GARUT,JABARBICARA.COM – Publik mengenalnya sebagai sosok yang vokal. Suaranya lantang ketika menyampaikan kritik. Kalimat-kalimatnya tajam saat membela kepentingan masyarakat. Tak jarang, Mulyono Khadafi tampil di depan massa, memimpin orasi dengan keberanian yang membuat banyak pihak segan.
Namun, siapa sangka, di balik karakter keras dan kritis itu, tersimpan hati yang lembut dan penuh empati.
Sabtu (13/6/2026), Sekretaris Jenderal Ormas Gerakan Anak Sunda (GAS) yang juga Direktur Sekolah Sungai Cimanuk (SSC) itu menunjukkan sisi kemanusiaannya yang selama ini jarang tersorot. beberapa hari sebelumnya Ia mendatangi panti tunanetra di kawasan Jalan Cimanuk, Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut Kota.
Tak ada panggung megah. Tak ada pengeras suara. Tak ada spanduk besar bertuliskan pencitraan.
Yang ada hanyalah kebersamaan. Mulyono duduk sejajar dengan para penyandang tunanetra. Ia mengajak mereka makan bersama, menyapa satu per satu, mendengarkan cerita mereka, bahkan dengan penuh ketulusan menyuapi mereka. Tindakan sederhana, namun menghadirkan kehangatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Pemandangan itu seolah mematahkan anggapan sebagian orang yang hanya mengenalnya sebagai aktivis dengan retorika keras.
Di hadapan kaum difabel, Mulyono bukanlah sosok yang sedang berorasi. Ia hadir sebagai sesama manusia yang ingin memastikan tidak ada seorang pun merasa sendiri, terpinggirkan, atau kehilangan martabatnya hanya karena keterbatasan fisik.
“Saudara-saudara kita penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk dihargai, dicintai, dan diperlakukan setara. Jangan sampai mereka merasa ditinggalkan,” ujarnya.
Kalimat itu bukan sekadar pidato, Ia menjelma menjadi tindakan nyata, Salah seorang penghuni panti, Ihin Solihin, mengaku terharu atas perhatian yang diberikan. Baginya, yang paling membekas bukanlah makanan yang disantap bersama, melainkan rasa dihargai dan diperlakukan sebagai keluarga.
Di tengah zaman ketika banyak orang berlomba mencari sorotan kamera, aksi yang dilakukan Mulyono Khadafi justru menghadirkan pesan sederhana namun mendalam: kemanusiaan tidak selalu harus ditunjukkan melalui bantuan bernilai fantastis. Kadang, hadir untuk mendengar, menggenggam tangan, menemani makan, atau sekadar memastikan seseorang merasa berarti, sudah menjadi bentuk kasih yang luar biasa.
Barangkali inilah sisi lain Mulyono Khadafi yang selama ini luput dari perhatian publik. Bahwa di balik suara kritis yang menggema saat melawan ketidakadilan, tersimpan hati yang mudah luluh melihat penderitaan sesama.
Bahwa di balik ketegasannya menghadapi penguasa, ada kelembutan saat berhadapan dengan mereka yang membutuhkan uluran kasih.
Dan bahwa sila kelima Pancasila tentang keadilan sosial bukan hanya slogan yang diucapkan saat upacara, melainkan nilai yang harus hidup dalam tindakan sehari-hari ,yang di praktekan sang orator ulung .
Sebab pada akhirnya, ukuran kemanusiaan seseorang bukan hanya dilihat dari seberapa keras ia bersuara ketika membela rakyat, tetapi juga seberapa tulus ia memperlakukan mereka yang tak memiliki daya untuk bersuara.
Mungkin, dari ruang sederhana di panti tunanetra itu, publik kembali diingatkan bahwa manusia terbaik bukanlah mereka yang paling banyak dipuji, melainkan mereka yang diam-diam memilih untuk peduli. (JB/RF)







