Miris! Murid SDN 4 Cinunuk Bertambah, Tapi Siswa Belajar di Bawah Ancaman Plafon Ambruk

Garut, Pendidikan76 Dilihat

GARUT, JABARBICARA.COM – Di tengah hamparan persawahan yang membentang di Kampung Tunggilis, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, tepat di perbatasan dengan Desa Sadang, Kecamatan Sucinaraja, berdiri SDN 4 Cinunuk. Sekolah dasar yang berada di pelosok itu menjadi potret nyata perjuangan para guru dan tenaga kependidikan dalam mempertahankan layanan pendidikan di tengah berbagai keterbatasan.

Meski menghadapi minimnya jumlah peserta didik, keterbatasan anggaran, hingga kondisi bangunan yang memprihatinkan, semangat para pendidik untuk mencerdaskan anak-anak tidak pernah surut. Bahkan, kerja keras mereka mulai membuahkan hasil dengan meningkatnya jumlah siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027.

Jbr3
Jbr4
Jbr1
Jbr yudi

Pelaksana Tugas (PLT) Kepala SDN 4 Cinunuk, Dindin Saripudin, S.Pd., mengungkapkan bahwa tahun ajaran 2024/2025 sekolah tersebut hanya menerima lima siswa baru. Namun, pada tahun ajaran 2026/2027 jumlah pendaftar meningkat menjadi 13 siswa.

“Alhamdulillah tahun ini ada peningkatan yang cukup signifikan. Dari sebelumnya hanya lima siswa, kini ada 13 siswa baru yang mendaftar. Mereka berasal dari dua rukun tetangga yang berada di sekitar sekolah,” ujar Dindin saat ditemui media di SDN 1 Cinunuk, tempat dirinya menjabat sebagai kepala sekolah definitif, Selasa (21/7/2026).

Baca Juga:  Menteri Kehutanan RI Tinjau Pengolahan Kopi Agroforestri di Garut, Dorong Peningkatan Produktivitas dan Kesejahteraan Petani

Saat ini, jumlah peserta didik SDN 4 Cinunuk tercatat sebanyak 62 siswa.

Namun, kabar menggembirakan tersebut berbanding terbalik dengan kondisi fisik sekolah. Salah satu ruang kelas hingga kini masih mengalami kerusakan setelah plafonnya ambruk pada Desember 2025.

“Peristiwa itu terjadi saat libur sekolah sehingga tidak menimbulkan korban. Kami sudah melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, tetapi hingga sekarang belum ada informasi kapan perbaikannya akan dilakukan,” kata Dindin.

Pantauan JABARBICARA.COM di lokasi menunjukkan satu ruang kelas masih tanpa plafon. Kondisi tersebut membuat proses belajar mengajar berlangsung di tengah kekhawatiran akan keselamatan siswa dan guru.

Tenaga pendidik SDN 4 Cinunuk, Asep, mengatakan warga sekolah khawatir kerusakan serupa dapat terjadi pada ruang kelas lainnya.

“Kami khawatir plafon di bangunan lain juga bisa ambruk sewaktu-waktu. Keselamatan siswa tentu menjadi perhatian utama kami,” ujarnya.

Menurut Asep, plafon yang ambruk merupakan bagian dari bangunan yang dibangun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2018 dengan konstruksi atap baja ringan. Sementara tiga bangunan lainnya memiliki kondisi atap yang mulai lapuk karena faktor usia dan belum pernah direhabilitasi dalam waktu yang cukup lama.

Baca Juga:  MENGULITI PERBUP Garut Nomor 42 Tahun 2018: Dari Celah Regulasi hingga Ancaman Dana BOS

Ia menambahkan, Pemerintah Desa Cinunuk juga telah menyampaikan laporan mengenai kondisi sekolah tersebut kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Garut. Namun hingga kini belum ada kepastian mengenai pelaksanaan perbaikan.

“Kami berharap ada perhatian khusus dari pemerintah terhadap sekolah-sekolah dengan jumlah siswa sedikit. Meski kecil, sekolah ini tetap memiliki tanggung jawab mencerdaskan generasi bangsa,” tuturnya.

Persoalan yang dihadapi SDN 4 Cinunuk juga mencerminkan tantangan yang dialami banyak sekolah dasar berjumlah siswa minim. Formula penyaluran Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dihitung berdasarkan jumlah peserta didik membuat dana operasional yang diterima relatif kecil.

Akibatnya, sebagian besar anggaran habis untuk membiayai kebutuhan rutin seperti listrik, air, internet, serta operasional pembelajaran. Sementara anggaran pemeliharaan bangunan menjadi sangat terbatas.

Kondisi tersebut menyebabkan kerusakan fasilitas sekolah sulit ditangani sejak dini. Kerusakan kecil yang seharusnya dapat diperbaiki segera justru berkembang menjadi kerusakan berat yang berpotensi membahayakan keselamatan warga sekolah.

Baca Juga:  KIBARKAN SERAGAM KEBANGGAAN! Kontingen O2SN Sucinaraja Siap Ukir Prestasi dan Harumkan Nama Daerah

Di sisi lain, kondisi bangunan yang tampak kurang terawat juga dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap sekolah. Padahal, di balik keterbatasan itu, para guru terus menunjukkan dedikasi tinggi dalam memberikan layanan pendidikan terbaik.

Menurut Dindin, salah satu faktor sedikitnya jumlah peserta didik di SDN 4 Cinunuk juga dipengaruhi kondisi demografi wilayah.

“Wilayah ini dikenal sebagai Kampung KB, sehingga angka kelahiran relatif terkendali. Itu juga menjadi salah satu faktor jumlah siswa di sekolah kami tidak banyak,” jelasnya.

Meski demikian, meningkatnya jumlah peserta didik tahun ini menjadi bukti bahwa kepercayaan masyarakat terhadap SDN 4 Cinunuk mulai tumbuh kembali.

Kini, harapan para guru bukanlah fasilitas yang mewah, melainkan ruang kelas yang aman dan layak agar puluhan siswa dapat belajar tanpa dihantui rasa cemas akibat kondisi bangunan yang rusak.

Perjuangan para guru di SDN 4 Cinunuk menjadi pengingat bahwa pendidikan di pelosok bukan hanya membutuhkan dedikasi para pendidik, tetapi juga perhatian nyata dari pemerintah agar setiap anak Indonesia memperoleh hak belajar dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan bermartabat.(JB/RF)

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *