MIRIS! Hanya Karena Satu Nasi Box, Suasana Setda Garut Mendadak Gaduh, Aktivis Soroti Pentingnya Pendekatan Humanis

Garut, Peristiwa396 Dilihat

GARUT, JABARBICARA.COM – Sebuah peristiwa yang menyita perhatian sejumlah aktivis dan awak media terjadi di lingkungan Sekretariat Daerah (Setda) Pemerintah Kabupaten Garut, Rabu (24/6/2026). Bukan karena aksi demonstrasi ataupun unjuk rasa, suasana sempat menjadi ramai setelah muncul informasi mengenai seorang warga yang disebut mendapatkan perlakuan kurang nyaman usai mengambil satu bungkus nasi box di lingkungan perkantoran tersebut.

Peristiwa itu kemudian memicu reaksi sejumlah aktivis yang menilai persoalan tersebut seharusnya dapat diselesaikan dengan pendekatan yang lebih mengedepankan aspek kemanusiaan.

Jbr3
Jbr4
Jbr1
Jbr yudi

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, warga berinisial (H), yang selama ini dikenal oleh banyak kalangan aktivis, LSM, organisasi kemasyarakatan, maupun insan pers di Garut, mengaku mengambil satu bungkus nasi box karena kondisi lapar dan tidak memiliki uang untuk membeli makanan.

Baca Juga:  GEMA DESA Bongkar Skandal “Keluarga G1”: Inisial H Diduga Otak Monopoli Proyek Miliaran di Garut

“Saya seharian belum makan dan tidak memiliki uang untuk membeli makanan,” ujar (H) saat berbincang dengan sejumlah awak media.

Menurut pengakuannya, setelah mengambil nasi box tersebut dirinya sempat merasa mendapat teguran dan perlakuan yang membuatnya tidak nyaman. Informasi itu kemudian sampai kepada sejumlah aktivis yang selama ini mengenal sosok (H).

Diketahui, (H) bukanlah sosok asing di lingkungan Pemerintah Kabupaten Garut. Pada masanya, pria paruh baya tersebut dikenal sebagai aktivis yang cukup kritis dalam menyampaikan aspirasi masyarakat terhadap berbagai kebijakan pemerintah daerah.

Namun seiring berjalannya waktu, kondisi kesehatannya disebut mengalami penurunan. Beberapa rekan yang mengenalnya mengaku jarang lagi melihat aktivitasnya di lingkungan Pemda Garut dalam beberapa tahun terakhir.

“Kondisinya memang terlihat berbeda dibanding dulu. Saat bertemu kembali, terlihat kurang sehat dan berjalan dengan kondisi fisik yang lemah,” ungkap salah seorang rekannya.

Baca Juga:  Ledakan Amunisi di Garut Menewaskan 13 Orang, Komisi I DPR RI Minta Pengamanan Pemusnahan Amunisi Diperketat

Keprihatinan terhadap kejadian tersebut mendorong Aktivis LSM Garut Bersatu, Budi Juanda, mendatangi lingkungan Setda Garut untuk meminta penjelasan sekaligus menyampaikan permohonan maaf atas tindakan sahabatnya tersebut.

Dalam keterangannya, Budi menilai persoalan itu seharusnya dapat diselesaikan secara lebih bijaksana tanpa menimbulkan kegaduhan.

“Kalau memang ada kesalahan, tentu bisa diselesaikan dengan cara yang baik. Yang menjadi perhatian kami adalah aspek kemanusiaannya. Apalagi yang bersangkutan sedang mengalami kesulitan ekonomi dan kondisi kesehatan yang kurang baik,” ujarnya.

Budi menegaskan bahwa kejadian tersebut akan menjadi bahan evaluasi bersama agar pelayanan dan pendekatan kepada masyarakat di lingkungan pemerintahan semakin mengedepankan nilai-nilai humanis.

Menurutnya, peristiwa ini tidak semata berbicara tentang satu bungkus nasi box, tetapi juga menjadi refleksi tentang pentingnya empati terhadap warga yang sedang berada dalam kondisi sulit.

Baca Juga:  ​Rampungkan Sidang GTRA, Bupati Garut dan Tim Hukum Kawal Pembagian SHM Eks PT Condong untuk 1.059 Penerima Manfaat

Peristiwa tersebut pun memunculkan beragam respons dari kalangan aktivis dan masyarakat yang mengenal sosok (H). Banyak yang berharap kejadian serupa tidak terulang dan seluruh pihak dapat mengedepankan komunikasi yang baik dalam menyelesaikan persoalan.

Pada akhirnya, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di tengah penegakan aturan dan prosedur, nilai kemanusiaan tetap harus menjadi pertimbangan utama. Sebab terkadang, yang paling dibutuhkan seseorang bukan sekadar penilaian atas kesalahannya, melainkan uluran empati atas kondisi yang sedang dihadapinya.

Catatan Redaksi: Berita ini disusun berdasarkan keterangan narasumber yang terlibat dan informasi yang beredar di media sosial. Pihak-pihak yang disebut dalam peristiwa ini memiliki hak memberikan klarifikasi atau tanggapan untuk menjaga keberimbangan informasi sesuai kaidah jurnalistik dan Kode Etik Jurnalistik.(JB/RF)

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *