“Pancasakti Mengguncang Garut!” Di Balik Sukses Workshop PAUD Inklusi, Ada Sinergi Besar yang Menyatukan Akademisi, IGRA, Kemenag dan Media

Garut, Jabar, Pendidikan333 Dilihat

GARUT, JABARBICARA.COM – Sebuah kegiatan besar tidak lahir hanya dari podium megah, pemateri hebat, atau ramainya peserta. Di balik itu, ada kerja panjang, komunikasi tanpa henti, dan kekuatan kolaborasi yang sering kali tak terlihat. Gambaran itu tampak jelas dalam kesuksesan Workshop Implementasi Model-Model Kontekstual dan Inovatif untuk Meningkatkan Kemampuan Belajar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) pada PAUD Inklusi (ASYIK, ATIK & SIUUL) yang digelar mahasiswa Pascasarjana Universitas Pancasakti Bekasi di Villa Situ Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Sabtu (16/5/2026).

Workshop yang sebelumnya mendapat perhatian luas karena menghadirkan pemateri kompeten dan berkelas itu ternyata menyimpan kisah besar tentang sinergitas lintas sektoral yang menjadi fondasi utama keberhasilan acara.

Jbr3
Jbr4
Jbr1
Jbr yudi

Bagi Kabupaten Garut yang memiliki bentang wilayah luas dengan kondisi geografis beragam, menghadirkan peserta dari berbagai kecamatan bukan pekerjaan ringan. Dari wilayah Garut Selatan, Tengah, Timur hingga Utara, para penggiat pendidikan tingkat Raudhatul Athfal (RA) datang berkumpul di Situ Bagendit dalam satu ruang pembelajaran bersama.
Padahal, kegiatan dilaksanakan di waktu libur akhir pekan, momentum yang lazim digunakan masyarakat untuk beristirahat bersama keluarga. Namun semangat para guru untuk menuntut ilmu justru menjadi energi besar yang menghidupkan workshop tersebut.

Baca Juga:  Pj. Bupati Garut Apresiasi Kehadiran Fedas Vol.3 di Momen Liburan Tahun Baru

Keberhasilan menghadirkan peserta dari berbagai wilayah itu tak lepas dari kuatnya kolaborasi antara tim mahasiswa Pascasarjana Universitas Pancasakti Bekasi dengan Satuan PAUD dan RA di bawah naungan Organisasi IGRA Kabupaten Garut.

Soliditas panitia menjadi salah satu kunci penting. Tim mahasiswa yang terdiri dari Siti Roimah, M.Pd, Yunita, S.Pd.I, Siti Khuwaida Z.A., S.Ag, Cindy Maurellia, S.Pd, dan Resi Lovita, S.E., S.Pd menunjukkan kekompakan sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.


Namun di balik koordinasi yang berjalan rapi, nama Siti Khuwaida Z.A., S.Ag, mahasiswa Pascasarjana asal Garut, menjadi salah satu figur yang disebut memiliki kontribusi besar.
Selain tampil sebagai MC workshop, kemampuan komunikasi dan jejaring sosialnya menjadi jembatan penting dalam membangun kolaborasi dengan berbagai unsur pendidikan di Garut.

Didukung penuh sumber daya dari organisasi IGRA Kabupaten Garut, koordinasi lintas wilayah berjalan lebih efektif. Bahkan keterlibatan sejumlah pengurus Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA) tingkat kecamatan turut memperkuat mobilisasi peserta.
Salah satunya datang dari Kecamatan Wanaraja, di mana Hilda, pengurus KKRA yang aktif di IGRA Kabupaten Garut, disebut berperan aktif membantu koordinasi sekaligus menjadi penghubung komunikasi antara tim mahasiswa dengan sejumlah jurnalis lokal.
Peran tersebut menjadikan workshop tidak hanya sukses secara pelaksanaan, tetapi juga memiliki gaung publikasi yang luas.

Baca Juga:  Pj Bupati Garut Resmikan SDN 4 Barusari Hasil Renovasi Yayasan Bakti Barito beserta Kolega

Momentum kegiatan semakin kuat ketika workshop dibuka langsung oleh Kasi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Garut, Dr. H. Surya Mulyana, M.Pd, mewakili Kepala Kemenag Garut di tengah kesibukan agenda kedinasannya.

Kehadiran Surya memberi makna lebih bagi kegiatan tersebut. Selain memperkuat legitimasi acara, kehadirannya menjadi simbol dukungan pemerintah terhadap pendidikan inklusif yang memberi ruang bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Tak hanya itu, kehadiran pejabat Kemenag juga menjadi magnet perhatian media lokal. Workshop mendapat sorotan cukup besar dari para jurnalis yang tergabung dalam jejaring DPD Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Kabupaten Garut.

Bahkan, Dewan Pembina DPD IWOI Kabupaten Garut, Solihin Afsor, hadir langsung di lokasi dan memberikan apresiasi terhadap langkah para akademisi Universitas Pancasakti Bekasi.
Menurut Solihin, tema workshop yang fokus terhadap pendidikan inklusif dan anak berkebutuhan khusus menjadi nilai penting yang patut mendapat perhatian lebih luas.
“Kegiatan seperti ini sangat baik karena menyentuh pendidikan inklusi, terutama bagi anak berkebutuhan khusus. Ini menunjukkan kepedulian nyata dunia akademik terhadap masa depan pendidikan,” ujarnya.

Baca Juga:  Harapan Warga Kampung Santeum Terjawab: Jalan Rusak Segera Dibangun Rabat Beton Berkat Perjuangan Bersama

Di sisi lain, kegiatan di Villa Situ Bagendit juga dinilai membawa dampak positif bagi promosi wisata daerah. Kehadiran peserta dan akademisi dari berbagai wilayah secara tidak langsung ikut memperkenalkan objek wisata Situ Bagendit di Kecamatan Banyuresmi sebagai salah satu kebanggaan Kabupaten Garut.

Kesuksesan workshop juga tidak dapat dipisahkan dari peran Assoc. Prof. Dr. Sri Watini, M.Pd, Guru Besar sekaligus Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Pancasakti Bekasi yang menjadi dosen pembimbing mahasiswa Pascasarjana.

Dikenal memiliki karakter hangat, energik, dan dekat dengan mahasiswa, Sri Watini disebut menjadi sumber motivasi penting bagi tim pelaksana.
Kedekatan itu bahkan tergambar sederhana melalui status WhatsApp Siti Khuwaida yang menulis:
“Terima kasih dosen pembimbing yang selalu ceria.”
Workshop juga semakin berbobot dengan hadirnya langsung Ketua Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) MPD Bekasi, Dr. Wawan Hermawansyah, S.Kom., M.Si, yang memperkuat semangat para guru melalui pesan tentang pentingnya pendidikan karakter sejak usia dini.

Pada akhirnya, keberhasilan workshop ini menjadi bukti bahwa pendidikan yang kuat tidak lahir dari satu tangan, melainkan dari kolaborasi banyak pihak yang bergerak bersama demi masa depan generasi bangsa. (JB/RF)

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *