Dinding Bersejarah SDN 3 Tenjonagara Simpan Jejak Solidaritas Bangsa Lintas Zaman

Garut, Pendidikan190 Dilihat

GARUT, JABARBICARA.COM – Di tengah kemeriahan Bazar Rakyat dan Kreasi Seni Masyarakat Kampung Sagara yang digelar di SDN 3 Tenjonagara, Kampung Sagara, Desa Tenjonagara, Kecamatan Sucinaraja Garut, tersimpan sebuah jejak sejarah yang menyita perhatian pengunjung. Di bawah kompleks ruang kelas sekolah, berdiri kokoh sebuah dinding penahan tanah yang memuat prasasti sederhana namun sarat makna:

“Sumbangan Pembaca Harian Kompas dengan hasil kerja sama masyarakat dan CARE, 17 Januari 1985.”

Idwan HUTRI

Tulisan yang kini telah berusia lebih dari 41 tahun itu menjadi saksi bisu kepedulian lintas elemen bangsa terhadap dunia pendidikan di pelosok Kabupaten Garut.

Baca Juga:  Sambut Bulan Suci Ramadhan 1446 H, Rayon 7 PKBM Gelar Musapahah

Di balik prasasti tersebut, tersimpan kisah panjang perjuangan masyarakat Kampung Sagara dalam menghadapi dampak letusan Gunung Galunggung pada tahun 1982. Erupsi tersebut menyemburkan material vulkanik dan abu panas yang meluluhlantakkan berbagai fasilitas umum, permukiman warga, lahan pertanian, hingga sarana pendidikan. Kondisi itu membuat aktivitas belajar mengajar terhenti akibat rusaknya bangunan sekolah dan lingkungan sekitar.

Di tengah situasi sulit tersebut, bantuan kemanusiaan mengalir dari berbagai pihak, termasuk para pembaca Harian Kompas yang bekerja sama dengan lembaga CARE serta masyarakat setempat. Kolaborasi itu kemudian diwujudkan dalam pembangunan fasilitas pendidikan di SDN 3 Tenjonagara.

Guru senior SDN 3 Tenjonagara, Uus, S.Pd., mengungkapkan bahwa proses pembangunan dimulai pada tahun 1984 dan berlangsung selama kurang lebih empat bulan hingga rampung pada 17 Januari 1985.

Baca Juga:  GIPS Bedah Filosofi “Garut Hebat”: Harus Hidup di Masyarakat, Kuat Secara Konsep, dan Sah Secara Hukum.

“Pembangunan dilakukan sekitar empat bulan. Bantuan dari pembaca Harian Kompas, CARE, dan masyarakat digunakan untuk membangun ruang kelas, rumah dinas kepala sekolah, benteng penahan tanah, serta sarana pendukung lainnya yang sangat dibutuhkan saat itu,” ujarnya Selasa 23/06/2026

Menurutnya, keberadaan bantuan tersebut menjadi titik penting dalam pemulihan sektor pendidikan pascabencana. Fasilitas yang dibangun memungkinkan kegiatan belajar mengajar kembali berjalan normal dan memberikan harapan baru bagi masyarakat setempat, 23/06/2026.

Kini, lebih dari empat dekade kemudian, dinding penahan tanah yang memuat prasasti tersebut masih berdiri kokoh di lingkungan sekolah. Meski tulisan mulai memudar dimakan waktu, nilai sejarah dan pesan kemanusiaan yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan relevan hingga hari ini.

Baca Juga:  Bupati Garut Pimpin Apel Operasi Ketupat Lodaya 2025, Minta Warga Jaga Keselamatan Saat Mudik

Kepala SDN 3 Tenjonagara, Ade Awan Krisnawan, S.Pd., menegaskan bahwa prasasti tersebut memiliki nilai edukatif yang penting bagi generasi muda.

“Prasasti ini menjadi pengingat bahwa pendidikan di daerah pelosok tidak tumbuh dengan sendirinya. Ada kepedulian, kebersamaan, dan semangat gotong royong dari banyak pihak yang ikut membangun sekolah ini hingga bisa terus melayani masyarakat sampai sekarang,” katanya, 23/06/2026.

Bagi warga Kampung Sagara, dinding tersebut bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah simbol solidaritas, bukti nyata gotong royong, sekaligus warisan sejarah yang mengajarkan bahwa kepedulian yang ditanam dengan ketulusan akan terus hidup dan memberi manfaat lintas generasi. (JB/RF)

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *