DARI JERIKEN KE JARINGAN PIPA: SOROTAN MEDIA AKHIRNYA BERBUAH RESPONS, PEMKAB GARUT TURUN TANGAN ATASI KRISIS AIR SDN 1 MARGAMULYA

Garut, Pendidikan94 Dilihat

GARUT, JABARBICARA.COM – Perjuangan siswa SD Negeri 1 Margamulya, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, yang harus mengangkut air bersih sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar akhirnya mendapat respons pemerintah daerah.

Persoalan yang semula menjadi potret miris kehidupan pendidikan di pelosok Garut itu kini mulai menemukan jalan keluar setelah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Garut bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut menyalurkan 50 batang pipa untuk mengalirkan air dari sumber mata air menuju sekolah.

Idwan HUTRI

Respons tersebut muncul setelah kondisi sulit yang dialami siswa dan guru SDN 1 Margamulya mendapat sorotan media.

Pada 31 Juli 2026, JABARBICARA.COM memberitakan kondisi sekolah tersebut melalui laporan berjudul “MIRIS! Anak-Anak SD di Cisompet Berjuang Angkut Air Bersih Sebelum Masuk Kelas.”

Dalam pemberitaan itu terungkap, setiap musim kemarau siswa bersama guru harus bergotong royong mengambil air menggunakan jeriken, ember hingga botol air mineral. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan mendasar sekolah, mulai dari mencuci tangan, membersihkan ruang kelas, kebutuhan toilet hingga menjaga kebersihan lingkungan sekolah.

Baca Juga:  Jelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia Pemkab Garut kukuhkan Paskibraka tingkat Kabupaten Garut Tahun 2025

Guru SDN 1 Margamulya, Heri Herdiana, saat itu mengungkapkan bahwa persoalan tersebut bukan kejadian sesaat. Setiap musim kemarau, warga sekolah harus kembali melakukan aktivitas mengangkut air karena keterbatasan sumber air.

Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian karena siswa yang seharusnya memulai hari dengan belajar justru harus mengeluarkan tenaga untuk memenuhi kebutuhan air sekolah.

Pemberitaan tersebut sekaligus menyuarakan harapan agar pemerintah daerah maupun pihak terkait segera menghadirkan solusi permanen, baik melalui jaringan perpipaan, sumur bor, tandon penampungan maupun distribusi air bersih.

RESPONS PEMERINTAH DAERAH

Perhatian itu akhirnya berbuah langkah konkret.

Pada 22 Agustus 2026, GarutNewsToday.id melaporkan bahwa Pemerintah Kabupaten Garut melalui Dinas PUPR bersama BPBD telah memberikan bantuan 50 batang pipa untuk membantu mengalirkan sumber air menuju SDN 1 Margamulya.

Menurut keterangan Guru SDN 1 Margamulya, Heri Herdiana, bantuan tersebut sangat berarti bagi warga sekolah.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Dinas PUPR dan BPBD Kabupaten Garut karena setelah jaringan perpipaan terpasang, siswa tidak lagi harus setiap hari mengangkut air untuk memenuhi kebutuhan sekolah.

Baca Juga:  “42 Korwil Pendidikan Garut Kembali Aktif, Hasil Evaluasi Masih Misteri”

Sumber air yang dimanfaatkan berasal dari mata air milik warga bernama Pak Lili. Air dari sumber tersebut kemudian dialirkan melalui jaringan pipa menuju tempat penampungan di lingkungan sekolah.

Yang lebih menggembirakan, pemasangan jaringan tersebut disebut telah selesai dan air sudah mengalir hingga ke sekolah.

“Pemasangannya sudah selesai dan air pun telah mengalir sampai ke sekolah. Ini sangat membantu kami dan anak-anak,” kata Heri sebagaimana diberitakan GarutNewsToday.id.

DARI SOROTAN MENJADI SOLUSI

Perubahan kondisi SDN 1 Margamulya memperlihatkan bagaimana persoalan kebutuhan dasar di lingkungan pendidikan dapat memperoleh perhatian ketika fakta di lapangan disampaikan secara terbuka kepada publik.

Sebelumnya, jeriken dan ember menjadi bagian dari rutinitas sebagian siswa sebelum masuk kelas. Kini, jaringan pipa diharapkan mengubah rutinitas tersebut: siswa datang ke sekolah untuk belajar, bukan lagi mengangkut air.

Bagi dunia pendidikan, persoalan ini sebenarnya bukan sekadar mengenai ketersediaan air. Air bersih berkaitan langsung dengan kebersihan sekolah, sanitasi, kesehatan serta kenyamanan proses pembelajaran.

Karena itu, langkah Dinas PUPR dan BPBD Garut patut diapresiasi sebagai bentuk respons terhadap kebutuhan nyata masyarakat, khususnya peserta didik di wilayah yang menghadapi keterbatasan akses air bersih.

Baca Juga:  Paska dilaporkan Terkait Dugaan Penggelapan Dana PIP di SDN Sukanagara 2 Tahun Anggaran 2020-2024, Iwan Kartiwan Kades Sukanagara Turun Tangan

Namun demikian, perhatian tidak semestinya berhenti setelah air mengalir.

Pemerintah daerah perlu memastikan jaringan yang telah dibangun dapat berfungsi secara berkelanjutan, sumber air tetap terjaga, serta kebutuhan air sekolah dapat terpenuhi tidak hanya ketika musim kemarau telah berlalu.

Sebab, pendidikan yang layak bukan hanya berbicara tentang ruang kelas, guru dan buku. Air bersih juga merupakan bagian penting dari lingkungan belajar yang sehat dan manusiawi.

Kisah SDN 1 Margamulya akhirnya menghadirkan satu pelajaran penting: ketika persoalan warga didengar, disorot dan direspons dengan tindakan nyata, jeriken yang dahulu dipikul anak-anak dapat berubah menjadi pipa yang mengalirkan harapan.

Dari Cisompet, sebuah pesan sederhana kembali mengemuka: pembangunan bukan hanya tentang membangun yang terlihat, tetapi juga memastikan kebutuhan paling mendasar benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Dari jeriken ke pipa. Dari keluhan menjadi tindakan. Dari perjuangan menuju perubahan.(JB/RF)

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *