SOP Tak Boleh Mengalahkan Etika: Insiden di SMPN 1 Cilawu Berakhir dengan Permintaan Maaf

Garut, Peristiwa48 Dilihat

GARUT, JABARBICARA.COM – Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) merupakan bagian penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan sekolah. Namun, pelaksanaannya tetap harus berjalan seiring dengan etika pelayanan publik agar tidak memunculkan kesalahpahaman terhadap masyarakat yang datang dengan itikad baik.

Pelajaran tersebut tergambar dari pengalaman yang dialami Ridwan Firdaus, warga Kecamatan Wanaraja yang juga Jurnalis Jabarbicara.com serta Sekretaris DPD Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia Kabupaten Garut, saat berkunjung ke SMPN 1 Cilawu, Kamis pagi.

Jbr3
Jbr4
Jbr1
Jbr yudi

Ridwan datang ke sekolah yang berlokasi di Kampung Genteng, Desa Margalaksana, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, dengan tujuan bertemu Kepala SMPN 1 Cilawu, Rochimat Supriatna, untuk melakukan konfirmasi terkait sebuah persoalan yang terjadi saat yang bersangkutan masih menjabat kepala sekolah di salah satu SMP negeri di Kecamatan Karangpawitan.

Menurut Ridwan, dirinya tiba sekitar pukul 07.45 WIB dan memarkirkan sepeda motornya di halaman depan kantor sekolah. Karena baru pertama kali datang ke sekolah tersebut, ia menuju ruang Tata Usaha (TU) untuk menyampaikan maksud kedatangannya.

Petugas TU kemudian mempersilakan dirinya menunggu dan mengantarkannya ke depan ruang kepala sekolah. Namun, Kepala Sekolah saat itu belum berada di ruangan karena diduga sedang berkeliling memantau aktivitas sekolah.

Baca Juga:  GIPS Bedah Filosofi “Garut Hebat”: Harus Hidup di Masyarakat, Kuat Secara Konsep, dan Sah Secara Hukum.

Sambil menunggu, Ridwan memanfaatkan waktu untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan jurnalistik.

Beberapa saat kemudian, seorang pria paruh baya menghampirinya dan menanyakan identitas serta tujuan kedatangannya. Ridwan mengaku telah menjelaskan bahwa dirinya berasal dari Wanaraja dan ingin bertemu Kepala Sekolah Rochimat Supriatna. Namun, pertanyaan serupa kembali diajukan beberapa kali.

Tak lama berselang, pria tersebut meminta Ridwan memindahkan sepeda motornya karena dinilai diparkir di area kendaraan roda empat. Permintaan itu langsung dipenuhi dengan memindahkan kendaraan ke area parkir roda dua.

Meski demikian, menurut Ridwan, pertanyaan mengenai identitas dan tujuan kedatangannya kembali diulang dengan nada yang dinilainya cukup tinggi.

Saat ditanya mengenai jabatannya, pria tersebut mengaku sebagai petugas keamanan sekolah dan menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukannya merupakan bagian dari Standar Operasional Prosedur (SOP).

Untuk menghindari kesalahpahaman, Ridwan kemudian meminta buku tamu agar dapat mencatat identitas, alamat, nomor telepon, serta tujuan kedatangannya secara resmi.

Namun, situasi sempat memanas ketika salah seorang petugas Tata Usaha menilai Ridwan telah berbicara dengan nada tinggi kepada petugas keamanan yang lebih tua usianya. Perdebatan pun tidak dapat dihindari hingga mengundang perhatian sejumlah guru yang kemudian datang untuk meredakan suasana.

Baca Juga:  BPBD Garut Gelar Rapat Evaluasi Siaga Darurat Bencana

Di tengah situasi tersebut, seorang guru senior mengambil peran sebagai penengah. Setelah mendengarkan penjelasan Ridwan mengenai maksud kedatangannya, suasana perlahan kembali kondusif.

Guru senior itu kemudian berulang kali menyampaikan permohonan maaf atas kesalahpahaman yang terjadi. Ia menjelaskan bahwa belakangan pihak sekolah cukup sering didatangi sejumlah oknum dengan berbagai kepentingan sehingga petugas keamanan menjadi lebih waspada dalam menerima tamu.

Mendengar penjelasan tersebut, Ridwan memilih menyikapi persoalan secara bijaksana. Sebelum meninggalkan sekolah, ia meminta agar dipertemukan dengan petugas keamanan dan petugas Tata Usaha guna menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan sehingga tidak menyisakan persoalan di kemudian hari.

“Saya hanya ingin semuanya selesai dengan baik. Saya datang untuk bertemu kepala sekolah, bukan mencari persoalan. Saya berharap setiap tamu yang datang diterima dengan baik dan dilayani secara profesional. Kalau memang ada oknum yang datang dengan tujuan tidak baik, silakan laporkan sesuai mekanisme yang berlaku. Tetapi jangan sampai semua tamu diperlakukan dengan kecurigaan yang sama,” ujar Ridwan.

Baca Juga:  Ribuan Pendukung SANTRI Hadiri Kampanye Akbar, Demokrat Optimis 02 Menang

Ridwan menegaskan dirinya telah menerima permohonan maaf yang disampaikan pihak sekolah dan menganggap peristiwa tersebut sebagai sebuah kesalahpahaman yang telah diselesaikan secara baik.

Menurutnya, tujuan utama kedatangannya tetap tidak berubah, yakni bertemu langsung dengan Kepala SMPN 1 Cilawu, Rochimat Supriatna, untuk melakukan konfirmasi terkait persoalan yang terjadi saat yang bersangkutan masih menjabat sebagai kepala sekolah di salah satu SMP negeri di Kecamatan Karangpawitan.

Peristiwa ini menjadi refleksi bahwa keamanan sekolah memang harus dijaga melalui SOP yang jelas. Namun, pelayanan kepada masyarakat juga membutuhkan komunikasi yang santun, keterbukaan, serta penghormatan kepada setiap tamu yang datang dengan itikad baik. SOP seharusnya menjadi pedoman pelayanan, bukan menimbulkan kesan intimidatif yang berpotensi melahirkan kesalahpahaman.

Hingga berita ini diterbitkan, JABARBICARA.COM masih membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi kepada Kepala SMPN 1 Cilawu, Rochimat Supriatna, maupun pihak sekolah apabila ingin memberikan penjelasan lebih lanjut terkait peristiwa tersebut, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. [Red/JB]

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *