JAKARTA, JABARBICARA.COM – Sebanyak 237 wisudawan dari berbagai program studi sarjana dan magister resmi menyelesaikan pendidikan tinggi mereka dalam prosesi Wisuda Ke-XI Universitas Tanri Abeng (TAU) yang digelar di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Mengusung tema “Leading Future Excellence through Technopreneurship and Sustainability” (Memimpin Keunggulan Masa Depan melalui Kewirausahaan Berbasis Teknologi dan Keberlanjutan), wisuda ini menjadi momen bersejarah bagi para lulusan yang tidak sekadar mengenakan toga, tetapi juga mengemban amanat sebagai agen perubahan di tengah transformasi nasional yang sedang berlangsung—bertepatan dengan puncak bonus demografi Indonesia yang diprediksi mencapai titik terendah rasio ketergantungan pada periode 2028–2031.
Wisuda Ke-XI ini meluluskan 237 wisudawan dari beragam program studi, mencakup jenjang sarjana dan magister. Para lulusan berasal dari Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis, Manajemen, Sistem Informasi, Teknik Informatika, Akuntansi, Arsitektur, Ilmu Komunikasi, Teknik Perminyakan, dan Teknik Sipil, serta Magister Administrasi Bisnis. Mereka adalah generasi yang telah dibekali dengan semangat technopreneurship dan kepemimpinan berkelanjutan, siap menjadi agen perubahan di tengah bonus demografi dan transformasi nasional Indonesia.
Hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh nasional, antara lain Perwakilan Gubernur DKI Jakarta Prof. Ir. Firdaus Ali, M.Sc., Ph.D., Kepala LLDIKTI 3 Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, SE., MA., para pembina Yayasan Pendidikan Anakkukang Emil Abeng dan Edwin Abeng, Ketua Yayasan Ridwan Rasyul, serta jajaran pimpinan universitas dan yayasan pendiri.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, yang hadir sebagai pembicara kunci, menyampaikan “3 Pesan Wisudawan” yang menekankan pentingnya Future Mindset, Learning Agility, dan Grit. Ia memaparkan data bahwa Indeks Inovasi Global (GII) Indonesia telah melonjak dari peringkat 85 pada 2020 menjadi 55 pada 2025, dengan target peringkat ke-49 pada 2029 sesuai RPJMN. Ia juga menunjukkan korelasi positif yang kuat antara inovasi dan PDB per kapita, menjadikan inovasi sebagai lokomotif baru ekonomi berkelanjutan.
Di era ketika keterampilan digital seperti Cloud Computing, AI, dan Data Science tumbuh paling pesat, sementara keterampilan lama mulai ditinggalkan, Arif Satria mengingatkan bahwa persaingan ke depan bukan lagi soal pengetahuan semata, melainkan kreativitas, imajinasi, dan kemampuan belajar mandiri. Ia mengutip penelitian Thomas J. Stanley yang menempatkan kejujuran dan disiplin sebagai faktor sukses utama—mengalahkan nilai IQ yang hanya berada di urutan ke-21, bersekolah di sekolah favorit urutan ke-23, atau lulus dengan nilai terbaik urutan ke-30. Ia juga mengingatkan pentingnya karakter dan integritas sebagai fondasi kesuksesan jangka panjang.
“Sekali Anda berhenti belajar, Anda mulai mati,” ujarnya mengutip Albert Einstein, seraya menutup dengan pesan inspiratif: “Inspirasi bisa dengan kata-kata, tapi lebih baik dengan karya.”
Hj. Himmatul Aliyah, S.Sos, M.Si, dalam sambutannya menyoroti keselarasan tema wisuda dengan kebijakan transformatif Pemerintahan Presiden Prabowo. Ia menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan SDM yang tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi menciptakan pekerjaan. Peluang itu terbuka lebar melalui 13 proyek hilirisasi nasional tahap II senilai Rp116 triliun, komitmen bisnis dari kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea sebesar Rp575 triliun, serta target pengoperasian 30.000 Koperasi Desa/Kelurahan pada akhir 2026.
