GARUT, JABARBICARA.COM – Inovasi pelayanan pemerintahan tidak selalu harus dimulai dari program besar. Dari ruang kerja seorang aparatur sipil negara (ASN) di Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, lahir gagasan digital yang mencoba menjawab kebutuhan pelayanan, koordinasi pemerintahan hingga sektor ketahanan pangan.
Adalah Indra Arica, S.E., M.M., Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Desa (Kasi PMD) Kecamatan Pangatikan, yang dalam kurun waktu sekitar satu bulan berhasil mengembangkan tiga aplikasi berbasis web.
Ketiga inovasi tersebut yakni SIMPAN-PMD, SINERGITAS-PMD, dan SIAP-DKP.
Bagi Indra, inovasi bukan sekadar tentang teknologi. Lebih dari itu, inovasi merupakan bagian dari upaya seorang ASN untuk mencari cara yang lebih efektif dalam menjalankan tugas dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Dari Pangatikan untuk Garut” menjadi semangat yang ingin dibangun melalui karya tersebut.
ASN Tidak Hanya Menjalankan Rutinitas
Di tengah tuntutan transformasi digital pemerintahan, aparatur dituntut tidak hanya mampu menjalankan rutinitas administratif, tetapi juga memiliki kemampuan membaca persoalan dan mencari solusi.
Indra memilih merespons tuntutan tersebut dengan mengembangkan sejumlah platform digital yang disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaannya.
Menariknya, Indra tidak berlatar belakang sebagai programmer profesional. Ia mengaku kemampuan di bidang teknologi informasi diperoleh melalui proses belajar secara otodidak.
Keterbatasan tersebut tidak membuatnya berhenti mencoba.
Ia belajar, mengembangkan gagasan, melakukan penyempurnaan, sekaligus menggandeng pihak lain yang memiliki kemampuan di bidang teknologi informasi.
“Saya sadar basic pendidikan dan kemampuan masih kalah jauh dari para ahlinya di bidang IT karena selama ini belajar secara otodidak. Syukur alhamdulillah masih ada orang-orang baik yang mengulurkan tangan untuk membantu menyelesaikan tiga inovasi ini,” ujar Indra.
SIMPAN-PMD untuk Mendekatkan Pelayanan
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah SIMPAN-PMD, singkatan dari Sistem Informasi Manajemen Pangatikan–Pemberdayaan Masyarakat Desa.
Platform tersebut diarahkan untuk mendukung pelayanan dan penyampaian informasi pemerintahan Kecamatan Pangatikan serta delapan desa yang berada di wilayahnya.
Gagasan yang dibawa cukup sederhana, yakni memanfaatkan teknologi digital agar informasi pemerintahan dan pelayanan dapat lebih mudah dijangkau masyarakat.
Dengan platform tersebut, ruang digital diharapkan dapat menjadi penghubung antara pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan masyarakat.
Namun, keberhasilan inovasi tersebut nantinya tetap akan sangat bergantung pada implementasi, pemanfaatan dan pengembangan secara berkelanjutan.
SINERGITAS-PMD Dukung Kinerja Aparatur
Inovasi kedua adalah SINERGITAS-PMD.
Platform ini dikembangkan dengan fokus mendukung pelaksanaan tugas Kasi PMD Kecamatan Pangatikan dalam menangani berbagai kebutuhan koordinasi dan pelayanan terhadap delapan desa.
Konsep tersebut menempatkan teknologi bukan hanya sebagai media informasi bagi masyarakat, tetapi juga sebagai instrumen pendukung kerja aparatur.
Digitalisasi diharapkan dapat membantu pekerjaan menjadi lebih terorganisir, terdokumentasi dan terintegrasi.
Bagi Indra, transformasi digital semestinya memberikan manfaat pada dua sisi sekaligus: masyarakat memperoleh akses informasi yang lebih mudah, sementara aparatur memiliki instrumen kerja yang dapat membantu meningkatkan efektivitas pelayanan.
