GARUT, JABARBICARA.COM – Revitalisasi Satuan Pendidikan SDN 2 Sindangprabu, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, bukan sekadar menghadirkan bangunan sekolah yang lebih kokoh dan representatif. Di balik deru pekerjaan konstruksi, tersimpan sebuah tradisi warisan leluhur yang masih dijaga dengan penuh penghormatan, yakni prosesi Ngadegkeun Suhunan, sebuah ritual adat Sunda yang sarat makna, doa, dan filosofi kehidupan.
Prosesi syukuran tersebut menjadi momentum yang memperlihatkan bagaimana pembangunan fisik dapat berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai budaya. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun itu digelar saat pemasangan suhunan atau kerangka atap utama bangunan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus doa agar seluruh proses pembangunan berlangsung lancar, aman, dan membawa keberkahan.
Suasana khidmat terasa sejak awal acara. Hadir dalam kesempatan itu Kepala Desa Sindangprabu Sunaryo, Babinsa Desa Sindangprabu Koptu Deni Junaedi dari Koramil 1103/Sucinaraja, Ketua Komite SDN 2 Sindangprabu Yayan Suryana, Kepala SDN 2 Sindangprabu sekaligus Penanggung Jawab Pelaksanaan Revitalisasi Nani Maryani, S.Pd., para tokoh masyarakat, jajaran komite sekolah, guru dan tenaga kependidikan, panitia pelaksana pembangunan, serta para pekerja yang terlibat dalam proyek revitalisasi.
Di tengah area pembangunan, dua nasi tumpeng berukuran jumbo lengkap dengan aneka lauk-pauk tersaji sebagai simbol rasa syukur. Lantunan doa yang dipimpin sesepuh setempat menyatu dengan semangat gotong royong seluruh peserta yang hadir, menghadirkan suasana hangat dan penuh makna.
Bagi masyarakat Sunda, Ngadegkeun Suhunan bukan sekadar seremoni adat. Tradisi ini mengandung pesan filosofis bahwa setiap bangunan yang didirikan harus diawali dengan doa serta niat baik agar menjadi tempat yang menghadirkan manfaat bagi banyak orang.
Bentuk tumpeng yang menjulang ke atas melambangkan cita-cita luhur dan penghambaan kepada Sang Pencipta. Di sisi lain, bentuk kerucutnya mengajarkan bahwa setinggi apa pun ilmu dan pencapaian seseorang, kerendahan hati tetap menjadi landasan utama dalam kehidupan. Kelapa yang turut menjadi bagian dari prosesi melambangkan keteguhan, daya tahan, serta kebermanfaatan, karena setiap bagian pohonnya dapat dimanfaatkan bagi kehidupan manusia.
Makna-makna tersebut sejalan dengan tujuan revitalisasi sekolah. Bangunan yang kokoh memang penting sebagai penunjang proses belajar mengajar, namun pendidikan yang sesungguhnya juga bertumpu pada pembentukan karakter, penghormatan terhadap budaya, dan penanaman nilai-nilai luhur kepada generasi muda.
Melalui tradisi ini, SDN 2 Sindangprabu menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus memutus hubungan dengan akar budaya. Justru di tengah derasnya arus modernisasi, warisan leluhur menjadi fondasi moral yang memperkuat jati diri masyarakat.
Usai prosesi syukuran, Kepala SDN 2 Sindangprabu sekaligus Penanggung Jawab Pelaksanaan Revitalisasi, Nani Maryani, S.Pd., berkeliling meninjau perkembangan pembangunan. Ia memperhatikan setiap tahapan pekerjaan, berdialog dengan para pekerja, serta memberikan arahan agar proses revitalisasi berjalan sesuai rencana dengan tetap mengutamakan kualitas dan keselamatan kerja.
Revitalisasi SDN 2 Sindangprabu pada akhirnya tidak hanya melahirkan ruang-ruang belajar yang lebih layak bagi peserta didik. Lebih dari itu, pembangunan ini menjadi simbol bahwa kemajuan pendidikan akan memiliki makna yang lebih utuh ketika dibangun di atas fondasi budaya, gotong royong, dan kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur.
Tradisi Ngadegkeun Suhunan menjadi pengingat bahwa sekolah bukan hanya tempat membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai, menghormati sejarah, dan membentuk generasi yang berkarakter, berbudaya, serta mampu melangkah ke masa depan tanpa melupakan akar tempat mereka berasal. (JB/RF)