“Jangan hanya menjadi job seeker, jadilah job creator,” tegasnya, seraya mengingatkan bahwa pemerintah telah membuka Program Magang Nasional dengan 150.000 kesempatan bagi lulusan perguruan tinggi pada Agustus 2026.
Para pembicara sepakat bahwa para lulusan TAU berada di garda terdepan untuk memimpin transformasi Indonesia. Pesan utama yang disampaikan kepada para wisudawan adalah: jadilah pembelajar sejati yang tidak pernah berhenti belajar, kuasai teknologi dengan karakter dan integritas, serta bangun usaha yang memberi solusi nyata bagi masyarakat.
Wisuda Ke-XI ini menjadi penanda bahwa Universitas Tanri Abeng tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten secara akademis, tetapi juga lulusan yang berani berinovasi, berwawasan kebangsaan, serta memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan bumi. Dengan semangat kolaborasi antara dunia pendidikan, riset, dan kebijakan pemerintah, para alumni diharapkan mampu mewujudkan Indonesia Emas yang inklusif dan berdaya saing global.
Dalam orasi ilmiahnya pada Wisuda Ke-XI Universitas Tanri Abeng, Fauzan Adziman, Dirjen Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, menegaskan bahwa Indonesia berada di titik kritis untuk menjadi negara maju sebelum bonus demografi berakhir pada 2030. Untuk mencapai target Indonesia Emas 2045, pertumbuhan ekonomi harus dinaikkan dari 4,9% menjadi 5,4–5,5% per tahun—dan selisih itu hanya bisa ditutup oleh inovasi.
Di tengah perubahan global yang menciptakan 170 juta pekerjaan baru dan menghapus 92 juta pekerjaan lama, masa depan ada pada technopreneurship berbasis deep tech—yang terbukti lebih cepat berkembang dan lebih menguntungkan. Indonesia harus membangun jaringan inovasi global, memperkuat talenta riset, dan beralih dari “kerja keras” ke “kerja cerdas” berbasis ilmu pengetahuan. Pesan kepada wisudawan: jadilah pemimpin yang menciptakan solusi nyata, karena masa depan bangsa ditentukan oleh kemampuan kita mengubah ide menjadi dampak bagi dunia.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Tanri Abeng, Associate Prof. Dr. Suyanto, SE., S.Pd.I., MM., M.Ak., Ak., CA., dalam pidatonya menegaskan bahwa technopreneurship dan sustainability adalah dua pilar utama yang akan menopang langkah para lulusan menghadapi dunia yang berubah cepat. Mengutip visi Industry 5.0 yang berciri human-centric, resilient, dan sustainable, Rektor mengingatkan bahwa dunia saat ini tidak hanya ditandai oleh loncatan teknologi seperti kecerdasan buatan dan otomatisasi, tetapi juga oleh krisis iklim yang nyata.
“Keunggulan masa depan lahir dari mereka yang mampu menyatukan keberanian mencipta dengan tanggung jawab moral menjaga kelestarian. Setiap inovasi harus membawa dampak baik bagi keuntungan, manusia, dan lingkungan—inilah esensi dari triple bottom line yang harus dipegang teguh,” ujar Rektor.
Ia juga menekankan bahwa kepemimpinan sejati tidak cukup hanya piawai membaca data, tetapi harus memiliki empati dan memastikan kemajuan dirasakan oleh semua orang.
Wisuda Ke-XI Universitas Tanri Abeng semakin semarak dengan penampilan spesial dari Rani Zamala, penyanyi berbakat yang namanya melambung lewat ajang D’Academy 3 (Top 4) dan prestasi sebagai Runner Up D’Academy Asia 2. Dengan karakter vokal yang khas dan perjalanan karier yang menginspirasi, Rani turut memeriahkan prosesi wisuda para lulusan. Kehadirannya terasa istimewa karena Rani juga merupakan mahasiswa Program Sarjana Batch 15 Jurusan Ilmu Komunikasi TAU, menjadikannya simbol nyata bahwa semangat belajar dan berkarya dapat berjalan seiring. tutupnya. [UR/JB]







