“Kulit yang Mengelupas dan Hati Nurani yang Terlepas: Tragedi Ayah-Anak di Cidamar”

Cianjur, Kesehatan264 Dilihat

Oleh: Rudy UGT (Ketua OKP BK-RI)

CIANJUR, JABARBICARA.COM– Di balik indahnya panorama Cianjur Selatan, tepatnya di Kampung Cipakis, Desa Cidamar, tersimpan sebuah nestapa yang mengoyak nalar kemanusiaan kita. Ade (46) dan putrinya, Lusi (20), bukan sekadar sedang sakit. Mereka sedang “sekarat” di tengah kepungan sistem yang mati rasa. Kulit mereka melepuh, bernanah, dan menahun—sebuah penderitaan fisik yang tak terbayangkan. Namun, yang lebih menyakitkan dari luka itu adalah dugaan hadirnya “tangan-tangan kotor” oknum birokrasi yang tega memeras mereka di tengah jerit kesakitan.

Idwan fitri
Dede fitri

 

Korupsi di Atas Luka: Pungli yang Tak Beradab

Informasi yang kami terima sangat menyentak: keluarga miskin ini diduga dimintai uang sebesar Rp1.000.000 hanya untuk mengurus kartu BPJS. Ini bukan sekadar pungutan liar biasa; ini adalah kejahatan kemanusiaan. Bagaimana mungkin seorang aparatur, yang digaji dari pajak rakyat, justru menjadi “predator” bagi warganya yang sedang berjuang antara hidup dan mati?
Jika benar ada oknum aparatur atau pihak pihak lain yang mematok harga untuk hak dasar kesehatan, maka moralitas kepemimpinan di Cidaun telah runtuh ke titik nadir. Ini adalah penghinaan telak terhadap martabat manusia.

Baca Juga:  Tragedi Token Habis Saat Pasien Bertaruh Nyawa, Eldy Supriadi: Ini Bentuk Kelalaian Fatal yang Melanggar Undang-Undang

 

Jerat Hukum dan Amanat Konstitusi

Kami mengingatkan seluruh jajaran pemerintah, dari tingkat desa hingga kabupaten, bahwa mengabaikan warga yang sakit parah adalah pelanggaran nyata terhadap UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Negara memiliki kewajiban mutlak untuk hadir.
Bagi para oknum pemeras, jangan merasa aman di balik kursi jabatan. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) telah menanti dengan ancaman pidana maksimal 20 tahun dan denda hingga Rp1 miliar.

Begitu pula Pasal 423 KUHP tentang penyalahgunaan kekuasaan. Kami di BK-RI tidak akan tinggal diam hingga para “lintah darat” berbaju dinas ini mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum.

Baca Juga:  Ini Tips Makan Sehat Saat Lebaran, Simak Apa saja!!

 

Menagih Hati Nurani Pemimpin

Kami memanggil Bupati Cianjur , Kepala Dinas Sosial, kepala Dinas Kesehatan, Jangan hanya duduk di balik meja nyaman di pusat kota! Turunlah ke Cipakis. Lihatlah Lusi, gadis muda yang seharusnya memiliki masa depan dan Ade Ayahnya yang berjuang melawan penyakit menahun , kini harus terkubur dalam rasa sakit karena birokrasi yang berbelit dan korup.

Kepada Pemerintah Provinsi Jabar , Pemerintah Pusat dan para Wakil Rakyat, DPRD Cianjur, Provinsi Jabar dan DPR RI, kami mendesak investigasi menyeluruh atas dugaan maladministrasi dan praktik pungli di wilayah Cidaun. Jangan biarkan rakyat kecil menganggap bahwa untuk sehat, mereka harus “membeli” haknya dari oknum nakal.

Baca Juga:  Libido Lelaki Bandung di Bawah Ancaman Timbal?

 

Pemimpin Adalah Pelayan, Bukan Penindas

Dalam setiap ajaran agama, pemimpin adalah pelayan rakyat. Setiap tetes nanah yang jatuh dari tubuh Pak Ade dan Lusi adalah saksi bisu atas kelalaian pemimpinnya. Jangan sampai air mata mereka menjadi kutukan yang memberatkan langkah para pejabat di akhirat kelak.

 

Negara tidak boleh kalah oleh oknum.

Negara tidak boleh absen saat rakyatnya melepuh. Kami menuntut tindakan nyata, pengobatan gratis tanpa syarat, dan pembersihan “sampah” birokrasi di Cianjur Selatan sekarang juga!. (JB/RF)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *