Ketua Komite Bantah Disebut Sibuk Saat Persiapan Revitalisasi, Kepala Sekolah Lain Mengaku Tak Tahu Proyek Sedang Berjalan

Garut, Pendidikan135 Dilihat

GARUT, JABARBICARA.COM – Pernyataan pihak sekolah yang menyebut Komite Sekolah SDN 2 Sindangprabu Kecamatan Wanaraja  sibuk pada masa persiapan revitalisasi mendapat tanggapan dari Ketua Komite Sekolah, Yayan. Ia membantah anggapan tersebut dan menegaskan bahwa dirinya tetap menjalankan amanah serta tanggung jawab sebagai ketua komite secara maksimal.

Yayan mengatakan, sejak dimulainya proses pembangunan revitalisasi, dirinya berupaya hadir hampir setiap hari untuk memantau pelaksanaan pekerjaan. Bahkan, ia mengaku kerap datang sejak pagi sebelum para pekerja tiba di lokasi proyek.

Jbr3
Jbr4
Jbr1
Jbr yudi

“Saya memegang amanah dan kepercayaan sebagai Ketua Komite. Karena itu saya berusaha semaksimal mungkin menjalankan tugas. Dalam pembangunan sekolah ini saya hampir setiap hari datang, bahkan sering datang pagi sebelum para pekerja tiba. Bukan semata karena rumah saya dekat dengan sekolah, tetapi karena itu bentuk tanggung jawab saya,” ujar Yayan.

Meski demikian, Yayan mengakui komunikasi dengan kepala sekolah memang belum berlangsung secara intens. Menurutnya, setiap kali bertemu selalu ada komunikasi, namun waktunya relatif singkat sehingga belum sempat membahas berbagai hal secara mendalam.

“Kalau bertemu dengan kepala sekolah memang selalu ada komunikasi, tetapi hanya sebentar. Ke depan saya berharap komunikasi bisa lebih intens agar tidak terjadi kesalahpahaman,” katanya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada media yang telah memberikan perhatian terhadap proses revitalisasi sekolah tersebut.

“Terima kasih kepada media atas perhatian dan kontrol sosialnya. Mudah-mudahan ke depan komunikasi antara jajaran komite, pihak sekolah, dan pihak-pihak terkait bisa lebih baik lagi,” tambahnya.

Kepala Sekolah di Wanaraja Mengaku Tidak Mengetahui Revitalisasi

Di sisi lain, sorotan terhadap tata kelola revitalisasi juga datang dari lingkungan pendidikan di Kecamatan Wanaraja. Sejumlah kepala sekolah mengaku tidak mengetahui bahwa proyek revitalisasi di sekolah tersebut telah berjalan.

Salah seorang kepala sekolah yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku baru mengetahui adanya pelaksanaan revitalisasi setelah membaca pemberitaan di media.

“Kami juga kaget. Ternyata sudah ada kegiatan revitalisasi. Tahunya justru dari media,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut juga dialami sejumlah pihak di lingkungan pendidikan. Bahkan ketika ada rekan-rekannya yang mencoba menanyakan kepada pengawas pembina maupun pihak lain di lingkungan pendidikan Kecamatan Wanaraja, banyak yang mengaku tidak mengetahui adanya pelaksanaan proyek tersebut.

“Bahkan ada yang bertanya berapa nilai anggarannya, tetapi pengawas maupun pihak terkait juga mengaku tidak mengetahui ada kegiatan revitalisasi ataupun besaran anggarannya,” ujarnya.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai pola koordinasi dan keterbukaan informasi dalam pelaksanaan proyek revitalisasi sekolah. Minimnya informasi yang diterima para pemangku kepentingan di tingkat kecamatan dinilai dapat menimbulkan persepsi adanya lemahnya komunikasi dan koordinasi antarpihak.

Sejumlah pemerhati pendidikan menilai bahwa proyek revitalisasi yang menggunakan anggaran negara semestinya dilaksanakan dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, serta melibatkan seluruh unsur terkait, termasuk komite sekolah, pengawas pembina, dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan demikian, pelaksanaan pembangunan tidak hanya berjalan sesuai ketentuan, tetapi juga memperoleh dukungan dan pengawasan bersama dari masyarakat.(JB/RF)

Baca Juga:  Ironi "Jembatan Setengah Hati": Kegagalan Sistemik dan Rapuhnya Komitmen Pembangunan di Garut

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *