GARUT, JABARBICARA.COM — Dinamika politik di Jawa Barat kembali menjadi perhatian. Di tengah isu perpindahan sejumlah kader Partai Demokrat ke partai lain, jajaran Demokrat Jawa Barat justru mengklaim adanya arus kader baru dari berbagai latar belakang politik yang memilih bergabung dengan partai berlambang mercy tersebut.
Kepala Badan Pembinaan Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan (BPOKK) DPD Partai Demokrat Jawa Barat, Ahmad Bajuri, menyebut fenomena tersebut sebagai bagian dari dinamika politik sekaligus bukti bahwa Demokrat masih memiliki daya tarik di tengah persaingan antarpartai.
Menurut Bajuri, keputusan sejumlah tokoh dan kader untuk bergabung dengan Demokrat tidak terlepas dari perkembangan organisasi serta figur kepemimpinan di tubuh partai, khususnya Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ketua DPD Demokrat Jawa Barat Anton Sukartono Suratto.
“Mereka bergabung karena pilihan hati serta melihat sosok Mas AHY dan Kang Anton,” ujar Bajuri, Selasa (8/9/2026).
27 DPC Jadi Basis Konsolidasi
Bajuri mengungkapkan, pihaknya telah melakukan konsolidasi ke 27 DPC Demokrat Kabupaten/Kota se-Jawa Barat sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Dari proses tersebut, kata dia, terdapat kader dari berbagai partai politik yang kemudian memilih bergabung dengan Demokrat.
“Hasil konsolidasi kami ke 27 DPC Kabupaten/Kota selama enam bulan, ternyata banyak kader partai lain yang bergabung ke Demokrat,” ungkapnya.
Tidak hanya berasal dari partai politik, Bajuri menyebut sejumlah elemen masyarakat dengan latar belakang berbeda juga tertarik masuk ke Demokrat.
Di antaranya pensiunan ASN, TNI, pengusaha, mantan bupati dan wakil bupati, hingga calon legislatif dari partai lain.
“Dalam beberapa bulan terakhir ini, kami banyak menerima kader baru dari berbagai warna partai, pensiunan ASN, TNI, pengusaha, mantan bupati/wakil bupati dan caleg dari partai lain,” katanya.
Bagi Bajuri, bertambahnya kader dengan latar belakang beragam tersebut menjadi modal penting bagi Demokrat untuk memperkuat struktur organisasi sekaligus menghadapi dinamika politik ke depan.
Kaderisasi Jadi Daya Tarik
Selain faktor kepemimpinan, Bajuri menilai sistem kaderisasi dan ruang pengembangan karier politik menjadi salah satu alasan Demokrat diminati kader dari berbagai latar belakang.
Ia mengatakan, Demokrat memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengambil peran dalam organisasi dan politik.
Sejumlah wadah strategis seperti Badan Komunikasi Strategis (Bakomstra) dan Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu), menurutnya, menjadi ruang bagi kader untuk mengembangkan kapasitas sekaligus mendapatkan pengalaman politik.
“Demokrat dikenal dengan politik santun. Ini menjadi alasan banyak politisi pindah ke partai berlambang mercy,” ujarnya.
Menurut Bajuri, politik santun bukan sekadar slogan, melainkan nilai yang harus diwujudkan dalam praktik organisasi dan hubungan antarkader.
Yang Pernah Pergi Bisa Kembali
Bajuri juga menyinggung adanya kader yang sebelumnya sempat berpindah haluan politik, namun kemudian kembali ke Demokrat.
Menurutnya, keputusan tersebut menunjukkan bahwa hubungan kader dengan partai tidak selalu berakhir ketika seseorang memilih keluar. Ada kemungkinan mereka kembali ketika menemukan kesesuaian visi, kepemimpinan dan suasana organisasi.
Ia kembali menyoroti sosok Anton Sukartono Suratto yang dinilainya memiliki pengalaman dalam membangun soliditas organisasi.
Bajuri mencontohkan kiprah Anton ketika menjabat Ketua DPC Demokrat Kabupaten Bogor. Menurut dia, Anton mampu membangun kantor yang representatif sekaligus menciptakan suasana organisasi yang solid dan kekeluargaan.
“Kekeluargaan di Demokrat bukan hanya slogan, tapi hasil dari proses. Yakni saling percaya, saling berkorban dan saling menjaga. Kalau kekeluargaan sudah terbangun, organisasi jadi kuat,” tegas Bajuri.
Bukan Sekadar Tambah Jumlah
Bajuri menegaskan, masuknya kader baru ke Demokrat tidak boleh hanya dilihat sebagai pertambahan jumlah anggota.
Lebih dari itu, menurutnya, fenomena tersebut merupakan sinyal bahwa masih ada kelompok masyarakat dan politisi yang melihat Demokrat sebagai rumah perjuangan politik.
“Ini bukan sekadar tambah jumlah. Tapi ini soal optimisme. Artinya, masih banyak orang yang percaya Demokrat bisa jadi rumah perjuangan dan kendaraan politik yang bersih, santun dan solutif,” pungkasnya.
Di tengah politik yang terus bergerak dinamis, Demokrat Jawa Barat tampaknya memilih menjadikan setiap perubahan sebagai momentum konsolidasi.
Bagi Bajuri, kader yang datang merupakan energi baru, sementara kader yang pergi tidak semestinya menjadi alasan bagi organisasi untuk kehilangan arah.
Pesannya jelas: politik boleh berpindah haluan, tetapi mesin kaderisasi dan konsolidasi partai harus tetap berjalan.(JB/RF)