SIAP-DKP Menyentuh Sektor Ketahanan Pangan
Tidak berhenti pada kebutuhan di tingkat kecamatan, Indra juga mengembangkan SIAP-DKP, atau Sistem Informasi & Aplikasi Pangan.
Inovasi tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan di sektor ketahanan pangan.
Pilihan sektor pangan dinilai memiliki relevansi yang luas karena ketahanan pangan berkaitan dengan kehidupan masyarakat, kesejahteraan dan keberlanjutan pembangunan.
Melalui SIAP-DKP, inovasi digital dari Pangatikan tersebut diarahkan untuk memiliki cakupan manfaat yang lebih luas.
Semangat yang diusung dirangkum dalam slogan:
“PANGAN KUAT – MASYARAKAT SEHAT – GARUT HEBAT.”
Tidak Menunggu Tepuk Tangan
Bagi Indra, karya yang dibuatnya bukan untuk mengejar popularitas ataupun sekadar mendapatkan apresiasi.
Ia mengatakan, seorang ASN seharusnya dapat menunjukkan kualitas kerja melalui hasil nyata.
“Saya akan terus bekerja, berkarya dan membuat inovasi di mana pun saya ditempatkan, bukan untuk mendapatkan perhatian atau tepuk tangan dari pimpinan, apalagi mencari sensasi. Ini pembuktian kualitas kerja pribadi yang selalu menggunakan otak kanan dan otak kiri tanpa harus menjilat,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan cara pandangnya terhadap pekerjaan.
Ia ingin menjadikan karya sebagai ukuran, bukan sekadar narasi.
Sebab bagi Indra, inovasi yang hanya berhenti sebagai gagasan tidak akan memberikan perubahan apabila tidak diwujudkan dalam bentuk yang dapat digunakan.
Dari Pangatikan untuk Garut
Tiga aplikasi yang dikembangkan dalam waktu relatif singkat tersebut menunjukkan bahwa ruang inovasi bagi ASN sebenarnya terbuka luas.
Kuncinya bukan semata-mata kemampuan teknologi, melainkan keberanian membaca kebutuhan dan kemauan untuk belajar.
Indra menyadari bahwa ketiga inovasi tersebut masih memiliki ruang untuk dikembangkan. Karena itu, tahap berikutnya justru menjadi bagian penting: memastikan aplikasi benar-benar digunakan, memberikan manfaat dan dapat disempurnakan sesuai kebutuhan.
Sebab ukuran keberhasilan inovasi bukan hanya ketika aplikasi selesai dibuat.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah masyarakat terbantu, apakah aparatur menjadi lebih efektif dan apakah pelayanan pemerintahan benar-benar mengalami peningkatan.
Inovasi sebagai Budaya Kerja ASN
Apa yang dilakukan Indra Arica pada akhirnya membawa pesan yang lebih luas tentang budaya kerja ASN.
Aparatur pemerintah tidak harus selalu menunggu program, instruksi atau anggaran untuk mulai mencari solusi atas persoalan yang ditemui dalam pekerjaan.
Bukan berarti inovasi dapat mengabaikan aturan, tata kelola, keamanan data, anggaran dan mekanisme pemerintahan. Sebaliknya, setiap inovasi tetap harus ditempatkan dalam koridor regulasi dan tata kelola yang baik.
Namun, inisiatif untuk menemukan gagasan dan memperbaiki cara kerja dapat dimulai dari mana saja.
Termasuk dari meja kerja seorang ASN di Kecamatan Pangatikan.
SIMPAN-PMD.
SINERGITAS-PMD.
SIAP-DKP.
Tiga inovasi tersebut menjadi catatan awal perjalanan Indra Arica dalam membuktikan bahwa ASN tidak hanya dituntut menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga memiliki ruang untuk berkarya, berinovasi dan menghadirkan solusi.
Dari Pangatikan, semangat itu diarahkan untuk satu tujuan yang lebih besar: memberikan kontribusi bagi pelayanan dan kemajuan Garut.(JB/RF)










