Kompas digunakan untuk pembangunan ruang kelas, rumah dinas kepala sekolah, benteng sekolah, dan berbagai sarana lainnya,” jelasnya.

Jejak sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa sekolah yang kini berdiri kokoh pernah tumbuh dari semangat gotong royong dan kepedulian banyak pihak.

Dari Guru Honorer Menjadi Inspirasi UMKM

Kegiatan bazar juga menghadirkan sejumlah pelaku UMKM lokal, salah satunya Ai Supeni, eks Guru honorer yang kini sukses mengembangkan usaha minuman kesehatan Milagros.

Ia mengaku bangga melihat kreativitas dan semangat masyarakat Kampung Sagara dalam mendukung pendidikan dan pemberdayaan ekonomi.

“Selamat kepada siswa-siswi yang naik kelas dan yang telah lulus. Kreativitas warga, tokoh masyarakat, wali murid, dan para pelaku UMKM merupakan energi positif yang perlu terus dijaga dan dikembangkan,” ujarnya.

Apresiasi untuk Generasi Berprestasi

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, panitia juga menyerahkan trofi dan piagam penghargaan kepada siswa-siswi berprestasi sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras dan capaian mereka selama mengikuti proses pendidikan.

Baca Juga:  HEBOH !! Pria Asal Pakenjeng Garut Mengaku Sebagai Imam Mahdi

Acara tersebut dihadiri Kepala Desa Tenjonagara Pelani, para kepala dusun, tokoh masyarakat, Komite Sekolah Engkos, Kepala SDN Tegalpanjang 5 Ade Rohmah, mantan Korwil Pendidikan Sucinaraja K. Kusnadi, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Sekolah Sejuk di Jalur Pendakian Gunung Sagara

SDN 3 Tenjonagara merupakan sekolah dasar negeri yang berada di Kampung Sagara, Desa Tenjonagara, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut. Dengan NPSN 20227126, sekolah ini melayani 97 siswa yang didukung oleh delapan tenaga pendidik dan kependidikan, enam ruang kelas, serta satu ruang perpustakaan.

Keunikan sekolah ini terletak pada lokasinya yang berada di kawasan dataran tinggi sekaligus jalur pendakian resmi menuju Gunung Sagara. Dikelilingi udara pegunungan yang sejuk, perbukitan hijau, dan panorama alam yang indah, SDN 3 Tenjonagara menjadi ruang belajar yang nyaman bagi para siswa.

Melalui kepemimpinan Ade Awan Krisnawan, S.Pd., dukungan para guru, serta sinergitas masyarakat Kampung Sagara, SDN 3 Tenjonagara membuktikan bahwa sekolah di pelosok bukanlah simbol keterbatasan. Sebaliknya, sekolah ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan, seni, budaya, dan pemberdayaan ekonomi dapat tumbuh bersama dalam semangat gotong royong yang kuat.

Dari kaki Gunung Sagara, SDN 3 Tenjonagara mengirimkan pesan optimisme: bahwa sekolah kecil pun mampu bersinar dan menjadi pusat lahirnya harapan bagi generasi masa depan. (JB/RF)

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *